Kena PHK,Dirikan Perpustakaan Anak Bangsa

Posted: Desember 29, 2010 in Sosok

Dialah sosok dibalik berdirinya Perpustakaan Anak Bangsa. Berkat kerja keras dan semangatnya untuk berbagi dengan sesama,laki-laki ini berusaha keras untuk mempertahankan keberadaan perpustakaan yang didirikan saat berusia 18 tahun ini. Tidak mudah memang bagi pria bernama lengka Eko Cahyono ini untuk mempertahankan Perpustakaan Anak Bangsa agar tetap buka. Apalagi masalah yang dihadapinya tidak mudah yakni belum memiliki tempat permanen sehingga tidak mengherankan jika perpustakaannya sering pindah-pindah.

Ketertarikan lelaki yang biasa disapa Eko ini dimulai ditahun 1998 saat jumlah koleksi bacaannya semakin banyak. “Aku mempunyai hobi baca dan waktu itu aku memiliki banyak tumpukan koran dan majalah. Dari sinilah aku berniat untuk mendirikan perpustakaan,”ucap lajang kelahiran 1980 ini. Uniknya,selain alasan tersebut Eko pun mengakui bahwa sebenarnya motif utama untuk mendirikan perpustakaan ini sebagai pelarian semata. “Saat itu aku kerja sebagai buruh pabrik tapi ditahun 1998 kena PHK sehingga nggak ada kerjaan lagi,”tambahnya.

Berangkat dari hal itulah maka anak bungsu dari tiga bersaudara ini menyulap rumahnya yang sederhana menjadi perpustakaan. Bahkan untuk menarik minat warga sekitarnya Eko juga menyediakan alat-alat permainan. Alhasil,banyak warga yang berdatangan ke rumahnya walaupun hanya untuk bermain. “Karena banyak yang datang maka harus ngantri. Biasanya pas ngantri inilah mereka membaca,”tutur putra pasangan Supeno dan Ponisan ini. Namun,hal ini justru menuai masalah baru karena orangtua Eko justru keberatan karena banyaknya orang yang datang ke rumah. Maka,Ekopun memutuskan pindah dengan mengontrak rumah sendiri.

Hebatnya lagi laki-laki yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar ini membiayai sendiri seluruh keperluan perpustakaannya. Termasuk untuk biaya sewa rumah dan keperluan operasional Perpustakaan Anak Bangsa. Padahal ia sendiri hanyalah pekerja serabutan. “Aku sering diminta untuk jaga stan ketika ada pameran buku. Dari upah inilah aku membiayai kehidupanku termasuk untuk perpus,”jelas pria yang hobi berolahraga ini. Eko pun menjelaskan untuk biaya operasional perpustakaannya sendiri bisa menghabiskan sepuluh ribu per hari.

Berkat usaha mulianya dalam mengelola Perpustakaan Anak Bangsa yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun inilah akhirnya Eko memetik hasilnya. Perpustakaannya sering diikutkan dalam perlombaan dan menang. Selain itu,ia juga pernah diundang ke stasiun televisi seperti menjadi bintang tamu di acara Kick Andy. Bahkan di kompetisi yang diadakan acara ini pula ia sukses menjadi juara dua Kick Andy Heroes 2010. “Gara-gara setelah tampil di Kick Andy ponselku sampai rusak karena menerima 500-an sms dalam sehari,”kenang juara dua lomba penulisan kisah inspiratif 2010 oleh Forum Lingkar Pena (FLP) UM ini. Terakhir,Eko bahkan menerima Piala Nugra Jasadharma Pustaloka 2010 yang diadakan Perpusnas RI Jakarta.

Tidak hanya itu saja,selama mengelola Perpustakaan Anak Bangsa Eko juga memperoleh banyak pengalaman menarik dan penuh inspirasi. Meskipun begitu,setidaknya ada satu peristiwa yang sangat membekas dihatinya. Ketika itu ia diminta mengambil buku sumbangan di Turen oleh seorang donatur. “Nyari rumahnya benar-benar susah karena nggak ada alamatnya,”kata pemenang Mutiara Pendidikan 2010 ini. Ternyata selain buku ,sang donatur yang bernama Lena itu juga turut menyumbangkan mukena. “Mukena inilah yang akhirnya diambil tetanggaku. Sejak punya mukena dia rajin sholat dan ke masjid karena sebelumnya dia nggak punya mukena. Kalaupun sholat itupun pinjam sarung suaminya,”tambahnya.

Selain pengalaman diatas,Ekopun memperoleh hikmah lain selama ia mengurus Perpustakaan Anak Bangsa. Kini,ia memiliki banyak teman yang tersebar di daerah Malang. Bahkan tak jarang teman-temannya tersebut memberikan dukungan dan bantuan terhadap kiprah Eko. Walaupun tak jarang juga mereka mengkritik Eko yang bak selebritis karena seringnya ia menjadi pemberitaan di media cetak. Tak hanya itu saja tak sedikit pula orang yang mencibirnya. Terkait hal ini,Ekopun terkesan santai dan tidak menanggapinya secara serius. Baginya,seringnya ia muncul di media cetak bukanlah keinginannya

Berbagai pengalaman menarik dan penuh hikmah yang dialami nya membuat Eko terinspirasi untuk membuat sebuah buku. Bahkan ia juga bermimpi membuat autobiografi tentang kehidupannya. ‘Saat ini sedang dalam proses menulis dan sudah ada penerbit yang menawari,”urai laki-laki yang turut membantu orangtuanya berjualan ini. Meskipun secara ekonomi kehidupannya pas-pasan namun Eko tetap bersyukur atas kehidupannya termasuk banyaknya teman yang dimilikinya. “Aku merasa orang yang paling beruntung didunia karena mempunyai banyak teman dan itu sebuah berkah,”pungkasnya. (dewi sartika)

Biodata

Posted: Desember 29, 2010 in Biodataku

 

 

Nama : Dewi Sartika

NIM : 07220071

No Hp : 085755871353

Lulus SMP,Surat Nikah Keluar

Posted: Desember 29, 2010 in Edukasi

Meski berada di daerah terpencil namun bagi warga Suku Tengger Ngadas, pendidikan merupakan salah satu prioritas penting.Tidak sedikit warga Ngadas yang menimba ilmu nun jauh di Kota Malang maupun sekitarnya.Baik dibangku kuliah dan SLTA.Sayangnya,keinginan sebagian warga Ngadas untuk meningkatkan pengetahuan terkadang terhalang oleh minimnya fasilitas pendidikan yang ada di desa tersebut.

Hal tersebut diakui oleh seorang pengajar SDN I Ngadas,Wiji Amani.”Untuk sekolah dasar sendir ada 2,di Ngadas dan Jarak Ijo,sedangkan SLTP baru dibuka 2007 lalu,”terang perempuan yang telah menjadi guru Bantu selama 4 tahun tersebut.Namun,ketika ditanya tentang keberadaan SLTA,ia mengaku sampai sekarang masih belum ada karena tidak mencukupi.Akibatnya,anak-anak Ngadas yang ingin melanjutkan ke SLTA harus keluar dari desa Ngadas.Umumnya mereka melanjutkan pendidikan ke daerah sekitar seperti Poncokusumo dan Tumpang.

Sedangkan untuk perlengkapan pendidikan SDN I Ngadas terbilang masih kurang teruma alat peraga.Meskipun demikian,dilain pihak,keberadaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan pemerintah Kabupaten Malang amat membantu para siswa sekolah tersebut.Bahkan biaya sekolah dan seragam digratiskan serta buku-buku dipinjami.Lain lagi untuk siswa SLTP,biaya dan kebutuhan perlengkapan sekolah malah digratiskan semuanya.

Ketika disinggung mengenai tenaga pengajar,perempuan kelahiran 1969 tersebut menjelaskan bahwa ada beberapa orang yang membantu proses belajar mengajar di sekolah yang berstatus PNS dan sukarelawan(Sukwan).Iapun menerangkan lebih lanjut,4 sukwan yang mengajar juga masih kuliah.Saat dimintai pendapat belajar tentang perhatian orang tua di Ngadas terhadap pendidikan anak-anak mereka,ia menjelaskan bahwa orang tua siswa masih belum mempunyai perhatian yang besar terhadap untuk membuat anak-anaknya untuk belajar lebih giat lagi.”Kecenderungan orang tua disini lebih mengutamakan bekerja jadi perhatian ke anak-anak dalam hal belajar masih kurang,”imbuhnya.

Walaupun demikian,hal tersebut tidak menyurutkan anak-anak Desa Ngadas untuk melepaskan pendidikan selepas lulus SD.Terbukti,sekitar 80 persen anak-anak melanjutkan ke SLTP setelah menamatkan pendidikan dibangku dasar.Dilain pihak, kendala biaya juga membuat mayoritas anak SLTP tidak bisa melanjutkan ke bangku SLTA.Akibatnya hanya 10 persen anak yang mampu meneruskan pendidikan dibangku SLTA.

Terkait masalah pendidikan, ternyata Desa Ngadas menerapkan aturan bagi warganya yang ingin menikah.Menurut Kartono,jika ada warga yang ingin menikah maka syarat utama yang harus dipenuhi yakni minimal lulus SLTP.Jika tidak maka,perangkat desa tidak akan mengeluarkan surat nikah yang bersangkutan.Hal tersebutlah yang secara tidak langsung mendorong warga Ngadas untuk minimal mengecap bangku SLTP untuk meraih surat izin nikah. (dewi sartika)

Latar belakang keluarga yang tidak mampu ternyata mampu menginspirasi seseorang untuk memanfaatkan hidupnya bagi orang lain. Setidaknya hal ini tercermin dari sosok Mochammad Amrullah. Sabda Rasulullah yang berbunyi sebaik- baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain pun seakan menjadi pedoman hidup bagi pemuda yang akrab disapa Amru ini. Aktivitas hariannya pun tidak bisa dilepaskan dari anak-anak jalanan (anjal) dan kaum miskin. Bahkan Amru mengaku jika ia memulai aktivitasnya seperti ini hanya bermodalkan nekad semata.

Amru mulai bersentuhan dengan aktivitas sosial ini sejak tahun 2005 lalu. Kehidupan masa kecilnya yang sulit serta berasal dari keluarga miskin ini justru membuatnya makin menumbuhkan kepedulian sosialnya. “Dulu untuk bisa bertahan sekolah saja aku harus kerja dan aku sering dikeluarkan karena nggak mampu bayar. Makanya sekarang aku ingin anak-anak miskin agar bisa tetap sekolah,”ucap lelaki kelahiran Banyuwangi ini. Maka tidak mengherankan jika sejak lima tahun silam,Amru mulai aktif memperhatikan nasib anak-anak tidak mampu ini. Tahun 2005,iapun bersama tiga temannya berinisiatif mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Griya Baca. Di Griya Baca yang didirikannya ini Amru langsung memegang posisi ketua.

Melalui LSM ini Amru bersama reka-rekannya berusaha melakukan pemberdayaan dan perlindungan anak-anak terutama para anjal. Keberadaan pria yang masih tercatat sebagai mahasiswa hukum Universitas Merdeka (Unmer) Malang di Griya Baca inipun cukup lama,sekitar 3 tahun-an. Dipenghujung 2008 Amru lengser sebagai ketua LSM. Meskipun demikian bukan berarti lelaki kelahiran 1985 ini berhenti beraktivitas justru sebaliknya ia berusaha mencari tantangan lain. Ditahun yang sama pula,Amru mendirikan LSM Aliansi Masyarakat Miskin Malang (AMMM).

“Kalau AMMM ini jangkauannya lebih luas,mencakup anjal,pengemis dan pemulung,”jelas anak kedua dari tiga bersaudara ini. Bahkan bersama AMMM pula sepak terjang Amru lebih dahsyat. Beberapa kali AMMM sukses mengadakan aksi dengan mengajak anak-anak binaannya untuk memperjuangkan pendidikan gratis bagi kalangan tak mampu. Hasilnya pun tidak mengecewakan karena tuntutan AMMM akhirnya dipenuhi oleh pemkot Malang. Bahkan perjuangan Amru dan kawan-kawan pun sampai ke pengadilan tinggi negeri dan berhasil memenangkan perkara tuntutan.

Totalitas Amru terhadap aktivitas sosialnya ini pun tidak main-main. Hal ini dibuktikan dengan keputusannya untuk tinggal di daerah yang mayoritas warganya adalah kaum pinggiran. Menempati sebuah rumah kecil sederhana yang dikontraknya inilah Amru menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan warga sekitar. Mantan aktivis KAMMI inipun menjadikan kediamannya sebagai markas AMMM sekaligus kegiatan sosialnya. Rencananya,ditempat barunya ini Amru akan mengadakan homeschooling untuk anak-anak di daerah sekitar tempat tinggalnya.

Amru sendiri mengaku tidak menemui banyak kesulitan saat bergaul dengan anak-anak. Apalagi ia sangat menyukai anak-anak kecil sehingga tidak mengherankan jika laki-laki yang lahir 10 Januari ini bisa cepat akrab dengan mereka. “Kalau bergaul dengan anak-anak,aku lebih banyak memposisikan diri sebagai teman curhat mereka terutama terkait masalah mereka,”tuturnya. Kecintaannya terhadap anak-anak pula yang membuat pria yang hobi renang ini bersama AMMM sukses mengratiskan 235 anak di sekitar kediamannya untuk mencicipi bangku sekolah.

Kini,selain sibuk dengan kegiatan sosialnya,Amru juga sedang berusaha untuk menyelesaikan kuliahnya yang sempat molor karena kesibukannya tersebut. Hebatnya untuk kuliah ini,ia tak perlu mengeluarkan biaya. “Karena nggak punya uang saat itu aku langsung menghadap rektor Unmer dan bilang kalau ingin kuliah tapi nggak ada biaya,”kenang lelaki yang mengaku membuka usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidup. Iapun berusaha menerapkan ilmu hukum yang dipelajari untuk advokasi kaum pinggiran. (dewi sartika)

Cat Bungkusan

Posted: Desember 28, 2010 in Galeri Foto

 

 

 

 

 

 

 

Jika biasanya orang menggunakan cat kaleng yang dijual di toko-toko. Tak ada salahnya jika anda memcoba cat bungkusan ini. Anda dapat membelinya di sepanjang jalan Laksda Adisucipto di daerah Pandanwangi,Kota Malang. Tak lupa,anda pun dapat menawarnya.

Terung Aneh

Posted: Desember 28, 2010 in Galeri Foto

 

 

 

 

 

 

Terung ini terbilang unik. Bentuknya mirip sebuah kaki. Terung ini bernama Terung Kembang. Sayangnya,tanaman unik tidak bisa dimakan seperti terung pada umumnya. Tanaman ini terdapat di depan bangunan Perpustakaan Anak Bangsa.

Anggotanya Capai 12 Ribu Orang

Posted: Desember 28, 2010 in Inspiratif

Perpustakaan swadaya “Anak Bangsa”

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Asal ada niat dan kemauan pasti ada jalan untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Eko Cahyono. Melalui sosok inilah Perpustakaan Anak Bangsa ada dan bisa bertahan hingga saat ini. Terletak di Desa Sukopuro Kecamatan Jabung Kabupaten Malang,keberadaan Perpustakaan Anak Bangsa ini ternyata memiliki peranan penting bagi masyakarat setempat.

“Perpustakaan ini mulai ada antara Agustus-September 1998 lalu,”ucap Eko. Awalnya,perpustakaan ini berada di rumah orangtua Eko sampai akhirnya pindah ke beberapa rumah kontrakan yang disewanya. Kini,menempati lahan pinjaman yang berada dekat kuburan. Tampilan fisik bangunan yang ada sekarang terbilang sangat sederhana. Hanya beratapkan dan berdinding bambu serta beralaskan tanah yang ditutupi oleh karpet bewarna merah.Bagian dalam bangunan ini penuh rak-rak buku yang tertata rapi.

Menurut Eko,sampai saat ini koleksi buku yang dimiliki Perpustakaan Anak Bangsa mencapai kurang lebih 26 ribu buku. Buku-buku yang ada umumnya berasal dari sumbangan masyarakat yang ada didaerah Malang. Selain itu,buku yang tersedia pun terdiri dari berbagai jenis mulai untuk anak kecil sampai orang dewasa. Eko sendiri mengakui jika salah satu alasan untuk mendirikan perpustakaan ini adalah untuk menumbuhkan minat baca warga Desa Sukopuro. Butuh waktu tiga tahun bagi Eko untuk mengajak warga desa agar mau membaca.

Kini,pengunjung yang datang ke Perpustakaan Anak Bangsa tidak hanya berasal dari Sukopuro saja tapi juga warga desa sekitarnya. Bahkan tak sedikit datang dari Kota dan Kabupaten Malang. Tiap hari perpustakaan ini mendapat kunjungan sekitar 100-150 orang. Ekopun menambahkan saat ini anggota Perpustakaan Anak Bangsa telah mencapai sekitar 12 ribu orang yang berasal dari 37 desa. “Nggak ada persyaratan khusus untuk menjadi anggota,kalau mau pinjam buku cukup dicatat dibuku saja,”jelasnya. Tidak hanya itu saja,Eko juga tidak membatasi jumlah buku yang akan dipinjam dan waktu pengembaliannya.

Kiprah Eko bersama Perpustakaan Anak Bangsa ternyata menarik sejumlah kalangan. Hal ini terbukti dengan diikutsertakannya perpustakaan ini dalam beberapa kompetisi. Bahkan tak jarang pula meraih penghargaan seperti piala Nugra Jasadharma Pustaloka 2010 yang diadakan Perpustakaan Nasional RI Jakarta. “Waktu Nopember lalu aku dikunjungi oleh ajudan Mendiknas untuk diikutkan pada perlombaan,”jelas Eko perihal awal mula partisipasinya dalam perlombaan tersebut. Berkat kiprahnya inipula seringkali Eko diundang ke sejumlah acara di stasiun televisi.

Sayangnya,meski pamor Eko beserta Perpustakaan Anak Bangsa telah dikenal masyarakat luas bukan berarti keberadaan perpustakaan ini tanpa masalah. Belum adanya tempat permanen yang dimiliki Eko membuat Anak Bangsa kerap pindah tempat. Bahkan saat ini,pemilik lahan yang ditempati Perpustakaan Anak Bangsa meminta Eko untuk segera pindah. Dampaknya,Eko pun untuk sementara waktu menutup Perpustakaan Anak Bangsa bagi para pengunjung.

Tidak hanya itu saja,Eko juga harus memikirkan biaya operasional perpustakaan yang setiap bulan menghabiskan sekitar 300 ribu rupiah. Hal ini tentu saja menjadi masalah tersendiri mengingat Eko sendiri tidak memiliki pekerjaan tetap. Menyiasati hal tersebut,Ekopun sering menggunakan uang hadiah dari kompetisi yang diikutinya. Tak jarang pula bantuan dari para dermawan juga turut mengalir. “Waktu itu pernah wakil dari Bank Indonesia Kota Malang kesini menyerahkan uang 1 juta rupiah setelah melihat penampilanku di Kick Andy,”ujarnya.

Kini Ekopun patut bersyukur karena kiprahnya dalam merintis Perpustakaan Anak Bangsa telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa. Menurut Eko beberapa kenalannya bahkan telah memulai membangun perpustakaan didaerahnya masing-masing. Termasuk kenalannya yang berada di Lumajang. Selain itu,Eko juga kerap memberikan bantuan buku-buku kepada mereka yang hendak meniru kiprahnya. Ekopun mempersilakan bagi siapa saja yang memerlukan sumbangan buku untuk datang kepadanya. (dewi sartika)