Tekuni Kempo Demi Harumkan Jawa Timur

Posted: Desember 10, 2010 in Sosok

Meski berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) namun hal ini tidak menyurutkan langkah laki- laki bernama lengkap Ardyanto Kristofel Ranja Nggili untuk memberikan yang terbaik bagi Jawa Timur (Jatim). Bukan tanpa alasan jika pria yang akrab dipanggil Adi ini ingin membela Jatim. Walaupun masih sekitar 3 tahun ia menetap di Kota Malang dalam rangka menuntut ilmu tapi bagi Adi propinsi inilah yang telah membuatnya bisa berpartisipasi dan berprestasi di sejumlah kejuaraan beladiri kempo. Maka tidak mengherankan jika rasa cintanya terhadap Jawa Timur ingin diwujudkannya dengan menjadi atlet kempo Jatim.

Kegemaran Adi sendiri terhadap olahraga beladiri asal Jepang ini bisa dikatakan sebagai warisan orangtua,terutama dari sang ayah. Melalui sang ayah inilah untuk pertama kalinya Adi mengenal seni beladiri kempo. “Aku mulai mengenal dan latihan kempo saat kelas empat SD. Saat itu ayahku mendaftarkanku disebuah SMU Kristen di Waingapu yang membuka rekruitmen,”kenang lelaki kelahiran 11 Oktober ini Uniknya,tidak hanya kepada Adi saja sang ayah yang bernama Wolter W Ranja Nggili ini mengajak buah hatinya untuk mempelajari kempo namun juga kepada semua saudara Adi yang berjumlah empat orang. Menurut Adi,kenekatan ayahnya untuk mengajak seluruh anaknya lebih didasarkan karena sang ayah pernah berkecimpung di olahraga beladiri ini.

Walaupun sejak kecil sudah mempelajari kempo bukan berarti pemilik tinggi 175 cm ini secara intensif mengikuti latihan. Adi pun menuturkan bahwa dirinya sempat berhenti latihan karena alasan pekerjaan rumah. “Pada saat maish kecil,aku diberi tanggung jawab untuk memelihara kuda oleh ayahku sehingga setiap pulang sekolah aku harus mencari rumput serta membantu ayah membangun rumah,”ucapnya menerangkan jenis pekerjaan yang dilakoninya. Baru menginjak bangku SMP,kelas satu Adi mulai berlatih kempo lagi. Hal ini pun masih berlanjut saat ia memutuskan untuk meneruskan kuliah di Kota Malang sejak tahun 2007 silam.

Sebenarnya ketertarikan pria yang memiliki saudara kembar ini terhadap seni beladiri kempo ini selain faktor sang ayah juga karena kepopuleran kempo di tanah kelahirannya. Bahkan Adi menuturkan di NTT,kempo merupakan cabang olahraga yang paling digemari masyarakat NTT. Hal ini tentu saja tidak mengherankan jika pada akhirnya Adi lebih mengenal kempo daripada seni beladiri lain. Apalagi di kampus dimana ia kuliah sekarang terdapat unit aktivitas kempo. Tentu saja keberadaan dojo (tempat latihan) di kampusnya membuat saudara kembar Erdyanto Kristian Ranja Nggili ini makin bersemangat untuk menekuni kempo.

“Aku biasanya latihan di dojo kampusku seminggu dua kali yakni Rabu malam dan Minggu pagi. Latihannya sekitar dua jam-an. Tapi kalau mau ada kejuaraan,latihannya seminggu bisa lima kali di puslatda,”jelas mahasiswa semester akhir Universitas Merdeka Malang ini. Kini setelah bertahun-tahun mendalami kempo,Adi pun sudah mencapai sabuk coklat (KY I),sebuah tingkatan yang tergolong cukup tinggi dalam hierarki kempo. “Dengan memegang KY I, aku sudah berhak untuk menjadi pelatih,”lanjutnya. Hebatnya lagi,untuk meraih semua itu Adi harus berjuang terlebih dahulu. Selain disiplin dan tekun berlatih,ada satu hal berat yang harus dilalui mantan Ketua Unit Aktivitas Mahasiswa Kempo Unmer Malang ini.

Pemilik tinggi badan 175 cm ini pun mengaku kerapkali menerima makian ataupun kata-kata kasar dari sang pelatih. “Meskipun begitu,aku tidak pernah dendam dendam karena bagaimanapun kata-kasar keras yang dilontarkan pelatih bertujuan agar kita lebih termotivasi dan melatih mental kita,”tutur penyuka makanan nasi tahu telor tersebut. Terkait hal inipula maka tidak mengherankan jika pada akhirnya banyak orang yang mengalami seleksi alam alias tidak meneruskan berlatih kempo. Menurut Adi,salah satu kunci agar bisa berkomitmen menekuni kempo adalah bersabar. Apalagi banyak jenjang yang harus dilalui agar mencapai tingkatan ahli beladiri kempo.

Kesabaran Adi menekuni kempo pun mulai berbuah manis. Iapun sering mewakili kontingen Kota Malang dalam berbagai kejuaraan kempo. Pertama kali ikut serta dalam lomba,Adi terjun dikelas 55 kg kemudian pindah ke kelas 60 kg. “Ikut kejuaraan kempo pertama kali itu pada kejurda di Surabaya pada tahun 2007,saat itu aku turun dikelas 55 kg dan menyabet juara kedua,”jelas laki-laki yang juga berprofesi sebagai pelatih futsal sekolah swasta ini. Terhitung,sejak ditunjuk sebagai wakil Kota Malang di tahun 2007 lalu,Adi telah mengikuti sekitar enam kejuaraan kempo baik tingkat daerah maupun nasional. Bahkan pada Kejuaraan antar Kota (KejurKot) Oktober lalu,Adipun berhasil meraih juara pertama.

“Pertandingan yang paling berkesan itu pada saat aku ikut kejurda di Bojonegoro 2009 lalu. Waktu itu difinal aku tanding melawan juara bertahan sampai perpanjangan waktu,”kenang putra pasangan Wolter W Ranja Nggili dan Yorina Mburu Hiaka ini. Kini,meski telah menjadi anggota kontingen kempo Kota Malang namun masih ada sebuah asa yang belum dapat Adi wujudkan. Peraih juara satu pada kejurkot 2010 di Gresik ini berhasrat mewakili Jawa Timur (Jatim) dalam kejuaraan kempo.Cita-cita inilah yang berusaha Adi rintis sampai sekarang. Demi mewujudkan impiannya mengharumkan nama Jatim,iapun rajin mengikuti sejumlah kejuaraan kempo untuk menembus pelatnas dan berlaga di ajang internasional. (dewi sartika)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s