Archive for the ‘Edukasi’ Category

Lulus SMP,Surat Nikah Keluar

Posted: Desember 29, 2010 in Edukasi

Meski berada di daerah terpencil namun bagi warga Suku Tengger Ngadas, pendidikan merupakan salah satu prioritas penting.Tidak sedikit warga Ngadas yang menimba ilmu nun jauh di Kota Malang maupun sekitarnya.Baik dibangku kuliah dan SLTA.Sayangnya,keinginan sebagian warga Ngadas untuk meningkatkan pengetahuan terkadang terhalang oleh minimnya fasilitas pendidikan yang ada di desa tersebut.

Hal tersebut diakui oleh seorang pengajar SDN I Ngadas,Wiji Amani.”Untuk sekolah dasar sendir ada 2,di Ngadas dan Jarak Ijo,sedangkan SLTP baru dibuka 2007 lalu,”terang perempuan yang telah menjadi guru Bantu selama 4 tahun tersebut.Namun,ketika ditanya tentang keberadaan SLTA,ia mengaku sampai sekarang masih belum ada karena tidak mencukupi.Akibatnya,anak-anak Ngadas yang ingin melanjutkan ke SLTA harus keluar dari desa Ngadas.Umumnya mereka melanjutkan pendidikan ke daerah sekitar seperti Poncokusumo dan Tumpang.

Sedangkan untuk perlengkapan pendidikan SDN I Ngadas terbilang masih kurang teruma alat peraga.Meskipun demikian,dilain pihak,keberadaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan pemerintah Kabupaten Malang amat membantu para siswa sekolah tersebut.Bahkan biaya sekolah dan seragam digratiskan serta buku-buku dipinjami.Lain lagi untuk siswa SLTP,biaya dan kebutuhan perlengkapan sekolah malah digratiskan semuanya.

Ketika disinggung mengenai tenaga pengajar,perempuan kelahiran 1969 tersebut menjelaskan bahwa ada beberapa orang yang membantu proses belajar mengajar di sekolah yang berstatus PNS dan sukarelawan(Sukwan).Iapun menerangkan lebih lanjut,4 sukwan yang mengajar juga masih kuliah.Saat dimintai pendapat belajar tentang perhatian orang tua di Ngadas terhadap pendidikan anak-anak mereka,ia menjelaskan bahwa orang tua siswa masih belum mempunyai perhatian yang besar terhadap untuk membuat anak-anaknya untuk belajar lebih giat lagi.”Kecenderungan orang tua disini lebih mengutamakan bekerja jadi perhatian ke anak-anak dalam hal belajar masih kurang,”imbuhnya.

Walaupun demikian,hal tersebut tidak menyurutkan anak-anak Desa Ngadas untuk melepaskan pendidikan selepas lulus SD.Terbukti,sekitar 80 persen anak-anak melanjutkan ke SLTP setelah menamatkan pendidikan dibangku dasar.Dilain pihak, kendala biaya juga membuat mayoritas anak SLTP tidak bisa melanjutkan ke bangku SLTA.Akibatnya hanya 10 persen anak yang mampu meneruskan pendidikan dibangku SLTA.

Terkait masalah pendidikan, ternyata Desa Ngadas menerapkan aturan bagi warganya yang ingin menikah.Menurut Kartono,jika ada warga yang ingin menikah maka syarat utama yang harus dipenuhi yakni minimal lulus SLTP.Jika tidak maka,perangkat desa tidak akan mengeluarkan surat nikah yang bersangkutan.Hal tersebutlah yang secara tidak langsung mendorong warga Ngadas untuk minimal mengecap bangku SLTP untuk meraih surat izin nikah. (dewi sartika)

Iklan

Belajar Politik Lewat Game

Posted: Desember 28, 2010 in Edukasi

Kemajuan teknologi yang melanda sendi-sendi kehidupan ternyata berimbas pula terhadap berbagai jenis permainan(game). Namun selama ini anggapan yang lebih berkembang jika game hanya akan membuat orang malas melakukan aktivitas lain. Bahkan tak jarang menyebabkan seseorang kecanduan. Anggapan ini tentu saja tidak berlaku pada setiap orang. Walaupun secara umum game memang memiliki efek buruk namun tak sedikit pula ada nilai positif yang dapat diambil ketika bermain game. Aneka jenis game yang ada saat ini pun tidak lebih dari hasil evolusi teknologi. Salah satu orang yang mencoba menyikapi keberadaan game secara bijak adalah Ahmad Subhan. Hal ini tentu tidak mengherankan karena lajang yang akrab disapa Subhan ini merupakan pecinta game. “Pertama kali aku mengenal game itu ketika kelas 3 SD. Saat itu lagi marak dingdong,”tuturnya mengawali pembicaraan.

Seiring dengan evolusi teknologi game, Subhan pun mulai melirik dan mencoba jenis-jenis permainan lain yang lebih canggih. Iapun tertarik dengan Playstation (PS) yang saat itu sedang booming. Pemuda asal Malang Selatan ini mengaku pada awalnya ia tidak bisa memainkan PS. Namun berkat jasa baik teman-teman yang mengajarinya, akhirnya Subhan menguasai teknik bremain PS. Untuk jenis PS sendiri, lakik-laki berzodiak capricorn ini lebih sering menjajal jenis PS 1 dan PS 2. “Kalau PS 3 nggak pernah karena harganya mahal,” jelasnya. Bahkan dengan terus terang, ia mengaku sempat menjadi pecandu PS ketika SMA kelas 3. Saking cinta matinya terhadap PS, jelang ujian nasional keesokan harinya, ia lebih memilih ber-PS-an rian ketimbang belajar.

Namun kecintaan Subhan terhadap PS pun akhirnya harus terbagi. Sejak mengais rupiah sehari-hari sebagai teknisi disebuah toko komputer, iapun mulai bersentuhan dengan game online. Tepatnya pada tahun 2005 silam. Meskipun begitu, ketika diminta untuk memilih antara PS dan game online, pemuda yang selalu merayakan ultah pada 5 Januari ini lebih menjatuhkan hatinya ke PS. Menurut lulusan D1 administrasi ini, bermain PS itu lebih mengasyikkan karena ada partner tanding. Sebenarnya hal ini tidakk jauh berbeda dengan game online. Hanya saja, Subhan menjelaskan bahwa untuk game online jauh lebih rumit karena harus ada jaringan komputer yang sama untuk mencari partner tanding.

“Kalau main game online sendiri nggak asyik karena kurang greget. Apalagi kalau pas menang. Ada gregetnya tapi ya itu datar-datar aja,” jelasnya lebih rinci tentang kekurangan game online. Walaupun game sudah menjadi bagian dari hidupnya, namun kegemarannya yang satu ini masih bisa diatur dengan baik. Jika dulu semasa masih menjadi pecandu PS ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membunuh kejenuhan. Namun saat ini Subhan hanya akan bermain PS kalau ada waktu luang. Ia pun sempat bercerita tentang rekor terlamanya bermain PS saat masih menggandrungi permainan itu. “Ketika itu aku bermain PS mulai dari jam 9 malam sampai jam 4 pagi,” ucapnya dengan senyum terkulum.

Ketika ditanya mengenai anggaran khusus yang dikeluarkan untuk bermain game, anak ke 3 dari 5 bersaudara ini tidak menjawab dengan pasti. “Yang jelas, kalau main PS biasanya di rumah dan game online pas lagi kerja di toko,” jawabnya. Bagi pemuda yang pernah menjadi juara 3 Wushu Sanshou 2009 tingkat propinsi Jatim ini, game yang paling menyenangkan untuk dimainkan adalah game strategi. Maka tidak mengherankan jika Subhan mempunyai banyak game strategi yang menjadi favoritnya, seperti Empire Earth, Age of Empire, Red Alert, Winning Eleven dan Need for Speed. “Aku lebih suka game yang lebih kearah berpikir alias pake otak,” katanya mengemukakan alasan memilih game strategi. Setidaknya dimata lelaki penyuka ayam goreng ini game strategi memliki nilai lebih dibandingkan jenis game lainnya. Hal ini pulalah yang secara tidak langsung mempengaruhi profesinya sebagai teknisi. Terkadang ketika sedang mengutak-atik komputer, ia lebih sering berpikir terlebih dulu sebelum memutuskan mmeperbaiki hardisk komputer.

Bahkan Subhan pun tak segan untuk menganalogikan bermain game strategi ibarat membangun sebuah negara. Menurut pemuda yang sempat menimba ilmu di VEDC Malang ini, jika ingin belajar tentang politik cukup lewat game strategi. “Di game strategi itu seperti mendirikan negara. Mulai dari membangun perekonomian negara dengan mendirikan pasar dulu sampai mendirikan benteng sebagai pertahanan,” tukasnya. “Untuk itu kita dituntut agar berhati-hati dalam bertindak dan berrpikir dahulu sebelum memutuskan sesuatu,” lanjut aktivis Pemuda Muhammadiyah cabang Klojen ini. (dewi sartika)

 

 

 

Seni Mendidik Buah Hati

Posted: November 18, 2010 in Edukasi

 Dewasa ini, banyak orangtua yang salah kaprah di dalam mendidik anak-anaknya. SECARA umum, seluruh orangtua pasti meminginginkan buah hatinya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Islam memandang anak sebagai aset masa depan, yang akan penyuplai  pahala bagi orangtuanya. Rasulullah telah mencontohkan beberapa seni islami dalam membimbing anak-anak beliau, sahabat-sahabat beliau, sehingga menjadi pribadi-pribadi yang mulia, yang berakhlakul karimah, sekelas Ali bin Abi Thalib, dan putri beliau sendiri, Fathimah:

1. Memberi Teladan
Memberi teladan yang baik kepada anak, merupakan suatu keharusan bagi orangtua yang ingin anaknya tumbuh sebagai orang yang berperilakuan baik. Sebab, bagaimanapun juga, sebagai anak, tentu mereka akan bercermin kepada tingkah laku orangtuanya di dalam bertindak. Jangan sampai, larangan yang kita berikan secara verbal, justru bertolak belakang dengan perbuatan kita. hal ini lah terkadang  yang menyebabkan turunnya wibawah orangtua di mata anak. “ayah/ibu sendiri kayak gitu”. Bantahan-bantahan seperti ini menunjukkan akan adanya degradasi martabat orangtua di mata anak. Hal ini akan terjadi ketika orangtua tidak mampu memberikan teladan terhadap apa yang ia ucapkan sendiri.


2. Bercerita
Sungguh sepertiga dari isi Al-Quran itu adalah berisi tentang kisah-kisah nyata orang terdahulu. Dan tidak lain tujuannya, agar supaya umat manusia mengambil pelajaran dari mereka, baik dari golongan yang mulia, ataupun dari mereka yang dimurkai. Nasehat yang kita berikan dengan pola demikian, akan lebih mudah bagi mereka untuk mencernanya. Cara mendidik model ini, pun telah dipraktekkan oleh Rosulullah dalam membina umatnya. Sebab itu, orangtua dituntut untuk memiliki segudang kisah-kisah dan mampu mengemasnya dengan baik.

3. Menyertai Bermain
Di tengah kehidupan yang menjadikan harta sebagai setandar kebahagiaan seperti saat ini, tak jarang orangtua lebih memilih untuk meningggalkan anaknya, demi meniti karer, atau bisnisnya. Apapun alasan yang mendasari keputusan mereka tersebut, tentu tidak serta merta dibenarkan. Anak memiliki hak untuk ditemani berjengkrama. Jangan sampai, karena alasan bisnis, orangtuanya membiarkan anaknya tergilas moralnya, karekternya oleh lingkungan sekitar, baik itu teman mainnya, ataupun tontonan yang ia lihat dari layar kaca.

4. Menciptakan Kondisi Untuk Berbuat Baik

Ada pepatah yang mengatakan, “belajar di waktu kecil, bagaikan mengukir di atas batu.”. secara tersirat, pribahasa ini memeberi tahu kita, bahwa mengarahkan anak yang masih berusia dini untuk menjadi sosok yang berakhlakul karimah, itu relatif lebih mudah, ketimbang mereka yang sudah ‘kadar luarsa’. Sebab itu, orangtua harus mampu menciptakan kondisi agar anak tertarik untuk berbuat baik. Rasulullah bersabda,
“bantulah anak-anakmu untuk dapat berbakti (kepada orangtuanya) bagi siapa yang ingin anak-anaknya tidak durhaka ke pada mereka (orangtua) (HR. Thabrani).

5. Menanamkan Kebiasaan Baik
Suatu perbuatan, apa bila itu telah menjadi kebiasaan, maka ia akan berubah menjadi karakter bagi si-pelaku. Karenanya, kita harus membiasakan putra-putri kita untuk berbuat baik sedari dini mungkin, sehingga, kebiasaan-kebiasaan positif  yang telah tertanam sejak kecil, benar-benar tertancap pada jiwa mereka, yang kemudian menjelma menjadi karakter pribadian. Akhirnya, jadilah ia sosok yang memiliki jiwa yang luhur, lagi terpuji.

6 Mencontohkan Figur Yang Benar
Seiring dengan derasnya acara-acara TV tak jarang membuat anak-anak tertarik untuk mengidolakan sosok atau figur yang tolak ukurnya bukan kepada akhlak mereka, namun lebih dipacu kepada mereka yang memiliki ketenaran secara publik, sekalipun akhlak mereka busuk. Hal yang demikian ini, tentu sangat membahayakan bagi kepribadian anak-anak. Kenapa? Sebagai pengidola, tentulah mereka akan melacak segala hal yang berkaitan denga si-idola, bahkan, bukan suatu yang tak mungkin mereka akan meniru apa yang mereka dapatkan, sekalipun hal tersebut sesuatu yang tercela.

Karenanya, sebagai orangtua, sepantasnya memilihkan figur yang baik bagi anak-anak mereka, sehingga tidak salah pilih. Para nabi, sahabat, ulama adalah sosok yang patut diteladani.Berkaitan dengan hal memilih figur, Syaidina Ali pernah berkata, “Didiklah anak-anak kamu sekalian dengan tiga sifat yang baik, yaitu: cinta kepada Nabimu (Muhammad), cinta kepada anggota keluarganya, dan cinta untuk membaca Al-Quran.” (HR. Thabrani dan Ibnu Najjar)


7. Santun
Tak jarang orangtua karena kesal terhadap perilaku anak-anaknya yang bertentangan dengan apa yang mereka (orangtua) inginkan, bentakanpun akhirnya meluncur pada anak bani adam yang masih polos-polos ini. bahkan, terkadang, tanganpun ikut ‘berbicara’ dengan cara menjewer, mencubit, dan lain sebagainya.

8. Memberi Dorongan dan Peringatan

Cinta seorang muslim terhadap anaknya, bukanlah cita yang buta, akan tetapi, justru kecintaannya tersebut mampu menghantarkan keduanya lebih kenal dan cinta kepada Allah. inilah cinta hakiki seorang ayah/ibu yang taat beragama kepada anaknya. Sebab itu, mereka senantiasa memberi dorongan kepada anaknya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dan menegurnya ketika lalai, ataupun sebagainya.

 *Dirangkum dari artikel yang dimuat pada http://www.hidayatullah.com

Delapan Kunci “Menjaga” Anak

Posted: November 12, 2010 in Edukasi

Anak merupakan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena amanah, maka kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada kita atas amanah tersebut. Jika anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya akan membawa bencana dunia dan akhirat.

Ada apa yang salah dengan kita, para orangtua? Bukankah kita semua ini, adalah para sarjana dan orang-orang terdidik?

1. Akidah yang Benar

Sesungguhnya, agama kita (Islam) telah menetapkan banyak hal, termasuk masalah pendidikan pada anak. Ini hal yang sangat penting. Jika anak-anak memiliki akidah yang benar, maka itu lahan subur bagi tumbuhnya kebaikan-kebaikan. Tidak ada kebaikan pada diri anak yang akidahnya melenceng.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak, aku akan ajarkan padamu beberapa kalimat: Jagalah Allah pasti engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak bisa menolongmu dengan sesuatu kecuali atas hal yang telah Allah takdirkan. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk mencelakaimu, mereka tidak bisa mencelakaimu dengan sesuatu kecuali atas yang telah Allah takdirkan, pena-pena telah diangkat dan catatan-catatan telah kering.” (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)

2. Memohon Pahala

Rasulullah bersabda, “Jika seseorang menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka baginya adalah pahala sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Mas’ud)

3. Diingatkan Shalat

Shalat merupakan kewajiban paling utama seorang hamba terhadap Allah. Rasulullah menegaskan, “Perintahkan anakmu untuk shalat saat usia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)

4. Menuntun Berakhlak Baik dan Memperbaiki Kesalahan

Umar bin Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu saat masih kecil dalam asuhan Rasulullah, tangannya ke sana ke mari di atas makanan. Dia bersabda, “Wahai anak, bacalah ‘Bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat darimu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abu Salamah)

5. Memisahkan Tempat Tidur

Memasuki usia sepuluh tahun, pisahkanlah tempat tidurnya. Anak-anak pada usia ini sudah terhitung dewasa dan mendekati masa baligh (puber), gairahnya mulai muncul. Maka memisahkan tidur mereka akan mencegah petaka yang tidak diinginkan. Rasulullah bersabda, “…pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)

6. Berlaku Adil

Tidak bijak bila membeda-bedakan anak dalam berinteraksi dan menafkahi. Perlakuan pilih kasih kerap membawa permusuhan di antara saudara. Hal itu merupakan bentuk kezhaliman terhadap anak.

Rasulullah bersabda, ”Aku tidak akan bersaksi atas suatu kejahatan, takutlah kamu kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir)

7. Lemah Lembut, Bermain, dan Mencium

Rasulullah tidak segan mengajak anak-anak untuk bermain, berlaku lemah lembut, serta mendekati dan mencium mereka. Simaklah bagaimana cara Rasulullah memanggil mereka, “Wahai anakku.”

8. Tegas Saat Diperlukan

Anak yang tidak pernah mendapat hukuman (saat diperlukan) akan mempunyai tabiat yang kurang bagus. Hendaklah orangtua bisa menunjukkan kepada anak-anak dan keluarganya bahwa dia adalah orang yang tegas dan keras saat kondisi mengharuskan itu.

Rasulullah pernah bersabda, “…pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Juga, “Gantunglah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluargamu, karena hal itu akan menjadi sebuah pelajaran.” (Riwayat Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad)

Selain yang terurai di atas, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya, lalu mengajari ilmu yang membawa kemanfaatan dunia dan akhirat, serta tidak mendoakan yang buruk kepada mereka (anak-anak). [Ali Athwa, berbagai sumber]

sumber:www.hidayatullah.com

Museum Zoologi  Frater Vianney ,BHK

Umumnya, mayoritas pengunjung yang bertandang ke museum lebih didominasi anak-anak sekolah terutama tingkat SD. Bahkan dalam bulan tertentu, SD yang berkunjung ke museum bisa mencapai 20 sekolah per bulan. Meski dikalangan masyarakat umum tidak begitu populer namun dikalangan sekolah, museum zoologi Vianney telah mendapat tempat dihati para siswa sekolah. Museum zoologi Vianney sendiri pun menyediakan kegiatan belajar yang dinaamakan paket belajar mollusca bagi para pengunjung mulai dari tingkat taman kanak-kanak  sampai perguruan tinggi atau umum. Dalam paket belajar mollusca tersebut, pihak sekolah dapat memilih materi sesuai dengan  kebutuhan sekolah. Biasanya, sebelum mendapatkan materi, para siswa akan mengisi soal pre-test. Begitu juga setelah selesai mendapatkan materi, para siswa kembali mengisi post-test untuk membandingkan kemampuan mereka sebelum dan sesudah mengikuti paket belajar mollusca. Dalam kegiatan belajar tersebut para siswa akan dibimbing oleh tentor yang disediakan museum zoologi. Selama kurang lebih 1,5 jam, para siswa akan diajak mengenal lebih dekat tentang dunia flora serta fauna (satwa). Selain materi indoor, terkadang para siswa sekolah juga mendapat materi outing serta melakukan outbond. Tentu saja, outing dan outbond disesuaikan dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan. Untuk outing sendiri, pihak museum akan mnyediakan tentor tambahan untuk mendampingi para siswa dalam belajar. Sedangkan untuk outbond, biasanya para siswa akan diajak ke Coban Rondo. ”Untuk mengikuti paket belajar mollusca dihari efektif, tiap anak akan dikenakan biaya belajar sebesar 10 ribu rupiah dan akan mendapatkan topi serta lembar isian,” jelas Denise Resianini,pengelola museum. Denise pun menerangkan bahwa biaya yang dikenakan itu bukan biaya tiket masuk sebagaimana umumnya taman rekreasi karena biaya tersebut akan kembali lagi kepada para pengunjung (siswa sekolah). Sedangkan jika pihak sekolah menghendaki paket belajar mollusca diluar pukul 07.00 – 13.30 wib, maka akan dikenakan biaya overtime kantor dan pegawai yang harus ditanggung sekolah yang bersangkutan. Pihak museum sendiri juga menyediakan paket hemat berupa diskon khusus untuk rombongan lebih dari 40 orang. Ternyata, pengunjung yang mengikuti paket belajar mollusca ini tidak hanya dari Malang namun juga berasal dari luar kota seperti Ngawi, Jember, Surabaya, Pasuruan dan Probolinggo. Sedangkan beberapa sekolah di Malang yang mengagendakan kunjungan rutin ke museum zoologi Vianney adalah SD Anak Saleh, TK Wonder Bridge, sekolah Kalam Kudus serta SMPN I Malang. Denise juga menerangkan jika dalam proses kegiatan belajar terhadap anak-anak sekolah terutama tingkat SD, pihak museum menerapkan metode konstruktifiktif. Dalam metode yang tidak lazim tersebut sebagaimana metode belajar disekolah, semua anak yang datang ke museum untuk belajar dianggap sebagai scientists. Maksudnya, anak-anak yang belajar tidak hanya sebagai objek pembelajaran. Penggunaan metode konstruktifiktif inilah yang terkadang merepotkan para tentor yang mengajar. Bahkan tidak jarang beberapa tentor mengundurkan diri karena belum siap menghadapi anak-anak yang aktif bertanya. ”Jangan dikira bahwa anak-anak SD kemampuannya hanya sebatas itu saja, terkadang pertanyaan yang diajukan sangat kritis dan menyamai mereka yang kuliah,’’pungkasnya. (dewi sartika)

Hello world!

Posted: Oktober 15, 2010 in Edukasi

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!