Lalui Rintangan Untuk Jemput Hidayah

Posted: Desember 22, 2010 in Sosok
Tag:, , , , , , ,

Hidayah bisa menghampiri setiap orang tanpa pandang bulu. Setidaknya itupula yang terjadi pada Dyah Elyta Kristiani. Lahir dari pasangan orangtua berbeda keyakinan,ibu Kristen Protestan dan ayah Islam abangan,membuat gadis yang akrab disapa Dyah ini dibesarkan dalam tradisi Kristen. Apalagi ia hidup ditengah-tengah keluarga besar sang ibu sedangkan keluarganya sendiri tergolong broken home (berantakan). Selama hampir 17 tahun lamanya Dyah pun hidup dengan nilai-nilai kristiani meskipun saat menginjak kelas satu SMP ia telah memeluk Islam.

Ketertarikan gadis kelahiran Blitar ini sendiri cukup menarik. Ia mengaku tertarik dengan agama Islam justru karena faktor keluarga besarnya yang over protective terhadap dirinya. “Saat kecil,aku tidak diperbolehkan bermain dengan teman-teman sebayaku yang beragama Islam,”tuturnya. Padahal ketika itu,diakui oleh Dyah,ia sangat ingin seperti teman-temannya yanng pada saat Ramadhan sering mengenakan mukena dan melakukan takbiran menjelang Lebaran. Larangan bergaul oleh keluarga besarnya inilah yang menyebabkan Dyah makin tertarik kepada Islam.

Maka,begitu ia bersitegang dengan keluarganya karena tidak tahan dengan sikap kasar dan keras sang nenek Dyah pun melarikan diri. Ketika itu ia berumur kurang lebih 13 tahun. Begitu kabur dari rumah,gadis yang merayakan ulangtahunnya setiap 18 Oktober ini akhirnya bertemu dengan sang ayah dan tinggal di rumah neneknya (ibu dari sang ayah). Selama menetap bersama nenek dari pihak ayah inilah,Dyah mengambil keputusan untuk memeluk agama sang ayah,Islam. Meskipun demikian,bukan berarti hubungan Dyah dengan sang ibu terputus.

“Karena kondisi ekonomi ayahku yang tidak menentu,aku sempat menghubungi ibu untuk membiayai kehidupanku terutama untuk sekolah SMU-ku. Apalagi kedua adik kembarku juga diasuh oleh nenekku dari pihak ayah,”ucap putri pasangan Suyoto-Eny Suprihatin ini. Alhasil,ibunya pun bersedia membiayai Dyah namun dengan syarat ia kembali menjadi penganut Kristen Protestan. Tanpa pikir panjang gadis penyuka cokelat ini pun menyanggupi persyaratan tersebut. Akhirnya,Dyah pun menjadi seorang kristiani.

“Meski aku sudah menganut Islam tapi akupun tidak sholat dan mengaji makanya aku mengiyakan saja untuk kembali ke agama Kristen Protestan,”jelasnya mengemukakan alasan mengapa ia balik kucing ke agama sang ibu. Kembali menjadi kristiani buka berarti Dyah menjadi penganut yang taat,ia bahkan jarang ke gereja. Anehnya,meskipun sudah berpindah keyakinan,di sekolahnya sulung dari tiga bersaudara ini masih tercatat memeluk Islam. “Kalau disekolah agamaku Islam tapi saat di rumah aku Kristen. Pada saat itu agamaku memang nggak jelas,”tambahnya dengan mimik serius.

Meskipun demikian,di sekolah Dyah sering bergaul dengan teman-temannya yang berjilbab. Bahkan ia juga telah mengenal dan sering membaca majalah Islam remaja,Annida. Kakak dari Yenny dan Yessy Kornitasari inipun mengakui jika ia merasa nyaman jika berada diantara teman-teman perempuannya yang berjilbab besar. Pergaulan Dyah dengan perempuan berjilbab pun masih berlanjut ketika memasuki bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Uniknya,motivasinya untuk lolos PTN pun lebih didasari atas keengganannya untuk dikuliahkan di sekolah perawat Kristen di Jakarta.

“Waktu itu yang terbersit dibenakku adalah gimana agar aku bisa masuk PTN dan Alhamdulillah aku lolos,”kenang gadis yang hobi membaca ini. Saat kuliah inilah,Dyah bertemu dengan teman-teman barunya yang berjilbab besar sehingga ia pun kembali mempelajari Islam secara benar seperti sholat dan mengaji. Bahkan Dyah juga bergabung dengan organisasi rohis dikampusnya dan mulai mengenakan jilbab sejak 1 Oktober 2007 silam. Walaupun begitu,bukan berarti kehidupan Dyah yang baru ini tanpa hambatan. Tak jarang ia harus menggelabui ibu dan ayah tirinya untuk menyembunyikan keislamannya.

Puncaknya saat ia berlibur ke Jakarta ketika liburan semester. “Waktu di Jakarta,aku terpaksa melepas jilbabku padahal saat itu aku sudah berjilbab besar dan aku juga ke gereja,”ujar gadis yang memiliki adik tiri ini. Hatinya pun berkecamuk,iapun sering menangis karena tidak mampu membela keyakinan barunya. Bahkan diakui juga oleh diakui juga oleh Dyah kalau dirinya akan dibaptis. Namun,semua itu dapat dilalui Dyah sampai akhirnya ia mengikrarkan keislamannya kepada kedua orangtuanya.

Momen itu bertepatan ketika ia menjalani puasa Ramadhan ditahun 2008. Dyah pun bercerita saat itu ia sedang ditelpon ayah tirinya dan sang ayah menanyakan apakah dirinya sudah makan siang atau belum. “Nggak tahu kenapa tapi yang jelas pas itu aku mempunyai keberanian untuk menjawab sedang berpuasa. Seketika itu jugaayah tiriku marah besar,”tegas mantan aktivis kampus ini. Akibat dari pengakuannya tersebut,kedua orangtuanya pun tidak mau membiayai kehidupannya lagi.

“Aku sempat stress dan sakit hati karena ibuku tidak mau mengakuiku sebagai anaknya,”tambahnya. Tak hanya itu saja,akibat dibiayai lagi Dyahpun mau tak mau harus menghidupi dirinya sendirinya. Iapun bekerja serabutan sekedar untuk menyambung hidup. Selain itu,ia juga berusaha mencari beasiswa agar tetap bisa berkuliah. “Aku pernah jualan kue pia dan bekerja di laundry,kadang-kadang juga jaga stan di pameran,”ucap perempuan yang pernah menjadi relawan sosial ini.

Berbagai kejadian dan cobaan berat yang pernah menimpanya pun tidak pernah disesali oleh Dyah. Ia tidak pernah menyesal dengan keputusannya untuk menjadi seorang muslimah karena ia termasuk tipe orang yang berani ambil resiko. Kini,Dyah juga mulai membangun lagi komunikasi dengan sang ibu. “Aku tidak mau jadi anak durhaka,”tegas gadis yang mengaku telah memiliki nama Islam,Husni Zakiah ini. Iapun berharap dikemudian hari sang ibu bisa mendapat hidayah dengan memeluk Islam seperti dirinya saat ini.(dewi sartika)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s