Prioritaskan Pasar Dalam Negeri Ketimbang Mancanegara

Posted: Desember 28, 2010 in Muamalah

Industri Rumah Tangga Garmen “Mazidah”

Memutuskan berwiraswasta justru ketika sudah mendapatkan pekerjaan mapan. Hanya bermodalkan dua juta rupiah iapun mulai membangun usahanya. Menjalankan bisnis tanpa keahlian bidang yang digelutinya. Kini,omzet usahanya telah mencapai ratusan juta rupiah perbulan. Kesuksesan yang diraihnya tidak membuatnya lupa untuk saling berbagi dengan sesama.

Berangkat dari keinginan untuk memiliki perusahaan sendiri dan tidak ingin menjadi karyawan seterusnya maka terbersitlah impian Aris Mazidah untuk berwiraswasta. Padahal saat itu ia telah berstatus karyawan pada sebuah BUMN ternama. Namun hal ini ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk membuka usaha. Maka ditahun 1996 mulailah ia menangkap peluang bisnis yang ada. Dengan modal awal dua juta rupiah,pinjaman dari tetangga iapun mulai berjualan busana muslim.

“Saat itu memang hanya punya keinginan dan keyakinan saja yang penting usaha jalan dulu,”jelas lulusan teknik elektro ini. Hebatnya lagi,langkah Aris ini tergolong berani sebab ia tidak memiliki keahlian dibidang usaha yang dijalaninya. Saat memutuskan berjualan busana muslim,Aris pun mulai menawarkan barang dagangannya ke pasar-pasar. Menurut ibu dua anak ini usaha yang dijalaninya dulu bukannya tanpa hambatan. Iapu harus bersusah payah menagih uang atau barang kepada rekan-rekan usahanya. “Kalau nggak punya keyakinan dan konsisten,bisa-bisa usaha ini nggak kan jalan,”jelasnya. Tak jarang iapun mengalami kerugian akibat uang dagangannya tidak kembali. “Sudah hukumnnya ya kalau mau bisnis ya tentu mengalami kerugian,”jawab perempuan asli Lamongan ini saat ditanya tentang usahanya yang pernah merugi.

Kini,setelah hampir 15 tahun menekuni usahanya,bisnisnya pun makin berkembang. Aris kini telah mampu memproduksi barang sendiri dengan mengusung merk Mazidah. Rumahnya pun menjadi tempat produksi sekaligus gerai showroom produk-produk Mazidah. Produk Mazidah sendiri meliputi jilbab,busana muslim,mukena dan seragam sekolah. Sedangkan dalam proses produksinya Aris mempekerjakan sekitar 50 karyawan. Jumlah karyawan tersebut termasuk pekerja yang berada diluar rumahnya. Arispun menjelaskan hal ini untuk menyiasati keterbatasan tempat produksi. Biasanya karyawan luar tersebut adalah penjahit yang sudah berpengalaman yang dibina Aris sebagai mitra usaha jika dirinya menerima banyak pesanan.

Pemasaran produk Mazidah sendiri sudah menjangkau wilayah Jawa Timur . Tak hanya saja,produknya pun telah menjangkau Balikpapan,Bengkulu dan Pulau Lombok. Selain itu usahanya ini juga telah memiliki sekitar 50 agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Meskipun produknya telah menjangkau wilayah di Indonesia namun Aris mengaku tidak tertarik lagi untuk mengekspor produknya ke luar negeri. “Dulu pemasarannya pernah ke Malaysia dan Jerman. Cuma melihat pasar Indonesia dimana mayoritas penduduknya muslim jadi prioritas pemasaran dalam negeri saja,”terangnya.

Melihat pangsa pasar produk Mazidah yang cukup besar di Indonesia tersebut maka tidak mengherankan jika omzet usaha Aris pun mencapai Rp.100-400 juta perbulan. Kesuksesan yang diraihnya pun tidak membuat wanita berjilbab ini lupa diri. Ia bahkan turut mendirikan koperasi “Kuncup Melati” untuk menunjang kesejateraan para karyawan Mazidah. Melalui koperasi ini karyawan Aris bisa melakukan usaha simpan pinjam. (dewi sartika)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s