Archive for the ‘Resensi Buku’ Category

Inilah buku yang wajib dibaca oleh para pengajar dan orangtua. Buku yang karya Tetsuko Kuroyanagi ini merupakan sebuah kisah nyata yang dialami penulis ketika masih kecil. Menceritakan pengalaman penulis saat belajar di sekolah dasar. Melalui tokoh yang bernama Totto-chan yang tak lain panggilan kecil Tetsuko Kuroyanagi,penulis seakan ingin menyampaikan pesan bagaimana seharusnya seorang anak diperlakukan dengan baik. Buku ini dibuka dengan kisah Totto-chan yang dikeluarkan dari sekolah formalnya gara-gara sering berdiri didekat jendela kelas saat pelajaran berlangsung.

Ibu guru yang tak tahan dengan ulah Totto-chan pun akhirnya mengeluarkannya dari sekolah. Hebatnya lagi,ibu Totto-chan tidak memarahi gadis kecilnya itu dan memasukkannya ke sebuah sekolah informal. Di tempat barunya inilah Totto-chan akhirnya menemukan dunianya. Ia tidak lagi merasa terpenjara dengan sistem pendidikan yang membelenggu keingintahuannya sebagai anak kecil. Uniknya,sekolah baru Totto-chan yang bernama Tomoe Gakuen ini hanya terdiri dari beberapa gerbong kereta bekas yang dijadikan kelas. Tomoe Gakuen juga mendekatkan Totto-chan dengan alam serta berbagai karakter manusia.

Buku yang menjadi best seller di Jepang pada tahun 1982 ini merupakan nostalgia Tetsuko Kuroyanagi terhadap masa sekolahnya. Kumpulan cerita yang ada dibuku ini diperuntukkan untuk mengenang Sosaku Kobayashi,pendiri sekaligus kepala sekolah Tomoe Gakuen. Bagi Totto-chan sosok Mr. Kobayashi adalah sosok yang berani tampil beda dalam dunia pendidikan Jepang pada saat itu. Hal ini tercermin dari salah satu kisah dimana Totto-chan mencedok kotoran kakus demi mencari dompetnya yang terjatuh. Melihat hal tersebut,Mr. Kobayashi bukannya menawarkan bantuan tapi hanya bertanya apakah Totto-chan akan mengembalikan semua kotoran itu jika sudah selesai?. Selain itu,banyak pula dialog cerdas yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh yang ada dibuku ini.

Sekolah Tomoe Gakuen merupakan salah satu dari sedikit sekolah informal yang ada di Jepang ketika itu. Sistem pengajaran sekolah itu memang bisa dikatakan ‘revolusioner’ untuk ukuran pada masanya. Bagaimana tidak,seting kisah ini terjadi pada tahun 1930-an jelang Perang Dunia II. Sekali lagi,sosok Sosaku Kobayashi-lah yang berada dibelakangnya. Inti pembelajaran yang ingin ditanamkan Mr. Kobayashi adalah bahwa anak dilahirka dengan watak baik dan lingkunganlah yang berpengaruh terhadap anak tersebut. Sama dengan teori tabularasa-nya John Locke. Selain itu ,Mr. Kobayashi juga menginginkan agar setiap anak tumbuh menjadi seseorang dengan kepribadian yang khas.

Banyak pelajaran moral dan budi pekerti yang tersaji dalam buku ini. Tidak mengherankan jika pada akhirnya buku ini menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah Jepang. Melalui isi buku ini pula seoah-olah kita diajarkan untuk melihat sisi lain dari seorang anak kecil. Keingintahuan yang biasa dimiliki seorang anak hendaklah dapat disikapi secara bijak. Tidak perlu menjustifikasi anak itu nakal hanya karena banyak bertanya dan melakukan hal-hal yang aneh menurut ukuran orang dewasa. Pada akhirnya buku Totto-chan ini bisa memberikan pencerahan terhadap pembacanya seputar dunia anak dan pendidikannya. (dewi sartika)

Iklan

Keajaiban Sedekah

Posted: Desember 22, 2010 in Resensi Buku

Sedekah bagi sebagian orang bisa jadi merupakan hal remeh. Mudah namun sulit untuk dilakukan. Bagaimana tidak,sedekah umumnya berkaitan dengan uang yakni menyisihkan uang yang dimiliki atau melakukan suatu hal dengan ikhlas. Maka tidak mengherankan jika pada akhirnya sedekah menjadi suatu hal yang berat tak terkecuali bagi orang muslim sendiri. Padahal sedekah merupakan bagian dari ajaran agama Islam sebagai penyempurna amal ibadah seorang muslim.

Terkait hal ini pula terbitlah buku Dahsyatnya Sedekah 2. Buku ini adalah lanjutan dari buku yang sebelumnya diterbitkan dengan judul serupa. Bahkan sebagian cerita dari buku tersebut telah diangkat ke layar televisi. Apresiasi masyarakat pun sangat baik sehingga menginspirasi munculnya Dahsyatnya Sedekah 2. Serupa dengan buku pertama,buku Dahsyatnya Sedekah jilid 2 ini juga masih menampilkan testimoni banyak orang terkait dengan amalan sedekah mereka. Awalnya memangnya sulit untuk melacak keberadaan para donatur ini tetapi berkat berbagai pendekatan yang dilakukan maka keberadaan para dermawan ini pun berhasil diketahui untuk berbagi kisah.

Buku ini memaparkan kisah sedekah berbagai golongan masyarakat mulai dari cleaning service bernama Warlim yang sukses menjadi sekretaris direktur sampai kisah selebritis,Rina Gunawan. Setidaknya ada sekitar 50 kisah mengharukan seputar pengalaman para donatur ketika bersedekah. Seperti kisah Muhammad Taufik mulai rutin mengeluarkan zakat 2,5 persen dari gajinya setelah mendengarkan petuah sang bunda untuk memperbanyak sedekah jika ingin kaya. Begitu juga pengalaman Dessi Zailina yang diingatkan sang anak agar tidak pelit bersedekah setelah musibah beruntun menghampirinya maupun cerita Zaky Husein seorang penyiar radio yang kebanjiran job lantaran sedekah.

Testimoni para donatur yang termuat dalam buku ini terkait dengan sedekah pun tidak selalu identik dengan uang. Namun,sedekah bisa berupa senyum yang biasa diterapkan Warlim yang berbuah kuliah gratis atau sikap yang ditunjukkan mantan Menteri Pertanian,Anton Aprianto yang dengan ikhlas berbagi pengetahuannya serta menyediakan kantor kerjanya di IPB untuk mahasiswanya yang beragama Katolik. Atau kisah Yanto Abdillah yang dengan tulus ikhlas merawat adiknya yang mengidap penyakit asma bronchitis. Intinya,sedekah tidak hanya tentang bagaimana dengan ikhlas mengeluarkan uang namun hal-hal terkecil jika dilakukan dengan ikhlas pun bisa menjadi sedekah.

Buku ini sebaiknya dibaca karena kandungan isinya yang menggugah nurani. Selain itu isi buku Dahsyatnya Sedekah 2 ini juga ringan sehingga bisa menjadi hiburan alternatif. Namun yang tak kalah penting dari buku ini adalah ajakan untuk mulai belajar bersedekah terutama bagi orang Islam. Dahsyatnya Sedekah 2 ini mencoba memotivasi pembaca agar tidak ragu-ragu ataupun berat hati saat akan bersedekah karena melalui kisah-kisah yang ditampilkan sesungguhnya banyak keajaiban dibalik sedekah.  (dewi sartika)

Rahasia Sukses Bangsa Yahudi

Posted: Desember 10, 2010 in Resensi Buku

Benarkah bangsa Yahudi adalah umat pilihan Tuhan ? Lalu,benarkah dengan keistimewaan tersebut sehingga kaum Yahudi diberi berbagai kelebihan intelektual dibanding bangsa lain di dunia ? Mengapa orang Yahudi yang jumlahnya tak lebih dari 20 juta orang mampu mendominasi dunia dan mengalahkan umat Islam yang populasinya 1 milyar? Ataukah semua itu hanya sekedar mitos ?, Bisakah bangsa lain di dunia ini terutama orang Islam bisa menggantikan dominasi Yahudi ?

Berbagai deretan pertanyaan tersebut memang pantas diajukan jika melihat kiprah orang-orang Yahudi saat ini. Tak ada bidang kehidupan yang tidak dikuasai oleh mereka mulai dari sektor politik,bisnis sampai industri hiburan. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui mengapa bangsa Yahudi bisa menjadi super power di dunia ini. Anggapan yang beredar selama ini lebih mengedepankan mitos daripada nalar.Yahudi bisa menguasai dunia karena mereka adalah bangsa terpilih Tuhan sehingga wajar jika Tuhan memberi kelebihan kepada mereka. Namun,tak sedikit peneliti yang membantah mitos tersebut.

Salah satu peneliti sekaligus penulis yang membantah anggapan tersebut adalah Toto Tasmara. Melalui buku “Yahudi Mengapa Mereka Berprestasi” ini,penulis berusaha membuka cakrawala pembaca bahwa keberhasilan orang Yahudi menguasai dunia bukan karena mereka sebagai kaum pilihan Tuhan. Seperti umumnya kunci sebuah kesuksesan,bangsa Yahudi pun harus tertatih-tatih dan bekerja keras terlebih dahulu untuk mendapatkan seperti apa yang kita saksikan sekarang. Faktor sejarahlah yang membuat mereka dapat bangkit dari keterpurukan dan bisa bertahan hingga sekarang. Bahkan mereka mampu mewarnai peradapan dunia.

Uniknya,keberhasilan kaum Yahudi justru banyak dipengaruhi oleh kegemilangan Islam di masa lampau. Zaman keemasan intelektual Islam di Andalusia yang melahirkan para jawara cendekiawan muslim seperti Ibnu Arabi,Ibnu Rusyd dan Ibnu Tufail ternyata memberikan konstribusi besar terhadap pemikiran tokoh Kristen seperti Thomas Aquinas,Immanuel Kant sekaligus pemikir Yahudi Musa ben Maimunides. Sayangnya,masa kegemilangan tersebut runtuh seiring berakhirnya kekuasaan islam di Andalusia. Akibatnya bangsa Yahudi lagi-lagi mengalami penderitaan berkepanjangan. Namun bedanya dengan bangsa lain,ditengah derita tiada tara tersebut kaum Yahudi mampu bertahan dan bangkit. Dalam bukunya,Toto menyebutkan bahwa faktor milleniarisme dan mesianisme (keyakinan akan datangnya Sang Messiah) yang menjadi motivasi utama kebangkitan Yahudi kala mengalami penindasan oleh bangsa lain.

Selain itu faktor sebagai bangsa pilihan Tuhan turut mempengaruhi eksistensi keberadaan Yahudi di dunia ini. Cara pandang seperti inilah yang ditafsirkan orang Yahudi bahwa segala penderitaan yang telah mereka alami justru untuk mengukuhkan kebenaran mitos tersebut. Ujian berupa penderitaan adalah tantangan untuk membuktikan bahwa mereka bisa bertahan karena mereka umat terpilih dan suatu saat akan mampu menguasai dunia. Status sebagai umat terpilih pula sehingga mereka menganggap orang-orang non-Yahudi merupakan budak sehingga tidak mengagetkan jika orang Yahudi enggan untuk melakukan pernikahan silang.

Hal ini bertujuan untuk menjaga kemurnian ras Yahudi serta memelihara kecerdasan mereka.Selain itu orang-orang Yahudi tampaknya tahu betul bagaimana memaknai arti sebuah avodah (pelayanan atau ibadah) kepada Tuhan. Orang Yahudi tidak hanya memaknai avodah sebagai ritual ibadah saja namun sekaligus menjadi sumber motivasi bagaimana agar bisa mengaktualisasikan diri dan mewarnai peradapan dunia. Maka tidak mengherankan jika orang-orang Yahudi adalah tipe pekerja keras. Bagi mereka,kesuksesan hanya bisa didapat melalui kerja keras yang membuahkan prestasi. Sebagai bangsa pilihan Tuhan,mereka akan merasa malu jika tidak mampu menghasilkan karya besar.

Tidak hanya itu saja untuk melahirkan generasi unggul sedari awal para orangtua Yahudi pun menyadari betapa pentingnya pola pendidikan anak. Pendidikanlah yang menjadi ruh kehidupan dan kesuksesan bangsa Yahudi saat ini. Disamping pendidikan formal ternyata pendidikan agama juga diberikan secara intensif dengan mengajarkan kitab Talmud dan Taurat. Menginjak usia yang dianggap dewasa yakni 13 tahun dan 12 tahun (dalam istilah Yahudi disebut Bar Mitzvah),anak-anak diajarkan untuk berpikir kritis,belajar mandiri,disiplin dan bertanggung jawab. Tidak hanya itu saja,anak-anak Yahudi juga diajarkan untuk menguasai bahasa Hebrew dan bahasa Inggris. Para orangtua pun mendikte anak-anak mereka agar gemar membaca dadn membelikan buku-buku sekalipun harganya mahal. Kebiasaan membaca orang-orang Yahudi ini hanya dapat dikalahkan oleh orang Jepang. Meminjam pepatah Islam “ibu adalah madrasah pertama” maka orang Yahudi pun menyadari betapa vitalnya peran ibu dalam mendidik anak-anak dalam hal menumbuhkan kepercayaan diri dan belajar menjadi dermawan.

Melihat pola pendidikan yang diterapkan terhadap anak-anak Yahudi tersebut maka tidak perlu kaget jika saat ini kita melihat kiprah,Segey Brin (penemu search engine Google),Mark Zuckerberg (pendiri Facebook),Michael Dell (pendiri Dell Computer). Bahkan ada ungkapan, dimana pun ada komputer maka di belakang mereka pasti ada Yahudi. Hal ini tentu sangat beralasan karena bagi mereka menguasai dunia informasi internet berarti menguasai dunia. Belum lagi para tokoh Yahudi lain yang berkecimpung di dunia media massa,hiburan,ekonomi,pendidikan dan pemerintahan. Maka bermunculanlah nama-nama Steven Spielberg (sutradara),Alan Greenspan (chairman Federal Reserve),Jonas Salk (penemu vaksin polio),Ralph Lauren (desainer) dan Henry Kissinger (penerima Nobel Perdamaian 1973).

Bercermin dari kesuksesan itulah,setidaknya ada lima karakter unik yang mendasari kepribdian orang-orang Yahudi (hal.102) yaitu ethnocentrism (memiliki kebanggan,bahkan fanatisme rasial),intelligence (mengembangkan metode kecerdasan yang kuat),psychological intensity (daya kesungguhan dan intensitas psikologi),assertiveness and aggressiveness (memiliki kemampuan untuk meyakinkan dan bersifat agresif),effective group (memiliki daya gerak dan efektivitas kelompok). Menurut Toto,dengan kelima sifat inilah yang membuat Yahudi sangat slit dikalahkan meskipun mereka minoritas namun efektivitas yang dimiliki sangat mengagumkan.

Pada bagian akhir bukunya,Toto Tasmara pun mengungkapkan betapa budaya prestasi Yahudi tercipta karena adanya kekentalan komunitas,mitos sebagai umat pilihan dan keberaniannya mengubah menghalang menjadi peluang,menggubah suasana represif sebagai pemacu berpikir kreatif (hal.211). Iapun berpendapat agar umat Islam bisa menyamai atau bahkan melebihi bangsa Yahudi perlunya untuk merevitalisasi pola pendidikan yang telah ada. Hal ini dimulai dengan character building (pembangunan akhlak) sebagaimana yang diterapkan pada masa keemasan di Andalusia yang berorientasi pada iman,ilmu dan amal. Pada akhirnya,buku ini akan mengajak anda agar makin termotivasi untuk mengejar kesuksesan bangsa Yahudi denga cara menengok kembali ke nilai-nilai yang telah ada dalam Islam.