MIMPI MENUJU SCIENCE CENTER

Posted: Oktober 15, 2010 in Wisata

Museum Zoologi  Frater Vianney ,BHK

Berada di kompleks bangunan Yayasan Mardi Wiyata,museum zoologi Frater Vianney tidak begitu dikenal masyarakat. Padahal,tempat ini bisa menjadi rujukan utama bagi para pecinta wisata science (ilmu pengetahuan). Konon,museum ini memiliki koleksi molusca terlengkap di Indonesia. Kurangnya promosi disinyalir menjadi penyebab utama minimnya wisatawan yang berkunjung ke museum ini.

Berawal dari Hobi
Museum Frater Vianney didirikan oleh Johanes Djuang Keban (dikemudian berubah menjadi Frater Maria Clemens,BHK). Nama museum itu sendiri berasal dari tokoh Katolik Belanda yang bertugas di Belanda,Frater Maria Vianney. Selama bertugas di Indonesia,Frater Vianney menjadi guru biologi sekaligus peneliti ular. Hal tersebut membuat terpesona salah seorang muridnya yang tak lain adalah Frater Clemens.
Kegemarannya untuk mengkoleksi berbagai binatang reptil  sebagaimana gurunya semakin menjadi ketika ditugaskan di kota Karang, Kupang. Bahkan tidak hanya sekedar ular namun juga biawak (varanus). Selama bertugas di Kupang, frater yang lahir 25 Agustus 1937 tersebut juga menambah koleksi pribadinyanya dengan mengumpulkan cangkang siput serta kerang. Bahkan ketika di mutasi ke Malang tahun 1963, Frater Clemens menghibahkan koleksinya kepada Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana. Saat ditugaskan di Ende dan Larantuka pun tidak membuat Frater Clemens berpaling dari hobinya untuk meneruskan jejak gurunya,mengkoleksi berbagai macam satwa serta kerang dan siput.
Setelah sepuluh tahun berkarya di NTT, pada 1984, Frater Clemens dimutasi kembali ke Malang dan ditahun 1991 terpilih sebagai vikarius (provinsial) serta diangkat sebagai pemimpin Kongregasi Frater BHK Indonesia yang berkedudukan di Surabaya. Praktis, hobinya yang berkaitan dengan biologi terhenti total. Namun, ketika 1998, kantor Dewan Propinsi dipindahkan ke Malang, tepatnya di jalan Karangwidoro maka hobi lamanya muncul kembali.
Setelah mendapat persetujuan dari kongregasi maka Frater Clemens pun meneruskan hobi lamanya. Apalagi disekitar kompleks gedung juga ditemukan beberapa ekor ular. Selama 1998-2000, koleksi yang telah ada sebelumnya makin bertambah, sudah diklasifikasikan serta mulai ditempatkan dalam sebuah gedung kecil. Puncaknya, gedung kecil yang telah difungsikan sebagai museum zoologi “Frater Maria Vianney, BHK” tersebut diresmikan pada 27 Nopember 2004 oleh Direktur Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Widodo Sukohadi Ramono.

Koleksi Lengkap, Minim Promosi
Memasuki gedung museum zoologi yang memang tidak terlalu besar tersebut, salah satu hal menarik yang langsung menjadi perhatian pengunjung adalah tulisan dipapan  nama yang tergantung diatas pintu masuk. Tulisan “hendaklah kita tenggelam dalam Tuhan tanpa meninggalkan dunia” serta sebuah patung Yesus Kristus setinggi sekitar setengah meter yang berdiri kokoh seolah-olah sedang memberkati pengunjung yang datang.
Selanjutnya,pengunjung akan memasuki ruang utama yang menyimpan berbagai macam koleksi yang tergolong langka. Pengunjung akan dibuat berdecak kagum dengan berbagai macam satwa yang telah diawetkan. Koleksi yang telah diawetkan tersebut ditempatkan pada masing-masing lemari dengan kaca transparan untuk memudahkan pengunjung melihat lebih dekat.
Berbagai macam koleksi dipajang dilemari. Mulai dari ular yang telah diawetkan dan disimpan di toples, siput-siput laut, kerang raksasa, penyu raksasa, kupu-kupu dan serangga yang ditempel dikanvas dinding sampai kepala rusa yang terpasang didinding yang seakan-akan sedang mengawasi pengunjung . Tidak ketinggalan pula, sang raja hutan singa dengan taringnya yang siap menerkam pengunjung terpajang dengan baik disalah satu sudut ruangan.
Koleksi yang dimiliki museum zoologi Vianney sendiri, menurut Denise Resianini selaku pengelola museum, berdasarkan data terakhir tahun 2007 ada 748 spesies  dan 11972 spesimen. “Untuk koleksinya sendiri sudah dimulai sejak tahun 1965,” tambahnya. Sedangkan koleksi terbanyak yang dimiliki museum zoologi sendiri meliputi jenis reptil serta konkologi (ilmu tentang kulit siput dan kerang).
Mengenai koleksi museum zoologi yang beragam tersebut, Denise pun menambahkan bahwa semua koleksi yang ada merupakan aset museum yang berharga milyaran. Bahkan ada jenis molusca yang bernilai 1-3 juta rupiah. Tidak hanya itu, hal-hal unik pun menggiringi koleksi tersebut. Mulai dari mitos Yunani kuno tentang kerang raksasa (gimma) yang diyakini sabagai tempat lahir dewi venus serta siput aurum yang diabadikan sebagai tanda  penghargaan untuk pangkat jenderal Romawi.
Selain koleksi satwa mati yang telah diawetkan, museum zoologi Vianney tenyata juga memiliki sejumlah satwa hidup yang bisa disaksikan pengunjung secara langsung yakni ular, buaya, kura-kura dan ikan. Untuk koleksinya sendiri, pihak museum mendapatkan dengan cara membeli dari pihak lain maupun mengumpulkan sendiri. Sedangkan untuk identifikasi koleksi yang ada, dilakukan pihak museum sendiri.
Untuk biaya pengelolaan museum sendiri, masih bersifat swadaya serta  bantuan dari biarawan. Belum ada donatur maupun bantuan dari pihak terkait seperti Dinas Pendidikan (Diknas) Malang.
Meski museum zoologi Vianney sendiri memiliki koleksi yang tergolong langka dan lengkap namun promosi yang dilakukan masih terbatas untuk kalangan tertentu saja sehingga tidak mengejutkan jika banyak masyarakat Malang sendiri tidak mengetahui keberadaan museum zoologi. “Selama ini memang publikasi hanya ditempel ditempat tertentu saja seperti museum Brawijaya dan perpustakaan kota Malang,”ujar wanita asal Ambon tersebut.
Untuk ‘menjual’ museum zoologi Vianney sendiri, pihak museum telah melakukan promosi awal dengan mengadakan semiloka maupun seminar. Meski di Malang sendiri eksistensi museum zoologi Vianney tidak begitu dikenal, namun ‘prestasi’ museum wisata science itu sendiri tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan ‘gaungnya’ telah mencapai tingkat nasional yakni dengan menjadi narasumber disebuah acara stasiun televisi swasta di Jakarta

“Science Center”  untuk “Scientists”
 Minimnya promosi yang dilakukan pengelola museum memang terkait dengan orientasi yang memang sedari awal telah dicanangkan pihak pengelola yakni menjadikan museum zoologi Vianney sebagai museum science dan science center (pusat ilmu pengetahuan) di Indonesia. Akibatnya, hanya kalangan tertentu saja berkunjung ke museum tersebut. Bahkan ketika mulai dibuka pada tahun 1997, awalnya hanya sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Mardi Wiyata saja yang boleh berkunjung ke museum mulai dirintis sejak 1979 itu. Baru ditahun 2004, museum terbuka untuk umum.
Dengan orientasi sebagai science center tersebut, tidak mengherankan jika mayoritas  pengunjung lebih didominasi kalangan akademis seperti siswa sekolah dasar sampai menengah umum. “ Museum zoologi ini memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin belajar (scientists), tidak hanya sekedar untuk melihat-lihat saja,” tutur wanita yang juga seorang guru disebuah sekolah swasta di kota Malang tersebut.
Usaha untuk membangun reputasi museum zoologi sebagai science center pun dilakukan, salah satunya  dengan melakukan kerjasama dengan Universitas Malang dan Brawijaya yang mempunyai kepentingan bersama menyangkut hal-hal berbau biologi. Hebatnya lagi, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pun berhasil ‘digandeng’. Pihak Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip sendiri tak segan menjuluki museum zoologi Vianney sebagai museum Molusca karena koleksi spesimen konkologinya (siput dan kerang) yang lengkap.
Bahkan untuk mengukuhkan reputasi sebagai museum science dan  science center itu, pihak museum pun tak segan untuk menolak kunjungan sejumlah sekolah yang hanya ingin melihat-lihat koleksi museum tanpa disertai paket pembelajaran. Maka tidak mengherankan jika banyak sekolah dasar utamanya yang mengadakan kunjungan belajar ke museum zoologi.
”Semua info yang berkaitan dengan anak didik (siswa sekolah) ada di museum ini, sehingga museum ini tempat yang paling tepat untuk menyampaikan  hal-hal yang terkait dengan pembelajaran” ucap wanita ramah tersebut. Selain itu, keberadaan museum zoologi sendiri amat ’menolong’ Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyampaikan pesan terkait lingkungan.  Dengan keberadaan museum zoologi, Balai Konservasi dapat menghemat dana  karena tidak harus turun langsung ke lapangan untuk mengkampanyekan visi serta misi mereka. Biasanya, penyampaian visi dan misi BKSDA melalui pemberian poster bertemakan lingkungan kepada sekolah-sekolah yang melakukan kunjungan ke museum.
Langkah BKSDA untuk mendukung museum zoologi sebagai science center pun tidak berhenti sampai disitu saja. BKSDA bahkan langsung mempercayakan museum zoologi untuk menampung satwa-satwa yang telah disita dari masyarakat yang tidak memiliki izin legal untuk kemudian dihibahkan kepada museum zoologi. Umumnya, satwa-satwa yang telah disita tersebut masih berupa satwa hidup maupun yang telah diawetkan.
Sedangkan terkait dengan upaya menjadikan museum zoologi sebagai science center, pihak museum sendiri menyadari bahwa gedung yang ditempati sekarang kurang mendukung untuk . Selain letak museum yang kurang strategis, gedung yang ditempati sekarang pun terbilang kecil untuk ukuran museum. Pihak museum sendiri sudah menyiapakn gedung baru yang lebih besar dimana  sekarang masih dalam tahap pembangunan. Gedung baru yang sedang direncanakan tersebut terletak sekitar 300 meter dari museum sekarang berada.
Selain itu, upaya lain yang dilakukan museum zoologi Vianney untuk makin memperkuat reputasi science center untuk scientists yakni dengan berusaha membangun eksistensi ke arah penelitian agar mendapat pengakuan sebagai science center di Indonesia ”Untuk konsentrasi kami saat ini memang lebih diarahkan seberapa besar yang bisa diberikan kepada negeri ini,” terang Denise. (dewi sartika)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s