Taklukkan Tantangan Dengan Pena

Posted: Desember 10, 2010 in Sosok

Menulis bagi sebagian orang bisa jadi adalah hal yang mudah. Namun,tak sediki pula orang yang menganggap bahwa menulis itu sulit. Biasanya orang-orang yang beranggapan menulis itu sulit,mereka dikarunia potensi pandai berbicara dihadapan banyak orang. Begitu juga sebaliknya seseorang yang memiliki kemampuan menulis maka ia cenderung bekerja di belakang layar. Tidak mengherankan jika akhirnya muncul anggapan bahwa seorang penulis tidak pandai berbicara saat berhadapan dengan orang-orang. Namun anggapan ini tampaknya tidak berlaku bagi seorang Fauziah Rachmawati.

Setidaknya,dara kelahiran 22 September ini mampu membuktikan bahwa seorang penulis pun bisa tampil berbicara dihadapan banyak orang. Hal ini tentu terkait dengan kegemarannya akan menulis. Kesukaannya akan dunia tulis menulis inilah pada akhirnya sukses membawanya untuk menjadi pembicara di sejumlah pelatihan dan juri perlombaan menulis. Tentu saja,apa yang telah didapatnya sekarang membutuhkan proses panjang terutama untuk menjadi seorang penulis.

“Aku mulai menulis saat masih SMP,kebetulan cerpen pertamaku saat kelas 3dimuat di majalah anak Mentari Putra Harapan,”jelas gadis yang akrab dipanggil Zi ini. Iapun masih mengingat dengan jelas saat menerima honor 25 ribu dari pemuatan cerpennya dimajalah tersebut. Sayangnya,setelah pemuatan perdana cerpennya itu,Zi justru vakum dari kegiatan menulis. Iapun baru kembali menekuni aktivitasnya saat menginjak bangku SMU. Saat itu,ia perempuan asal Kabupaten Malang ini mbeemutuskan untuk bergabung dengan majalah sekolah dan mengemban tugas sebagai editor.

Kiprah gadis berjilbab ini di dunia tulis menulis ternyata kembali berumur pendek. Selepas lulus SMU dan memasuki kuliah,Zi mengaku sempat berhenti menulis selama tiga tahun. Baru pada tahun 2006,ia kembali aktif menulis. Bahkan tak tanggung-tanggung,cerpennya yang berjudul “Selubung Dosa Menelingkup Nurani” berhasil menjadi jawara satu lomba tingkat regional sains dalam sastra Universitas Negeri Malang (UNM) dalam rangka bulan bahasa. “Cerita cerpen ini tentang aborsi dimana aku berperan sebagai bayi yang diaborsi. Sedangkan ide cerita sendiri aku dapatkan setelah aku melihat film tentang aborsi,”tutur sulung dari dua bersaudara ini.

Kemenangannya dalam perlombaan tersebut ternyata membuat Zi cukup kaget sekaligus senang. Ia mengaku tak menyangka akan menyabet juara pertama mengingat lomba yang diikutinya adalah tingkat regional. Akhirnya,cerpen “Selubung Dosa Menelingkup Nurani” pun diterbitkan dalam sebuah kumpulan antologi cerpen UNM. “Alhamdulillah banyak pembaca yang memberi respon dan kebanyakan responnya positif,”ujar gadis berkacamata ini. Berkat kemenangannya tersebut,perempuan yang berprofesi sebagai guru SD ini pun memiliki pandangan berbeda mengenai aktivitas menulisnya.

“Dengan menulis ternyata kita bisa berbagi dengan orang lain meskipun itu hal-hal kecil seperti menulis diary. Selain itu menulis sudah menjadi kebutuhan dan penyemangat tersendiri,”jelas gadis yang hobi travelling ini. Ia juga mengakui pernah terbersit melakukan aktivitas menulis untuk memperoleh uang. Namun niat itu segera dibuangnya jauh-jauh. Kini,putri pasangan Sulistyo dan Rohma Wardani inipun berusaha untuk memiliki motivasi khusus ketika menulis. “Aku menulis agar dibaca terus oleh pembaca karena aku ingin menyampaikan pesan lewat tulisan,”ucapnya dengan mantap.

 

Kegemarannya akan menulis pula yang membuat Zi tertantang untuk menulis berbagai hal. Maka tidak mengherankan jika akhirnya ia ingin mencoba berkarya melalui berbagai jenis tulisan. Jika diawal-awal dulu,gadis yang suka membaca buku ini lebih tertarik untuk menulis cerpen maka ditahun 2008 ia mencoba untuk menggeluti karya tulis. Hasilnya pun tidak mengecewakan,bahkan sederet prestasi berhasil diukirnya melalui karya tulis. Salah satu diantaranya yang menurut Zi sangat berkesan adalah ketika karya tulisnya berjudul “Strategi Pembelajaran Pendidikan Seks Remaja Autis Di Tingkat Sekolah Dasar” menjadi finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Kini,setelah sukses berkarya lewat cerpen dan karya tulis,perempuan yang juga aktif di LSM anak jalanan sering menulis cerita-cerita ringan seputar pengalaman hidupnya. “Sekarang aku lebih sering menulis bentuk catatan harian lalu kuposting di blog atau facebook,”ucap gadis yang mengaku menyukai berbagai makanan ini. Zi pun menjelaskan banyak sekali tanggapan yang didapatnya setelah memposting tulisannya. “Bahkan ada teman yang bilang kalau tulisannku itu terlalu jujur,”katanya sembari tertawa. Ketika ditanya,diantara ketiga jenis tulisan yang pernah dibuatnya mana yang lebih disukainya dengan diplomatis Zi menjawab menyukai semuanya. Iapun beralasan karena hal tersebut tergantung dari tujuannya menulis dan kepada siapa tulisan itu dibuat.

Tulisan-tulisan yang dibuat Zi memang beraneka ragam mulai dari fiksi maupun non fiksi. Zi pun membeberkan jika setiap tulisan yang dibuat selalu dimulai dari inspirasi yang diperolehnya. “Aku biasanya mendapatkan inspirasi dari banyak hal entah itu dari pengalaman,berita ataupun sesuatu yang pernah kulihat,”jelas alumni Universitas Negeri Malang ini. Tulisan yang dibuatnya pun telah banyak bertebaran diberbagai media cetak mulai dari surat kabar lokal,nasional dan majalah. Meskipun demikian Zi tetap menyimpan impian jika suatu saat kelak ia mampu menerbitkan karyanya dalam bentuk buku.

Melihat pengalamannya di dunia tulis-menulis,tidak mengherankan jika Zi sering bertindak sebagai narasumber maupun juri dalam berbagai acara perlombaan dan kepenulisan. Tidak hanya itu,kecintaannnya terhadap tulisan juga membawanya untuk bergabung di organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Malang. Bahkan baru-baru ini,ia diangkat menjadi koordinator organisasi tersebut walaupun diakuinya sebenarnya masih banyak calon-calon lain yang lebih baik. Gadis yang bercita-cita mempunyai perpustakaan umum ini pun berharap dimasa kepemimpinannya akan muncul penulis-penulis handal.

Terkait hal itu pula Zi pun tak segan untuk berbagi resep seputar keberhasilannya menelurkan banyak tulisan terutama cerpen. Menurutnya,jika mengikuti perlombaan cerpen,sebelum menulis sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu tentang jurinya karena hal ini berkaitan dengan selera juri ketika menilai. Selain itu ia juga membeberkan rahasia sukses agar tulisan bisa termuat dimedia cetak. “Jangan lupa untuk mempelajari media cetak yang akan dikirimi kalau ingin mengirim tulisan,”ujar mantan Ketua FLP UNM tersebut. Namun dari semua itu yang terpenting dalam menulis menurut Zi adalah memiliki niat. “Karena apa yang kita tulis merupakan cerminan diri kita,”pungkasnya. (dewi sartika)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s