Archive for the ‘Sosok’ Category

Kena PHK,Dirikan Perpustakaan Anak Bangsa

Posted: Desember 29, 2010 in Sosok

Dialah sosok dibalik berdirinya Perpustakaan Anak Bangsa. Berkat kerja keras dan semangatnya untuk berbagi dengan sesama,laki-laki ini berusaha keras untuk mempertahankan keberadaan perpustakaan yang didirikan saat berusia 18 tahun ini. Tidak mudah memang bagi pria bernama lengka Eko Cahyono ini untuk mempertahankan Perpustakaan Anak Bangsa agar tetap buka. Apalagi masalah yang dihadapinya tidak mudah yakni belum memiliki tempat permanen sehingga tidak mengherankan jika perpustakaannya sering pindah-pindah.

Ketertarikan lelaki yang biasa disapa Eko ini dimulai ditahun 1998 saat jumlah koleksi bacaannya semakin banyak. “Aku mempunyai hobi baca dan waktu itu aku memiliki banyak tumpukan koran dan majalah. Dari sinilah aku berniat untuk mendirikan perpustakaan,”ucap lajang kelahiran 1980 ini. Uniknya,selain alasan tersebut Eko pun mengakui bahwa sebenarnya motif utama untuk mendirikan perpustakaan ini sebagai pelarian semata. “Saat itu aku kerja sebagai buruh pabrik tapi ditahun 1998 kena PHK sehingga nggak ada kerjaan lagi,”tambahnya.

Berangkat dari hal itulah maka anak bungsu dari tiga bersaudara ini menyulap rumahnya yang sederhana menjadi perpustakaan. Bahkan untuk menarik minat warga sekitarnya Eko juga menyediakan alat-alat permainan. Alhasil,banyak warga yang berdatangan ke rumahnya walaupun hanya untuk bermain. “Karena banyak yang datang maka harus ngantri. Biasanya pas ngantri inilah mereka membaca,”tutur putra pasangan Supeno dan Ponisan ini. Namun,hal ini justru menuai masalah baru karena orangtua Eko justru keberatan karena banyaknya orang yang datang ke rumah. Maka,Ekopun memutuskan pindah dengan mengontrak rumah sendiri.

Hebatnya lagi laki-laki yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar ini membiayai sendiri seluruh keperluan perpustakaannya. Termasuk untuk biaya sewa rumah dan keperluan operasional Perpustakaan Anak Bangsa. Padahal ia sendiri hanyalah pekerja serabutan. “Aku sering diminta untuk jaga stan ketika ada pameran buku. Dari upah inilah aku membiayai kehidupanku termasuk untuk perpus,”jelas pria yang hobi berolahraga ini. Eko pun menjelaskan untuk biaya operasional perpustakaannya sendiri bisa menghabiskan sepuluh ribu per hari.

Berkat usaha mulianya dalam mengelola Perpustakaan Anak Bangsa yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun inilah akhirnya Eko memetik hasilnya. Perpustakaannya sering diikutkan dalam perlombaan dan menang. Selain itu,ia juga pernah diundang ke stasiun televisi seperti menjadi bintang tamu di acara Kick Andy. Bahkan di kompetisi yang diadakan acara ini pula ia sukses menjadi juara dua Kick Andy Heroes 2010. “Gara-gara setelah tampil di Kick Andy ponselku sampai rusak karena menerima 500-an sms dalam sehari,”kenang juara dua lomba penulisan kisah inspiratif 2010 oleh Forum Lingkar Pena (FLP) UM ini. Terakhir,Eko bahkan menerima Piala Nugra Jasadharma Pustaloka 2010 yang diadakan Perpusnas RI Jakarta.

Tidak hanya itu saja,selama mengelola Perpustakaan Anak Bangsa Eko juga memperoleh banyak pengalaman menarik dan penuh inspirasi. Meskipun begitu,setidaknya ada satu peristiwa yang sangat membekas dihatinya. Ketika itu ia diminta mengambil buku sumbangan di Turen oleh seorang donatur. “Nyari rumahnya benar-benar susah karena nggak ada alamatnya,”kata pemenang Mutiara Pendidikan 2010 ini. Ternyata selain buku ,sang donatur yang bernama Lena itu juga turut menyumbangkan mukena. “Mukena inilah yang akhirnya diambil tetanggaku. Sejak punya mukena dia rajin sholat dan ke masjid karena sebelumnya dia nggak punya mukena. Kalaupun sholat itupun pinjam sarung suaminya,”tambahnya.

Selain pengalaman diatas,Ekopun memperoleh hikmah lain selama ia mengurus Perpustakaan Anak Bangsa. Kini,ia memiliki banyak teman yang tersebar di daerah Malang. Bahkan tak jarang teman-temannya tersebut memberikan dukungan dan bantuan terhadap kiprah Eko. Walaupun tak jarang juga mereka mengkritik Eko yang bak selebritis karena seringnya ia menjadi pemberitaan di media cetak. Tak hanya itu saja tak sedikit pula orang yang mencibirnya. Terkait hal ini,Ekopun terkesan santai dan tidak menanggapinya secara serius. Baginya,seringnya ia muncul di media cetak bukanlah keinginannya

Berbagai pengalaman menarik dan penuh hikmah yang dialami nya membuat Eko terinspirasi untuk membuat sebuah buku. Bahkan ia juga bermimpi membuat autobiografi tentang kehidupannya. ‘Saat ini sedang dalam proses menulis dan sudah ada penerbit yang menawari,”urai laki-laki yang turut membantu orangtuanya berjualan ini. Meskipun secara ekonomi kehidupannya pas-pasan namun Eko tetap bersyukur atas kehidupannya termasuk banyaknya teman yang dimilikinya. “Aku merasa orang yang paling beruntung didunia karena mempunyai banyak teman dan itu sebuah berkah,”pungkasnya. (dewi sartika)

Latar belakang keluarga yang tidak mampu ternyata mampu menginspirasi seseorang untuk memanfaatkan hidupnya bagi orang lain. Setidaknya hal ini tercermin dari sosok Mochammad Amrullah. Sabda Rasulullah yang berbunyi sebaik- baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain pun seakan menjadi pedoman hidup bagi pemuda yang akrab disapa Amru ini. Aktivitas hariannya pun tidak bisa dilepaskan dari anak-anak jalanan (anjal) dan kaum miskin. Bahkan Amru mengaku jika ia memulai aktivitasnya seperti ini hanya bermodalkan nekad semata.

Amru mulai bersentuhan dengan aktivitas sosial ini sejak tahun 2005 lalu. Kehidupan masa kecilnya yang sulit serta berasal dari keluarga miskin ini justru membuatnya makin menumbuhkan kepedulian sosialnya. “Dulu untuk bisa bertahan sekolah saja aku harus kerja dan aku sering dikeluarkan karena nggak mampu bayar. Makanya sekarang aku ingin anak-anak miskin agar bisa tetap sekolah,”ucap lelaki kelahiran Banyuwangi ini. Maka tidak mengherankan jika sejak lima tahun silam,Amru mulai aktif memperhatikan nasib anak-anak tidak mampu ini. Tahun 2005,iapun bersama tiga temannya berinisiatif mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Griya Baca. Di Griya Baca yang didirikannya ini Amru langsung memegang posisi ketua.

Melalui LSM ini Amru bersama reka-rekannya berusaha melakukan pemberdayaan dan perlindungan anak-anak terutama para anjal. Keberadaan pria yang masih tercatat sebagai mahasiswa hukum Universitas Merdeka (Unmer) Malang di Griya Baca inipun cukup lama,sekitar 3 tahun-an. Dipenghujung 2008 Amru lengser sebagai ketua LSM. Meskipun demikian bukan berarti lelaki kelahiran 1985 ini berhenti beraktivitas justru sebaliknya ia berusaha mencari tantangan lain. Ditahun yang sama pula,Amru mendirikan LSM Aliansi Masyarakat Miskin Malang (AMMM).

“Kalau AMMM ini jangkauannya lebih luas,mencakup anjal,pengemis dan pemulung,”jelas anak kedua dari tiga bersaudara ini. Bahkan bersama AMMM pula sepak terjang Amru lebih dahsyat. Beberapa kali AMMM sukses mengadakan aksi dengan mengajak anak-anak binaannya untuk memperjuangkan pendidikan gratis bagi kalangan tak mampu. Hasilnya pun tidak mengecewakan karena tuntutan AMMM akhirnya dipenuhi oleh pemkot Malang. Bahkan perjuangan Amru dan kawan-kawan pun sampai ke pengadilan tinggi negeri dan berhasil memenangkan perkara tuntutan.

Totalitas Amru terhadap aktivitas sosialnya ini pun tidak main-main. Hal ini dibuktikan dengan keputusannya untuk tinggal di daerah yang mayoritas warganya adalah kaum pinggiran. Menempati sebuah rumah kecil sederhana yang dikontraknya inilah Amru menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan warga sekitar. Mantan aktivis KAMMI inipun menjadikan kediamannya sebagai markas AMMM sekaligus kegiatan sosialnya. Rencananya,ditempat barunya ini Amru akan mengadakan homeschooling untuk anak-anak di daerah sekitar tempat tinggalnya.

Amru sendiri mengaku tidak menemui banyak kesulitan saat bergaul dengan anak-anak. Apalagi ia sangat menyukai anak-anak kecil sehingga tidak mengherankan jika laki-laki yang lahir 10 Januari ini bisa cepat akrab dengan mereka. “Kalau bergaul dengan anak-anak,aku lebih banyak memposisikan diri sebagai teman curhat mereka terutama terkait masalah mereka,”tuturnya. Kecintaannya terhadap anak-anak pula yang membuat pria yang hobi renang ini bersama AMMM sukses mengratiskan 235 anak di sekitar kediamannya untuk mencicipi bangku sekolah.

Kini,selain sibuk dengan kegiatan sosialnya,Amru juga sedang berusaha untuk menyelesaikan kuliahnya yang sempat molor karena kesibukannya tersebut. Hebatnya untuk kuliah ini,ia tak perlu mengeluarkan biaya. “Karena nggak punya uang saat itu aku langsung menghadap rektor Unmer dan bilang kalau ingin kuliah tapi nggak ada biaya,”kenang lelaki yang mengaku membuka usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidup. Iapun berusaha menerapkan ilmu hukum yang dipelajari untuk advokasi kaum pinggiran. (dewi sartika)

Hidayah bisa menghampiri setiap orang tanpa pandang bulu. Setidaknya itupula yang terjadi pada Dyah Elyta Kristiani. Lahir dari pasangan orangtua berbeda keyakinan,ibu Kristen Protestan dan ayah Islam abangan,membuat gadis yang akrab disapa Dyah ini dibesarkan dalam tradisi Kristen. Apalagi ia hidup ditengah-tengah keluarga besar sang ibu sedangkan keluarganya sendiri tergolong broken home (berantakan). Selama hampir 17 tahun lamanya Dyah pun hidup dengan nilai-nilai kristiani meskipun saat menginjak kelas satu SMP ia telah memeluk Islam.

Ketertarikan gadis kelahiran Blitar ini sendiri cukup menarik. Ia mengaku tertarik dengan agama Islam justru karena faktor keluarga besarnya yang over protective terhadap dirinya. “Saat kecil,aku tidak diperbolehkan bermain dengan teman-teman sebayaku yang beragama Islam,”tuturnya. Padahal ketika itu,diakui oleh Dyah,ia sangat ingin seperti teman-temannya yanng pada saat Ramadhan sering mengenakan mukena dan melakukan takbiran menjelang Lebaran. Larangan bergaul oleh keluarga besarnya inilah yang menyebabkan Dyah makin tertarik kepada Islam.

Maka,begitu ia bersitegang dengan keluarganya karena tidak tahan dengan sikap kasar dan keras sang nenek Dyah pun melarikan diri. Ketika itu ia berumur kurang lebih 13 tahun. Begitu kabur dari rumah,gadis yang merayakan ulangtahunnya setiap 18 Oktober ini akhirnya bertemu dengan sang ayah dan tinggal di rumah neneknya (ibu dari sang ayah). Selama menetap bersama nenek dari pihak ayah inilah,Dyah mengambil keputusan untuk memeluk agama sang ayah,Islam. Meskipun demikian,bukan berarti hubungan Dyah dengan sang ibu terputus.

“Karena kondisi ekonomi ayahku yang tidak menentu,aku sempat menghubungi ibu untuk membiayai kehidupanku terutama untuk sekolah SMU-ku. Apalagi kedua adik kembarku juga diasuh oleh nenekku dari pihak ayah,”ucap putri pasangan Suyoto-Eny Suprihatin ini. Alhasil,ibunya pun bersedia membiayai Dyah namun dengan syarat ia kembali menjadi penganut Kristen Protestan. Tanpa pikir panjang gadis penyuka cokelat ini pun menyanggupi persyaratan tersebut. Akhirnya,Dyah pun menjadi seorang kristiani.

“Meski aku sudah menganut Islam tapi akupun tidak sholat dan mengaji makanya aku mengiyakan saja untuk kembali ke agama Kristen Protestan,”jelasnya mengemukakan alasan mengapa ia balik kucing ke agama sang ibu. Kembali menjadi kristiani buka berarti Dyah menjadi penganut yang taat,ia bahkan jarang ke gereja. Anehnya,meskipun sudah berpindah keyakinan,di sekolahnya sulung dari tiga bersaudara ini masih tercatat memeluk Islam. “Kalau disekolah agamaku Islam tapi saat di rumah aku Kristen. Pada saat itu agamaku memang nggak jelas,”tambahnya dengan mimik serius.

Meskipun demikian,di sekolah Dyah sering bergaul dengan teman-temannya yang berjilbab. Bahkan ia juga telah mengenal dan sering membaca majalah Islam remaja,Annida. Kakak dari Yenny dan Yessy Kornitasari inipun mengakui jika ia merasa nyaman jika berada diantara teman-teman perempuannya yang berjilbab besar. Pergaulan Dyah dengan perempuan berjilbab pun masih berlanjut ketika memasuki bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Uniknya,motivasinya untuk lolos PTN pun lebih didasari atas keengganannya untuk dikuliahkan di sekolah perawat Kristen di Jakarta.

“Waktu itu yang terbersit dibenakku adalah gimana agar aku bisa masuk PTN dan Alhamdulillah aku lolos,”kenang gadis yang hobi membaca ini. Saat kuliah inilah,Dyah bertemu dengan teman-teman barunya yang berjilbab besar sehingga ia pun kembali mempelajari Islam secara benar seperti sholat dan mengaji. Bahkan Dyah juga bergabung dengan organisasi rohis dikampusnya dan mulai mengenakan jilbab sejak 1 Oktober 2007 silam. Walaupun begitu,bukan berarti kehidupan Dyah yang baru ini tanpa hambatan. Tak jarang ia harus menggelabui ibu dan ayah tirinya untuk menyembunyikan keislamannya.

Puncaknya saat ia berlibur ke Jakarta ketika liburan semester. “Waktu di Jakarta,aku terpaksa melepas jilbabku padahal saat itu aku sudah berjilbab besar dan aku juga ke gereja,”ujar gadis yang memiliki adik tiri ini. Hatinya pun berkecamuk,iapun sering menangis karena tidak mampu membela keyakinan barunya. Bahkan diakui juga oleh diakui juga oleh Dyah kalau dirinya akan dibaptis. Namun,semua itu dapat dilalui Dyah sampai akhirnya ia mengikrarkan keislamannya kepada kedua orangtuanya.

Momen itu bertepatan ketika ia menjalani puasa Ramadhan ditahun 2008. Dyah pun bercerita saat itu ia sedang ditelpon ayah tirinya dan sang ayah menanyakan apakah dirinya sudah makan siang atau belum. “Nggak tahu kenapa tapi yang jelas pas itu aku mempunyai keberanian untuk menjawab sedang berpuasa. Seketika itu jugaayah tiriku marah besar,”tegas mantan aktivis kampus ini. Akibat dari pengakuannya tersebut,kedua orangtuanya pun tidak mau membiayai kehidupannya lagi.

“Aku sempat stress dan sakit hati karena ibuku tidak mau mengakuiku sebagai anaknya,”tambahnya. Tak hanya itu saja,akibat dibiayai lagi Dyahpun mau tak mau harus menghidupi dirinya sendirinya. Iapun bekerja serabutan sekedar untuk menyambung hidup. Selain itu,ia juga berusaha mencari beasiswa agar tetap bisa berkuliah. “Aku pernah jualan kue pia dan bekerja di laundry,kadang-kadang juga jaga stan di pameran,”ucap perempuan yang pernah menjadi relawan sosial ini.

Berbagai kejadian dan cobaan berat yang pernah menimpanya pun tidak pernah disesali oleh Dyah. Ia tidak pernah menyesal dengan keputusannya untuk menjadi seorang muslimah karena ia termasuk tipe orang yang berani ambil resiko. Kini,Dyah juga mulai membangun lagi komunikasi dengan sang ibu. “Aku tidak mau jadi anak durhaka,”tegas gadis yang mengaku telah memiliki nama Islam,Husni Zakiah ini. Iapun berharap dikemudian hari sang ibu bisa mendapat hidayah dengan memeluk Islam seperti dirinya saat ini.(dewi sartika)

Tekuni Kempo Demi Harumkan Jawa Timur

Posted: Desember 10, 2010 in Sosok

Meski berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) namun hal ini tidak menyurutkan langkah laki- laki bernama lengkap Ardyanto Kristofel Ranja Nggili untuk memberikan yang terbaik bagi Jawa Timur (Jatim). Bukan tanpa alasan jika pria yang akrab dipanggil Adi ini ingin membela Jatim. Walaupun masih sekitar 3 tahun ia menetap di Kota Malang dalam rangka menuntut ilmu tapi bagi Adi propinsi inilah yang telah membuatnya bisa berpartisipasi dan berprestasi di sejumlah kejuaraan beladiri kempo. Maka tidak mengherankan jika rasa cintanya terhadap Jawa Timur ingin diwujudkannya dengan menjadi atlet kempo Jatim.

Kegemaran Adi sendiri terhadap olahraga beladiri asal Jepang ini bisa dikatakan sebagai warisan orangtua,terutama dari sang ayah. Melalui sang ayah inilah untuk pertama kalinya Adi mengenal seni beladiri kempo. “Aku mulai mengenal dan latihan kempo saat kelas empat SD. Saat itu ayahku mendaftarkanku disebuah SMU Kristen di Waingapu yang membuka rekruitmen,”kenang lelaki kelahiran 11 Oktober ini Uniknya,tidak hanya kepada Adi saja sang ayah yang bernama Wolter W Ranja Nggili ini mengajak buah hatinya untuk mempelajari kempo namun juga kepada semua saudara Adi yang berjumlah empat orang. Menurut Adi,kenekatan ayahnya untuk mengajak seluruh anaknya lebih didasarkan karena sang ayah pernah berkecimpung di olahraga beladiri ini.

Walaupun sejak kecil sudah mempelajari kempo bukan berarti pemilik tinggi 175 cm ini secara intensif mengikuti latihan. Adi pun menuturkan bahwa dirinya sempat berhenti latihan karena alasan pekerjaan rumah. “Pada saat maish kecil,aku diberi tanggung jawab untuk memelihara kuda oleh ayahku sehingga setiap pulang sekolah aku harus mencari rumput serta membantu ayah membangun rumah,”ucapnya menerangkan jenis pekerjaan yang dilakoninya. Baru menginjak bangku SMP,kelas satu Adi mulai berlatih kempo lagi. Hal ini pun masih berlanjut saat ia memutuskan untuk meneruskan kuliah di Kota Malang sejak tahun 2007 silam.

Sebenarnya ketertarikan pria yang memiliki saudara kembar ini terhadap seni beladiri kempo ini selain faktor sang ayah juga karena kepopuleran kempo di tanah kelahirannya. Bahkan Adi menuturkan di NTT,kempo merupakan cabang olahraga yang paling digemari masyarakat NTT. Hal ini tentu saja tidak mengherankan jika pada akhirnya Adi lebih mengenal kempo daripada seni beladiri lain. Apalagi di kampus dimana ia kuliah sekarang terdapat unit aktivitas kempo. Tentu saja keberadaan dojo (tempat latihan) di kampusnya membuat saudara kembar Erdyanto Kristian Ranja Nggili ini makin bersemangat untuk menekuni kempo.

“Aku biasanya latihan di dojo kampusku seminggu dua kali yakni Rabu malam dan Minggu pagi. Latihannya sekitar dua jam-an. Tapi kalau mau ada kejuaraan,latihannya seminggu bisa lima kali di puslatda,”jelas mahasiswa semester akhir Universitas Merdeka Malang ini. Kini setelah bertahun-tahun mendalami kempo,Adi pun sudah mencapai sabuk coklat (KY I),sebuah tingkatan yang tergolong cukup tinggi dalam hierarki kempo. “Dengan memegang KY I, aku sudah berhak untuk menjadi pelatih,”lanjutnya. Hebatnya lagi,untuk meraih semua itu Adi harus berjuang terlebih dahulu. Selain disiplin dan tekun berlatih,ada satu hal berat yang harus dilalui mantan Ketua Unit Aktivitas Mahasiswa Kempo Unmer Malang ini.

Pemilik tinggi badan 175 cm ini pun mengaku kerapkali menerima makian ataupun kata-kata kasar dari sang pelatih. “Meskipun begitu,aku tidak pernah dendam dendam karena bagaimanapun kata-kasar keras yang dilontarkan pelatih bertujuan agar kita lebih termotivasi dan melatih mental kita,”tutur penyuka makanan nasi tahu telor tersebut. Terkait hal inipula maka tidak mengherankan jika pada akhirnya banyak orang yang mengalami seleksi alam alias tidak meneruskan berlatih kempo. Menurut Adi,salah satu kunci agar bisa berkomitmen menekuni kempo adalah bersabar. Apalagi banyak jenjang yang harus dilalui agar mencapai tingkatan ahli beladiri kempo.

Kesabaran Adi menekuni kempo pun mulai berbuah manis. Iapun sering mewakili kontingen Kota Malang dalam berbagai kejuaraan kempo. Pertama kali ikut serta dalam lomba,Adi terjun dikelas 55 kg kemudian pindah ke kelas 60 kg. “Ikut kejuaraan kempo pertama kali itu pada kejurda di Surabaya pada tahun 2007,saat itu aku turun dikelas 55 kg dan menyabet juara kedua,”jelas laki-laki yang juga berprofesi sebagai pelatih futsal sekolah swasta ini. Terhitung,sejak ditunjuk sebagai wakil Kota Malang di tahun 2007 lalu,Adi telah mengikuti sekitar enam kejuaraan kempo baik tingkat daerah maupun nasional. Bahkan pada Kejuaraan antar Kota (KejurKot) Oktober lalu,Adipun berhasil meraih juara pertama.

“Pertandingan yang paling berkesan itu pada saat aku ikut kejurda di Bojonegoro 2009 lalu. Waktu itu difinal aku tanding melawan juara bertahan sampai perpanjangan waktu,”kenang putra pasangan Wolter W Ranja Nggili dan Yorina Mburu Hiaka ini. Kini,meski telah menjadi anggota kontingen kempo Kota Malang namun masih ada sebuah asa yang belum dapat Adi wujudkan. Peraih juara satu pada kejurkot 2010 di Gresik ini berhasrat mewakili Jawa Timur (Jatim) dalam kejuaraan kempo.Cita-cita inilah yang berusaha Adi rintis sampai sekarang. Demi mewujudkan impiannya mengharumkan nama Jatim,iapun rajin mengikuti sejumlah kejuaraan kempo untuk menembus pelatnas dan berlaga di ajang internasional. (dewi sartika)

Taklukkan Tantangan Dengan Pena

Posted: Desember 10, 2010 in Sosok

Menulis bagi sebagian orang bisa jadi adalah hal yang mudah. Namun,tak sediki pula orang yang menganggap bahwa menulis itu sulit. Biasanya orang-orang yang beranggapan menulis itu sulit,mereka dikarunia potensi pandai berbicara dihadapan banyak orang. Begitu juga sebaliknya seseorang yang memiliki kemampuan menulis maka ia cenderung bekerja di belakang layar. Tidak mengherankan jika akhirnya muncul anggapan bahwa seorang penulis tidak pandai berbicara saat berhadapan dengan orang-orang. Namun anggapan ini tampaknya tidak berlaku bagi seorang Fauziah Rachmawati.

Setidaknya,dara kelahiran 22 September ini mampu membuktikan bahwa seorang penulis pun bisa tampil berbicara dihadapan banyak orang. Hal ini tentu terkait dengan kegemarannya akan menulis. Kesukaannya akan dunia tulis menulis inilah pada akhirnya sukses membawanya untuk menjadi pembicara di sejumlah pelatihan dan juri perlombaan menulis. Tentu saja,apa yang telah didapatnya sekarang membutuhkan proses panjang terutama untuk menjadi seorang penulis.

“Aku mulai menulis saat masih SMP,kebetulan cerpen pertamaku saat kelas 3dimuat di majalah anak Mentari Putra Harapan,”jelas gadis yang akrab dipanggil Zi ini. Iapun masih mengingat dengan jelas saat menerima honor 25 ribu dari pemuatan cerpennya dimajalah tersebut. Sayangnya,setelah pemuatan perdana cerpennya itu,Zi justru vakum dari kegiatan menulis. Iapun baru kembali menekuni aktivitasnya saat menginjak bangku SMU. Saat itu,ia perempuan asal Kabupaten Malang ini mbeemutuskan untuk bergabung dengan majalah sekolah dan mengemban tugas sebagai editor.

Kiprah gadis berjilbab ini di dunia tulis menulis ternyata kembali berumur pendek. Selepas lulus SMU dan memasuki kuliah,Zi mengaku sempat berhenti menulis selama tiga tahun. Baru pada tahun 2006,ia kembali aktif menulis. Bahkan tak tanggung-tanggung,cerpennya yang berjudul “Selubung Dosa Menelingkup Nurani” berhasil menjadi jawara satu lomba tingkat regional sains dalam sastra Universitas Negeri Malang (UNM) dalam rangka bulan bahasa. “Cerita cerpen ini tentang aborsi dimana aku berperan sebagai bayi yang diaborsi. Sedangkan ide cerita sendiri aku dapatkan setelah aku melihat film tentang aborsi,”tutur sulung dari dua bersaudara ini.

Kemenangannya dalam perlombaan tersebut ternyata membuat Zi cukup kaget sekaligus senang. Ia mengaku tak menyangka akan menyabet juara pertama mengingat lomba yang diikutinya adalah tingkat regional. Akhirnya,cerpen “Selubung Dosa Menelingkup Nurani” pun diterbitkan dalam sebuah kumpulan antologi cerpen UNM. “Alhamdulillah banyak pembaca yang memberi respon dan kebanyakan responnya positif,”ujar gadis berkacamata ini. Berkat kemenangannya tersebut,perempuan yang berprofesi sebagai guru SD ini pun memiliki pandangan berbeda mengenai aktivitas menulisnya.

“Dengan menulis ternyata kita bisa berbagi dengan orang lain meskipun itu hal-hal kecil seperti menulis diary. Selain itu menulis sudah menjadi kebutuhan dan penyemangat tersendiri,”jelas gadis yang hobi travelling ini. Ia juga mengakui pernah terbersit melakukan aktivitas menulis untuk memperoleh uang. Namun niat itu segera dibuangnya jauh-jauh. Kini,putri pasangan Sulistyo dan Rohma Wardani inipun berusaha untuk memiliki motivasi khusus ketika menulis. “Aku menulis agar dibaca terus oleh pembaca karena aku ingin menyampaikan pesan lewat tulisan,”ucapnya dengan mantap.

 

Kegemarannya akan menulis pula yang membuat Zi tertantang untuk menulis berbagai hal. Maka tidak mengherankan jika akhirnya ia ingin mencoba berkarya melalui berbagai jenis tulisan. Jika diawal-awal dulu,gadis yang suka membaca buku ini lebih tertarik untuk menulis cerpen maka ditahun 2008 ia mencoba untuk menggeluti karya tulis. Hasilnya pun tidak mengecewakan,bahkan sederet prestasi berhasil diukirnya melalui karya tulis. Salah satu diantaranya yang menurut Zi sangat berkesan adalah ketika karya tulisnya berjudul “Strategi Pembelajaran Pendidikan Seks Remaja Autis Di Tingkat Sekolah Dasar” menjadi finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Kini,setelah sukses berkarya lewat cerpen dan karya tulis,perempuan yang juga aktif di LSM anak jalanan sering menulis cerita-cerita ringan seputar pengalaman hidupnya. “Sekarang aku lebih sering menulis bentuk catatan harian lalu kuposting di blog atau facebook,”ucap gadis yang mengaku menyukai berbagai makanan ini. Zi pun menjelaskan banyak sekali tanggapan yang didapatnya setelah memposting tulisannya. “Bahkan ada teman yang bilang kalau tulisannku itu terlalu jujur,”katanya sembari tertawa. Ketika ditanya,diantara ketiga jenis tulisan yang pernah dibuatnya mana yang lebih disukainya dengan diplomatis Zi menjawab menyukai semuanya. Iapun beralasan karena hal tersebut tergantung dari tujuannya menulis dan kepada siapa tulisan itu dibuat.

Tulisan-tulisan yang dibuat Zi memang beraneka ragam mulai dari fiksi maupun non fiksi. Zi pun membeberkan jika setiap tulisan yang dibuat selalu dimulai dari inspirasi yang diperolehnya. “Aku biasanya mendapatkan inspirasi dari banyak hal entah itu dari pengalaman,berita ataupun sesuatu yang pernah kulihat,”jelas alumni Universitas Negeri Malang ini. Tulisan yang dibuatnya pun telah banyak bertebaran diberbagai media cetak mulai dari surat kabar lokal,nasional dan majalah. Meskipun demikian Zi tetap menyimpan impian jika suatu saat kelak ia mampu menerbitkan karyanya dalam bentuk buku.

Melihat pengalamannya di dunia tulis-menulis,tidak mengherankan jika Zi sering bertindak sebagai narasumber maupun juri dalam berbagai acara perlombaan dan kepenulisan. Tidak hanya itu,kecintaannnya terhadap tulisan juga membawanya untuk bergabung di organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Malang. Bahkan baru-baru ini,ia diangkat menjadi koordinator organisasi tersebut walaupun diakuinya sebenarnya masih banyak calon-calon lain yang lebih baik. Gadis yang bercita-cita mempunyai perpustakaan umum ini pun berharap dimasa kepemimpinannya akan muncul penulis-penulis handal.

Terkait hal itu pula Zi pun tak segan untuk berbagi resep seputar keberhasilannya menelurkan banyak tulisan terutama cerpen. Menurutnya,jika mengikuti perlombaan cerpen,sebelum menulis sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu tentang jurinya karena hal ini berkaitan dengan selera juri ketika menilai. Selain itu ia juga membeberkan rahasia sukses agar tulisan bisa termuat dimedia cetak. “Jangan lupa untuk mempelajari media cetak yang akan dikirimi kalau ingin mengirim tulisan,”ujar mantan Ketua FLP UNM tersebut. Namun dari semua itu yang terpenting dalam menulis menurut Zi adalah memiliki niat. “Karena apa yang kita tulis merupakan cerminan diri kita,”pungkasnya. (dewi sartika)