Bukan Sekedar Objek Wisata Biasa

Posted: Oktober 27, 2010 in Wisata

Ponpes Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah

Konon tempat ini dibangun dengan bantuan jin. Tidak mengherankan jika orang-orang menyebutnya sebagai masjid jin atau masjid tiban (tiba-tiba ada) dan masjid lawang sewu (pintu seribu). Apalagi jika ditambah dengan berbagai ornamen indah yang menghiasi tempat ini. Tidak mengherankan jika banyak orang yang berduyun-duyun mengunjungi tempat ini.

Sejatinya,tempat yang memiliki luas sekitar lima hektar ini bukan murni sebuah masjid. Akibat persepsi yang berkembang di masyarakat maka tidak mengherankan jika orang-orang lebih mengenalnya sebagai sebuah masjid. Tempat yang berada di Kecamatan Turen Kabupaten Malang ini memiliki nama yang cukup panjang dan rumit yakni Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah. Padahal tempat ini aslinya merupakan kompleks pondok pesantren (ponpes) salafiyah.

Meski hanya sebuah ponpes namun tempat ini sudah terlanjur menjadi tujuan wisata bagi para wisatawan. Hebatnya lagi,wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari dalam negeri saja tapi juga mancanegara. Daya tarik ponpes ini sendiri terletak pada kemewahan arsitekturnya yang tiada duanya. Tidak mengherankan jika keunikan serta keindahan yang dimiliki ponpes ini pun turut memikat hati pengunjung non Islam untuk singgah.

Berawal dari Rumah

Ponpes yang terletak di Desan Sananrejo ini sendiri sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1963 dimana awalnya masih berupa rumah Kyai Romo Ahmad. Beberapa kali mengalami tahapan pembangunan. Tahapan pertama terjadi pada tahun 1978 dan berlangsung hingga sekarang. Keberadaan ponpes ini sendiri bukan tanpa rintangan. Berbagai hambatan muncul mengiringi pembangunan ponpes ini.

Halangan yang ada mulai dari permasalahan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sampai fitnah sebagai pondok yang menganut aliran sesat. “Pembangunan pondok ini sempat terhenti karena masalah IMB. Waktu itu kami tidak bisa menyertakan gambar bangunan karena memang kami tidak tahu kapan pembangunan ini akan selesai,”ujar Kisyanto,salah satu panitia pembangunan ponpes. Kisyanto pun menambahkan,akhirnya oleh pemerintah bupati Kabupaten Malang saat itu,Sujud Pribadi,pihak ponpes hanya diminta menyertakan foto bangunan yang telah ada.

Pria asli Sidoarjo ini juga menjelaskan bahwa sampai saat ini pembangunan area ponpes baru mencapai tahap 30 hingga 40 persen. Iapun tidak dapat memastikan kapan pembangunan ini akan selesai karena memang tidak ada target khusus. “Yang pasti pembangunan ini akan terus berlanjut dan kami tidak bisa memastikan kapan selesainya karena memang dari awal tidak direncanakan mau berapa tingkat,”terangnya.

Bangunan ponpes ini sendiri untuk saat ini terdiri dari kurang lebih 10 tingkat. Masing-masing tingkat memiliki ruang-ruang yang berfungsi untuk keperluan dan kepentingan ponpes. Setidaknya bisa dikatakan lantai 1 sampai 6 digunakan untuk kepentingan ponpes yang meliputi tempat tinggal,masjid dan ruang pertemuan. Baru dilantai 7 dan 8 dimanfaatkan pihak ponpes untuk area usaha seperti kios-kios cinderamata dan makanan yang dijaga para santri. Sedangkan lantai diatasnya masih dalam proses tahap pembangunan.

Menerima Santri Khusus

Ponpes yang didirikan Kyai Romo Ahmad ini saat ini menampung sekitar 200 santri termasuk didalamnya anak cucu Kyai Romo Ahmad. Mereka tersebar di area seluas lima hektar itu. Uniknya,para santri yang mendiami ponpes ini berbeda dengan santri pada umumnya. Mayoritas mereka merupakan orang yang pernah mencicipi dunia hitam seperti pejambret,pecandu narkoba maupun yang berasal dari keluarga broken home(berantakan).

Selain itu,hal lain yang membuat ponpes ini berbeda dengan ponpes lainnya adalah tujuan utama keberadaan ponpes salafiyah ini. Jika kebanyakan ponpes berdiri sebagai sarana untuk memperdalam pengetahuan maka tidak demikian dengan ponpes Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah. Hal ini bisa jadi karena sebagian besar para santri pondok adalah mereka yang pernah terjerumus ke lembah hitam. “Tujuan utama ponpes ini didirikan untuk membersihkan penyakit-penyakit hati,”ucap Kisyanto.

Terkait hal ini pula,Kisyanto pun menambahkan jika fungsi utama setiap ruangan yang ada di bangunan ponpes untuk menghilangkan penyakit hati dan masalah pribadi. Maka tidak mengherankan pula jika bangunan ponpes dipenuhi oleh berbagai ornamen indah yang penuh penuh dengan filosofi. ndilantai delapan. Adanya hiasan anggur ini bukan tanpa sebab tetapi bertujuan agar hati tidak menganggur dan senantiasa ingat kepada Allah SWT.

Bukan Objek Wisata

Keindahan arsitektur bangunan beserta kemewahan ornamen yang melingkupi bangunan ponpes ternyata mampu menarik perhatian masyarakat. Tidak mengherankan jika setiap harinya banyak orang yang berduyun-duyun mendatangi ponpes ini. Umumnya,mereka penasaran dan ingin melihat langsung masjid yang konon dibangun para jin. Masjid yang dimaksud itu sendiri merupakan bagian dari kompleks ponpes.

Persepsi yang salah kaprah inilah yang menurut Fajar Ismantoyo selaku panitia pembangunan dimanfaatkan oleh para sopir angkutan kota (angkot). “Masjid ini jadi terkenal karena promosi sopir angkot kepada para penumpang agar angkotnya laris,”ujar lelaki yang telah tinggal di ponpes ini sejak 1991 lalu. Tidak hanya mendapat julukan masjid jin tetapi masjid ini juga dijuluki masjid lawang sewu (pintu seribu) karena bangunan ponpes memiliki banyak pintu. Adanya berbagai mitos yang ada menyebabkan ponpes ini banyak dikunjungi wisatawan.

Melihat kenyataan tersebut maka tak mengherankan jika pada akhirnya ponpes ini menjadi rujukan tempat wisata. Para pengunjung yang singgah pun bisa mencapai ratusan orang. Bahkan pada hari libur serta Hari Minggu wisatawan yang datang bisa mencapai ribuan orang yang berasal dari sekitar Malang maupun luar kota. Ponpes ini pun pernah dikunjungi wisatawan mancanegara termasuk pejabat tinggi dari Serawak,Malaysia.

Meskipun banyak mendapat kunjungan dari wisatawan namun sejatinya ponpes ini bukanlah sebuah objek wisata. Terkait hal ini pula maka tidak mengherankan jika terdapat pengumuman yang terpampang didinding mengenai aturan-aturan saat memasuki bangunan ponpes. Salah satunya adalah himbauan dari pihak ponpes kepada pengunjung untuk memakai busana tertutup dan larangan untuk berdua-duan dengan lawan jenis. Walaupun demikian pihak ponpes sendiri tidak keberatan dengan banyaknya kunjugan dari wisatawan. Bahkan,laiknya tempat wisata,pengelola menyediakan lahan parkir yang sangat luas untuk kendaraan serta bebas biaya parkir.

Terkait hal ini pula serta ponpes yang bukan objek wisata,secara tidak langsung Kisyanto,selaku panitia lainnya menghimbau agar para pengunjung permisi terlebih dahulu saat mau memasuki ponpes. “Seringkali orang yang baru datang langsung terpana dengan bangunan ponpes sehingga mereka lupa untuk minta izin masuk,”tegasnya. Iapun menghimbau kepada pengunjung,sebelum masuk hendaknya meminta kartu izin masuk kepada petugas yang ada didepan gerbang,begitu juga ketika akan meninggalkan ponpes. “Ibaratnya saat kita bertamu,terlebih dahulu kita minta izin masuk dan pamit ketika mau pulang,apalagi tempat ini bukan objek wisata,”terangnya.

Disamping itu,berkah kedatangan wisatawan ke ponpes juga turut dirasakan penduduk sekitar ponpes. Umumnya,mereka berjualan makanan disekitar area ponpes. Produk yang dijual mayoritas berupa oleh-oleh siap makan seperti tape singkong,opak,keripik serta cinderamata lainnya. Salah satunya adalah Anis. Warga Turen ini mengaku setiap minggu datang ke ponpes untuk berjualan cincin kesehatan. Tak hanya itu saja,pihak ponpes pun secara khusus menyediakan dua lantai yakni lantai tujuh dan delapan untuk berjualan aneka cinderamata dan makanan kecil untuk memanjakan wisatawan.

Istikharah dan Sukarela

Daya tarik ponpes Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah terletak pada kemegahan bangunannya yang unik. Ukiran berbagai ornamen yang ada mampu membuat para pengunjung takjub serta mengagumi kerumitan ornamen-ornamen tersebut. “Saya baru pertama kali kesini karena dapat rekomendasi dari suami dan merasa takjub karena dikerjakan santrinya dan dikerjakan sepanjang masa,”terang Bu Deni,pengunjung asal Surabaya. Wanita yang bekerja di perusahaan swasta inipun berencana untuk mengunjungi ponpes ini kembali.

Uniknya,arsitektur bangunan ponpes yang terkesan megah dan mewah ini ternyata dibangun tanpa bantuan satu arsitek sekalipun. Hal ini diakui sendiri oleh Kisyanto yang mengaku bahwa semua pembangunan yang ada hanya dilakukan melalui istikharah oleh sang pemilik,Kyai Romo Ahmad. Biasanya,pembangunan akan berlanjut setelah Kyai Romo Ahmad melakukan istikharah. Maka,ketika Kyai Romo meninggal beberapa waktu lalu,istikharah tetap dilanjutkan oleh istri Kyai Romo Ahmad sehingga pembangunan tidak terhenti.

Hebatnya lagi pengerjaan bangunan ponpes ternyata dilakuka secara sukarela oleh santri. Tidak hanya itu,para jamaah pun turut membantu pembangunan. Bahkan tak tanggung-tanggung,jamaah yang berasal dari latar belakang berbeda seperti guru dan dosen ITS ini berkenan menjadi pekerja bangunan. Para sukarelawan ini pun tidak dibayar oleh panitia. Ketika ditanya kapan pembangunan ponpes ini akan selesai,Kisyanto pun tidak dapat menjawab secara pasti.”Pembangunan akan akan dilakukan terus menerus,tidak tahu sampai kapan dan berapa tingkat,”gumamnya.

Tidak hanya itu,dana yang digunakan untuk pembangunan ternyata berasal dari kantong sendiri alias uang Kyai Romo Ahmad. Selain itu Kisyanto pun menerangkan kalau banyak para jamaah yang tak segan-segan untuk mengeluarkan uang demi membantu pembangunan masjid. “Selain membantu mengerjakan,jamaah juga membantu pendanaan. “Dengan begitukan mereka bisa merasakan hasilnya,”tukas pria juga berprofesi sebagai wakil kepala sekolah ini.

Ketika disinggung apakah pembangunan ponpes ini juga menggunakan dana yang berasal dari luar negeri,Kisyanto pun menjawab dengan tegas bahwa sampai saat ini belum ada dana dari donatur luar. Ia pun menambahkan jika ponpes ini memiliki tiga prinsip yang harus dipegang teguh yakni tidak meminta-minta,tidak berharap diberi sehingga dapat menimbulkan ketamakan serta tidak meminjam atau berhutang.(dewi sartika)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s