Archive for the ‘Wisata’ Category

Tawarkan Wisata Alam dan Petualangan

Posted: Desember 28, 2010 in Wisata

Bumi Perkemahan Bedengan

Obyek wisata ini tergolong baru. Terletak di dataran tinggi,pengunjung akan merasakan udara segar dan dingin. Sejuh mata memandang,pengunjung akan dimanjakan pemandangan alam nan hijau. Termasuk saat melewati kebun jeruk yang terhanpar sepanjang jalan. Inilah bumi perkemahan Bedengan yang mengkombinasikan pemandangan dan petualangan.

Obyek Wisata Baru

Bedengan bisa dikatakan sebagai obyek wisata yang masih berusia muda. Baru dibuka pada tahun 2007 silam. Obyek wisata ini terletak di Dusun Selo kerto Desa Selorejo,Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Awalnya,tempat ini menjadi lahan pembibitan tanaman pohon yang biasa disebut bedeng yang dikelola Perhutani. Dari sinilah maka obyek wisata baru ini dinamakan Bedengan.

Perjalanan menuju obyek wisata Bedengan sendiri memakan waktu sekitar 45 menit dari Kota Malang. Begitu melakukan perjalanan ke tempat ini,pengunjung akan mendapati hamparan pemandangan hijau baik disisi kanan maupun kiri. Tidak hanya itu saja,pengunjung pun akan merasakan hawa sejuk begitu memasuki Desa Selorejo yang terletak didataran tinggi ini. Para pengunjung yang akan mendatangi Bedengan disarankan untuk menggunakan transportasi roda dua karena akses jalan yang kecil.

Selain itu,jalan agak terjal pun siap menyambut pengunjung. Saat memasuki sebuah gang kecil yang menjadi pintu utama Bedengan,pengunjung harus hati-hati karena jalan yang akan dilalui belum beraspal dan penuh dengan bebatuan. Apalagi jika habis turun hujan. Pintu masuk Bedengan sendiri hanya bisa dilalui motor dan bagi pengunjung yang membawa mobil maka harus jalan kaki dengan rute jalur menurun.

Memasuki obyek wisata Bedengan,pengunjung segera disambut pepohonan pinus yang banyak terdapat ditempat ini. Pengunjung tidak perlu untuk mengeluarkan uang untuk tiket masuk. Namun bagi pengunjung yang membawa motor akan dikenakan biaya parkir sebesar dua ribu rupiah. Status kepemilikan Bedengan sendiri dimiliki dan dikelola oleh Perhutani. Sedangkan untuk pengelolaan secara harian dibawah tanggung jawab Waliadi selaku anggota Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan (LKDPH). LDKPH sendiri merupakan lembaga yang berada di bawah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kabupaten Malang.

Menurut Waliadi,obyek wisata ini meliputi dua fungsi tempat. Hal ini bisa dimaklumi karena pada awalnya Bedengan ini adalah hutan kosong yang kemudian digunakan untuk bedeng pohon mahoni. “Untuk area kemah sendiri luasnya 2,5 hektar sedangkan untuk tempat bedeng sekitar 13,7 hektar,”jelas lelaki yang juga bekerja sebagai petani ini. Selama bertugas mengelola Bedengan,Waliadi dibantu sekitar 15 orang namun yang aktif hanya enam orang karena faktor usia.

Tempat Kemah dan Outbond

Sejak dibuka beberapa tahun silam,Bedengan telah banyak dikunjungi masyarakat. Umumnya para pengunjung berdatangan ke tempat ini pada Sabtu dan Minggu serta hari libur. Pengunjung yang datang pun lebih banyak berasal dari daerah Malang sendiri meski tak sedikit yang datang dari luar kota Malang seperti Surabaya. “Kalau pengunjung pada Sabtu dan Minggu bisa mencapai 70 orang tapi kalau hari-hari biasa kosong,”terang Waliadi.

Kondisi alam Bedengan yang hijau dan banyak dipenuhi pohon pinus serta dekat dengan sungai membuat banyak pengunjung memanfaatkannya sebagai tempat kemah dan outbond. Waliadi pun menjelaskan bagi para pengunjung yang akan berkemah maka sebelumnya harus meminta ijin terlebih dahulu. Selain itu akan dikenakan biaya Rp.2500 per orang. Tidak hanya itu saja,pengunjung yang akan berkemah pun diharuskan menaati peraturan untuk tidak merusak tanaman serta menjaga lingkungan. Jika ada kegiatan kemah maka Waliadi pun harus berjaga dimalam hari.

Bedengan memang representatif berkemah. Selain terdapat tanah lapang untuk kemah,Bedengan juga tak jauh dari sumber air berupa sungai. Tempat ini juga menyediakan sarana MCK meski dengan sarana terbatas. Pemandangan sekitarnya pun tak kalah menarik karena selain dikelilingi pepohonan,diseberang sungai juga terdapat banyak kebun jeruk yang makin menambah suasana asri Bedengan. Disamping itu juga ada beberapa gazebo yang dilengkapi tempat duduk.

Terkait manfaat Bedengan sendiri sebagai tempah kemah,diutarakan pula oleh Agung Wahyu Setiadi,salah seorang pengunjung. Mahasiswa Psikologi UMM bersama rekan-rekannya ini kebetulan sedang mengadakan acara outbond. ”Kami memilih Bedengan karena letaknya strategis dan tidak jauh dari kampus UMM. Selain itu juga tempatnya cocok untuk kegiatan outbond dan kemah,”ucapnya. Namun,anggota tim Bimbingan Konseling UMM ini juga menyayangkan digunakannya Bedengan oleh oknum masyarakat untuk berbuat hal yang tidak baik.

Keberadaan Bedengan sebagai obyek wisata yang kerapkali didatangi orang ternyata dimanfaatkan pula oleh warga sekitar. Salah satunya Tuni,warga Dusun Selokerto. “Saya mulai berjualan di Bedengan setelah Lebaran lalu,”tutur perempuan paruh baya ini. Warung Tuni terbilang sederhana dan menyediakan berbagai makanan kecil seperti gorengan dan snack serta minuman. Tentu saja keberadaan warung milik Tuni ini amat membantu para pengunjung saat perut tidak bisa diajak berkompromi lagi. (dewi sartika)

Keindahan Alam Yang Tersembunyi

Posted: November 18, 2010 in Wisata

Pemandian Alam Sumber Taman

Memasuki kompleks pemandian, pepohonan rindang nan asri menjulang tinggi saling berkejaran menjangkau langit. Rimbunnya daun-daun hijau diatas pohon seolah-olah siap melindungi pengunjung yang datang dari terik matahari. Wajar,jika begitu memasuki area pemandian pengunjung siap-siap disambut rimbunnya pohon-pohon tua yang berusia ratusan tahun ini. Suasana nan asri dan menyejukkan ini berpadu menjadi satu dengan canda tawa pengunjung yang menikmati segarnya air pemandian.

Wilayah Kabupaten Malang memang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Luasnya wilayah yang dimiliki kabupaten ini berbanding lurus dengan banyaknya obyek wisata yang dimiliki Kabupaten Malang. Tidak mengherankan jika di wilayah Kabupaten Malang banyak ditemui tempat-tempat wisata terutama wisata alam. Sayang,banyaknya obyek wisata alam tersebut justru membuat sebagian tempat wisata yang ada belum dikenal masyarakat luas serta belum dioptimalkan dengan baik.

Salah satu obyek wisata alam yang memiliki potensi besar namun terabaikan tersebut adalah pemandian alam Sumber Taman. Jika kebetulan sedang melakukan perjalanan menuju Kota Kepanjen,Kabupaten Malang,alangkah baiknya untuk menyempatkan diri untuk mengunjungi obyek wisata alam ini. Apalagi rutenya berada satu jalur dengan Kota Kepanjen dan tak jauh dari pusat kota tersebut,sekitar sepuluh menit kea rah selatan dengan mengendarai kendaraan pribadi.

Belum Dikenal Wisatawan

Pemandian alam Sumber Taman terletak di perbatasan dua desa yakni Brongkal dan Karang Suko yang berada di Kecamatan Pagelaran,Kabupaten Malang. Jika berangkat dari Kota Malang membutuhkan waktu sekitar 45 menit perjalanan dengan kendaraan pribadi. Rute untuk menuju kedua desa itu bisa dilalui dari dua jalur jika berangkat dari Kota Malang. Pertama,rute bus umum yang menuju kota sekitarnya seperti Dampit dan Turen. Rute kedua yang menjadi alternatif ini merupakan jalan menuju Kota Kepanjen,ibukota Kabupaten Malang. Jika melewati jalan ini maka perjalanan dapat ditempuh dengan waktu yang lebih cepat karena jalan relatif sepi.

Letak pemandian Sumber Taman yang berada diantara dua desa inilah yang menyebabkan Sumber Taman bisa memiliki dua pintu masuk. Namun,umumnya pengunjung lebih sering masuk lewat gerbang utama yang akses jalannya lebih lebar dan dapat dilalui mobil yang berada di Karang Suko. Sedang jalan alternatif lainnya lebih kecil sehingga hanya bisa dilewati motor saja. Sayangnya,akses jalan masuk ke Sumber Taman masih berupa tanah dan bebatuan sehingga bagi para pengendara motor agar lebih berhari-hati. Apalagi jika musim hujan telah tiba.

Begitu memasuki Sumber Taman,pengunjung akan disuguhi pemandangan asri dengan rerimbunan pohon-pohon yang konon berusia ratusan tahun tahun. Banyaknya pepohonan yang ada di sekitar area pemandian membuat suasana terasa sejuk dan menyenangkan karena terhindar dari terik matahari. Mata pengunjung pun akan tertuju ke sebuah kolam raksasa yang sebagian sisinya dinaungi beberapa pohon raksasa. Ya,itulah pemandian alam Sumber Taman yang mata airnya berasal dari bawah pohon-pohon tersebut.

Pemandian Sumber Taman bisa dikatakan menjadi satu-satunya tempat hiburan alam bagi warga Desa Brongkal dan Karang Suko. Terutama untuk anak-anak. Biasanya,mereka memanfaatkan keberadaan Sumber Taman sebagai tempat pemandian umum. Maka,tidak mengherankan jika pada Hari Minggu atau masa liburan tempat ini dipenuhi anak-anak dari kedua desa tersebut. Sayangnya,keasrian dan kesegaran air Sumber Taman masih belum bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Selain dari warga kedua desa itu,pengunjung yang datang masih berasal dari daerah sekitar.

Hal ini tidak mengherankan karena selama ini Sumber Taman memang belum terlalu dikenal sebagai obyek wisata terutama pengunjung dari luar Kabupaten Malang. Disamping itu perhatian pemerintah daerah untuk mengelola Sumber Taman secara serius tampaknya tidak ada. Padahal dengan keindahan yang dimiliki Sumber Taman,seharusnya tempat ini bisa menjadi rujukan berwisata bagi masyarakat serta dapat menambah pendapatan asli daerah Kabupaten Malang.

Berkah Warga Desa

Pemandian Sumber Taman bagi penduduk Desa Brongkal dan Karang Suko memiliki peranan vital. Sebagian mata air Sumber Taman yang berasal dari bawah pepohonan yang berada di area pemandian alam tersebut menjadi denyut nadi kehidupan warga desa. Umumnya,kedua warga desa tersebut memanfaatkan mata air yang ada untuk berbagai keperluan hidup mulai dari mencuci pakaian,mandi sampai untuk mengairi sawah. Bahkan,beberapa diantaranya memanfaatkan keberadaan Sumber Taman sebagai tempat untuk mencari nafkah dengan membuka warung kecil.

Meskipun status keberadaan Sumber Taman secara resmi belum menjadi obyek wisata namun beberapa fasilitas pendukung sudah terdapat di tempat ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan fasilitas MCK atau kamar mandi. Selain itu area parkir kendaraan baik mobil maupun motor juga tersedia meski masih berupa lapangan. Tidak hanya itu saja,beberapa pedagang turut meramaikan suasana Sumber Taman baik yang berjualan makanan maupun yang menyewakan pelampung.

Area pemandian Sumber Taman sendiri cukup luas. Namun yang menjadi pusat perhatian dari area tersebut adalah keberadaan sebuah kolam atau telaga yang cukup besar yang berada ditengah. Telaga inilah yang sering menjadi tempat pemandian para pengunjung terutama anak-anak kecil. Air pemandian ini sangat jernih dan memiliki kedalaman sekitar tiga meter. Biasanya,anak-anak sering menggunakan bagian tepi dari telaga tersebut untuk bermain-main didalam air sekaligus mandi. Makin ketengah,maka kedalamannya makin bertambah. Jika sudah demikian,umumnya hanya pengunjung dewasa yang berani dengan menggunakan pelampung.

Setelah selesai bersenang-senang dengan menceburkan diri ke dalam air telaga yang segar,pengunjung tidak perlu kuatir mencari tempat untuk berganti pakaian. Pemandian Sumber Taman juga menyediakan kamar mandi yang terletak di sebelah selatan telaga baik untuk perempuan dan laki-laki. Uniknya,didepan kamar mandi ini terdapat sebuah kolam kecil yang mata airnya mengalir langsung dari telaga utama. Warga sekitar biasa menggunakan kolam ini untuk mencuci pakaian.

Terkait hal tersebut maka tidak mengherankan jika keberadaan Sumber Taman menjadi berkah bagi kedua warga desa. Selain airnya yang sering digunakan warga,adanya Sumber Taman juga turut dimanfaatkan warga sekitar untuk menambah kas kedua desa. Meski belum begitu dikenal sebagai objek wisata namun Sumber Taman sering didatangi pengunjung. Hal inilah yang dimanfaatkan sejumlah pemuda karang taruna desa untuk menarik tiket masuk bagi para pengunjung. Tiket masuk yang dipatok pun tidak mahal,sekitar dua ribu sampai lima ribu rupiah. Itupun dihitung bukan perorang tetapi tergantung jenis kendaraan yang dibawa. (dewi sartika)

Bukan Sekedar Objek Wisata Biasa

Posted: Oktober 27, 2010 in Wisata

Ponpes Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah

Konon tempat ini dibangun dengan bantuan jin. Tidak mengherankan jika orang-orang menyebutnya sebagai masjid jin atau masjid tiban (tiba-tiba ada) dan masjid lawang sewu (pintu seribu). Apalagi jika ditambah dengan berbagai ornamen indah yang menghiasi tempat ini. Tidak mengherankan jika banyak orang yang berduyun-duyun mengunjungi tempat ini.

Sejatinya,tempat yang memiliki luas sekitar lima hektar ini bukan murni sebuah masjid. Akibat persepsi yang berkembang di masyarakat maka tidak mengherankan jika orang-orang lebih mengenalnya sebagai sebuah masjid. Tempat yang berada di Kecamatan Turen Kabupaten Malang ini memiliki nama yang cukup panjang dan rumit yakni Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah. Padahal tempat ini aslinya merupakan kompleks pondok pesantren (ponpes) salafiyah.

Meski hanya sebuah ponpes namun tempat ini sudah terlanjur menjadi tujuan wisata bagi para wisatawan. Hebatnya lagi,wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari dalam negeri saja tapi juga mancanegara. Daya tarik ponpes ini sendiri terletak pada kemewahan arsitekturnya yang tiada duanya. Tidak mengherankan jika keunikan serta keindahan yang dimiliki ponpes ini pun turut memikat hati pengunjung non Islam untuk singgah.

Berawal dari Rumah

Ponpes yang terletak di Desan Sananrejo ini sendiri sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1963 dimana awalnya masih berupa rumah Kyai Romo Ahmad. Beberapa kali mengalami tahapan pembangunan. Tahapan pertama terjadi pada tahun 1978 dan berlangsung hingga sekarang. Keberadaan ponpes ini sendiri bukan tanpa rintangan. Berbagai hambatan muncul mengiringi pembangunan ponpes ini.

Halangan yang ada mulai dari permasalahan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sampai fitnah sebagai pondok yang menganut aliran sesat. “Pembangunan pondok ini sempat terhenti karena masalah IMB. Waktu itu kami tidak bisa menyertakan gambar bangunan karena memang kami tidak tahu kapan pembangunan ini akan selesai,”ujar Kisyanto,salah satu panitia pembangunan ponpes. Kisyanto pun menambahkan,akhirnya oleh pemerintah bupati Kabupaten Malang saat itu,Sujud Pribadi,pihak ponpes hanya diminta menyertakan foto bangunan yang telah ada.

Pria asli Sidoarjo ini juga menjelaskan bahwa sampai saat ini pembangunan area ponpes baru mencapai tahap 30 hingga 40 persen. Iapun tidak dapat memastikan kapan pembangunan ini akan selesai karena memang tidak ada target khusus. “Yang pasti pembangunan ini akan terus berlanjut dan kami tidak bisa memastikan kapan selesainya karena memang dari awal tidak direncanakan mau berapa tingkat,”terangnya.

Bangunan ponpes ini sendiri untuk saat ini terdiri dari kurang lebih 10 tingkat. Masing-masing tingkat memiliki ruang-ruang yang berfungsi untuk keperluan dan kepentingan ponpes. Setidaknya bisa dikatakan lantai 1 sampai 6 digunakan untuk kepentingan ponpes yang meliputi tempat tinggal,masjid dan ruang pertemuan. Baru dilantai 7 dan 8 dimanfaatkan pihak ponpes untuk area usaha seperti kios-kios cinderamata dan makanan yang dijaga para santri. Sedangkan lantai diatasnya masih dalam proses tahap pembangunan.

Menerima Santri Khusus

Ponpes yang didirikan Kyai Romo Ahmad ini saat ini menampung sekitar 200 santri termasuk didalamnya anak cucu Kyai Romo Ahmad. Mereka tersebar di area seluas lima hektar itu. Uniknya,para santri yang mendiami ponpes ini berbeda dengan santri pada umumnya. Mayoritas mereka merupakan orang yang pernah mencicipi dunia hitam seperti pejambret,pecandu narkoba maupun yang berasal dari keluarga broken home(berantakan).

Selain itu,hal lain yang membuat ponpes ini berbeda dengan ponpes lainnya adalah tujuan utama keberadaan ponpes salafiyah ini. Jika kebanyakan ponpes berdiri sebagai sarana untuk memperdalam pengetahuan maka tidak demikian dengan ponpes Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah. Hal ini bisa jadi karena sebagian besar para santri pondok adalah mereka yang pernah terjerumus ke lembah hitam. “Tujuan utama ponpes ini didirikan untuk membersihkan penyakit-penyakit hati,”ucap Kisyanto.

Terkait hal ini pula,Kisyanto pun menambahkan jika fungsi utama setiap ruangan yang ada di bangunan ponpes untuk menghilangkan penyakit hati dan masalah pribadi. Maka tidak mengherankan pula jika bangunan ponpes dipenuhi oleh berbagai ornamen indah yang penuh penuh dengan filosofi. ndilantai delapan. Adanya hiasan anggur ini bukan tanpa sebab tetapi bertujuan agar hati tidak menganggur dan senantiasa ingat kepada Allah SWT.

Bukan Objek Wisata

Keindahan arsitektur bangunan beserta kemewahan ornamen yang melingkupi bangunan ponpes ternyata mampu menarik perhatian masyarakat. Tidak mengherankan jika setiap harinya banyak orang yang berduyun-duyun mendatangi ponpes ini. Umumnya,mereka penasaran dan ingin melihat langsung masjid yang konon dibangun para jin. Masjid yang dimaksud itu sendiri merupakan bagian dari kompleks ponpes.

Persepsi yang salah kaprah inilah yang menurut Fajar Ismantoyo selaku panitia pembangunan dimanfaatkan oleh para sopir angkutan kota (angkot). “Masjid ini jadi terkenal karena promosi sopir angkot kepada para penumpang agar angkotnya laris,”ujar lelaki yang telah tinggal di ponpes ini sejak 1991 lalu. Tidak hanya mendapat julukan masjid jin tetapi masjid ini juga dijuluki masjid lawang sewu (pintu seribu) karena bangunan ponpes memiliki banyak pintu. Adanya berbagai mitos yang ada menyebabkan ponpes ini banyak dikunjungi wisatawan.

Melihat kenyataan tersebut maka tak mengherankan jika pada akhirnya ponpes ini menjadi rujukan tempat wisata. Para pengunjung yang singgah pun bisa mencapai ratusan orang. Bahkan pada hari libur serta Hari Minggu wisatawan yang datang bisa mencapai ribuan orang yang berasal dari sekitar Malang maupun luar kota. Ponpes ini pun pernah dikunjungi wisatawan mancanegara termasuk pejabat tinggi dari Serawak,Malaysia.

Meskipun banyak mendapat kunjungan dari wisatawan namun sejatinya ponpes ini bukanlah sebuah objek wisata. Terkait hal ini pula maka tidak mengherankan jika terdapat pengumuman yang terpampang didinding mengenai aturan-aturan saat memasuki bangunan ponpes. Salah satunya adalah himbauan dari pihak ponpes kepada pengunjung untuk memakai busana tertutup dan larangan untuk berdua-duan dengan lawan jenis. Walaupun demikian pihak ponpes sendiri tidak keberatan dengan banyaknya kunjugan dari wisatawan. Bahkan,laiknya tempat wisata,pengelola menyediakan lahan parkir yang sangat luas untuk kendaraan serta bebas biaya parkir.

Terkait hal ini pula serta ponpes yang bukan objek wisata,secara tidak langsung Kisyanto,selaku panitia lainnya menghimbau agar para pengunjung permisi terlebih dahulu saat mau memasuki ponpes. “Seringkali orang yang baru datang langsung terpana dengan bangunan ponpes sehingga mereka lupa untuk minta izin masuk,”tegasnya. Iapun menghimbau kepada pengunjung,sebelum masuk hendaknya meminta kartu izin masuk kepada petugas yang ada didepan gerbang,begitu juga ketika akan meninggalkan ponpes. “Ibaratnya saat kita bertamu,terlebih dahulu kita minta izin masuk dan pamit ketika mau pulang,apalagi tempat ini bukan objek wisata,”terangnya.

Disamping itu,berkah kedatangan wisatawan ke ponpes juga turut dirasakan penduduk sekitar ponpes. Umumnya,mereka berjualan makanan disekitar area ponpes. Produk yang dijual mayoritas berupa oleh-oleh siap makan seperti tape singkong,opak,keripik serta cinderamata lainnya. Salah satunya adalah Anis. Warga Turen ini mengaku setiap minggu datang ke ponpes untuk berjualan cincin kesehatan. Tak hanya itu saja,pihak ponpes pun secara khusus menyediakan dua lantai yakni lantai tujuh dan delapan untuk berjualan aneka cinderamata dan makanan kecil untuk memanjakan wisatawan.

Istikharah dan Sukarela

Daya tarik ponpes Bihaaru Bahri’ Asali Fadlaailir Rahmah terletak pada kemegahan bangunannya yang unik. Ukiran berbagai ornamen yang ada mampu membuat para pengunjung takjub serta mengagumi kerumitan ornamen-ornamen tersebut. “Saya baru pertama kali kesini karena dapat rekomendasi dari suami dan merasa takjub karena dikerjakan santrinya dan dikerjakan sepanjang masa,”terang Bu Deni,pengunjung asal Surabaya. Wanita yang bekerja di perusahaan swasta inipun berencana untuk mengunjungi ponpes ini kembali.

Uniknya,arsitektur bangunan ponpes yang terkesan megah dan mewah ini ternyata dibangun tanpa bantuan satu arsitek sekalipun. Hal ini diakui sendiri oleh Kisyanto yang mengaku bahwa semua pembangunan yang ada hanya dilakukan melalui istikharah oleh sang pemilik,Kyai Romo Ahmad. Biasanya,pembangunan akan berlanjut setelah Kyai Romo Ahmad melakukan istikharah. Maka,ketika Kyai Romo meninggal beberapa waktu lalu,istikharah tetap dilanjutkan oleh istri Kyai Romo Ahmad sehingga pembangunan tidak terhenti.

Hebatnya lagi pengerjaan bangunan ponpes ternyata dilakuka secara sukarela oleh santri. Tidak hanya itu,para jamaah pun turut membantu pembangunan. Bahkan tak tanggung-tanggung,jamaah yang berasal dari latar belakang berbeda seperti guru dan dosen ITS ini berkenan menjadi pekerja bangunan. Para sukarelawan ini pun tidak dibayar oleh panitia. Ketika ditanya kapan pembangunan ponpes ini akan selesai,Kisyanto pun tidak dapat menjawab secara pasti.”Pembangunan akan akan dilakukan terus menerus,tidak tahu sampai kapan dan berapa tingkat,”gumamnya.

Tidak hanya itu,dana yang digunakan untuk pembangunan ternyata berasal dari kantong sendiri alias uang Kyai Romo Ahmad. Selain itu Kisyanto pun menerangkan kalau banyak para jamaah yang tak segan-segan untuk mengeluarkan uang demi membantu pembangunan masjid. “Selain membantu mengerjakan,jamaah juga membantu pendanaan. “Dengan begitukan mereka bisa merasakan hasilnya,”tukas pria juga berprofesi sebagai wakil kepala sekolah ini.

Ketika disinggung apakah pembangunan ponpes ini juga menggunakan dana yang berasal dari luar negeri,Kisyanto pun menjawab dengan tegas bahwa sampai saat ini belum ada dana dari donatur luar. Ia pun menambahkan jika ponpes ini memiliki tiga prinsip yang harus dipegang teguh yakni tidak meminta-minta,tidak berharap diberi sehingga dapat menimbulkan ketamakan serta tidak meminjam atau berhutang.(dewi sartika)

Desa Ngadas, Komunitas Tengger Malang

Berbekal medan alam yang cukup menantang, perjalanan menuju Ngadas amat cocok bagi wisatawan yang suka tantangan dan petualangan. Ngadas juga merupakan jalan alternatif menuju ke gunung Bromo. Keunikan lain yang membuat Desa Ngadas ‘wajib’ dikunjungi adalah toleransi kehidupan beragama masyarakatnya. Mayoritas masyarakatnya memeluk Budha, namun Islam dan Hindu dapat hidup rukun dan berdampingan.

Satu-satunya di Malang
Terletak 48 km dari kabupaten Malang, Desa Ngadas merupakan desa yang didiami komunitas Suku Tengger. Sebenarnya, desa  Suku Tengger sendiri berjumlah 37 desa yang tersebar di 4 kabupaten yang berada di area Bromo-Semeru. Jika di Lumajang, Probolinggo dan Pasuruan, desa Tengger tersebar diberbagai tempat maka tidak demikian dengan di Malang. Ngadas adalah satu-satunya desa Suku Tengger yang berada di Malang.
Awal mula keberadaan desa Ngadas sendiri dimulai tahun 1774. Ketika itu, terdapat seorang seorang tokoh bernama Mbah Sedhek beserta 7 pengikutnya yang membuka Desa Ngadas. Orang-orang Tengger yang mendiami Ngadas sekarang pun merupakan keturunan Mbah Sedhek beserta 7 pengikutnya. Tokoh lain yang turut berperan dalam membangun Desa Ngadas adalah Mbah Kadar,seorang romusha yang dibawa pemerintah kolonial Jepang pada masa Perang Dunia II.
Kawasan Ngadas sendiri sebenarnya terdiri dari dusun Jarak Ijo yang berada dibawah serta Desa Ngadas itu sendiri. Uniknya, desa tersebut hanya didiami Suku Tengger dan tidak ada warga yang berstatus sebagai pendatang. Hal tersebut makin diperkuat dengan aturan tak tertulis yang berlaku di Desa Ngadas bahwa tanah yang dimliki Suku Tengger tidak boleh diperjualbelikan.Suku Tengger Ngadas sendiri terkenal sangat ramah terhadap pengunjung yang datang kesana.
Mayoritas penduduk Ngadas bermata pencaharian sebagai petani.Umumnya,mereka memiliki ladang yang tersebar disekitar Desa Ngadas.Hasil andalan pertanian Ngadas berupa kentang dan bawang pre yang dijual ke Batu dan Lawang. Selain itu,warga Ngadas juga terbiasa memiliki ternak yang dikandangkan didekat ladang mereka.
Hal lain yang bisa ditemui ketika berkunjung ke Ngadas,disepanjang jalan banyak dijumpai warga yang memakai sarung yang diikatkan ke badan. Sarung tersebut merupakan ciri khas Suku Tengger Ngadas yang berfungsi untuk mengusir hawa dingin serta agar tidak nyasar sebagaimana pepatah yang berlaku di Ngadas,”ora nyasar ora ndhelurung”. Akibat hawa dingin yang menyelimuti Desa Ngadas pula sehingga rata-rata rumah yang ada disana memiliki tungku yang biasa digunakan untuk menghangatkan badan.
Pegang Teguh Tradisi
Jika mayoritas desa Tengger yang tersebar di Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo didominasi agama Hindu,tidak demikian di Desa Ngadas.Justru Suku Tengger yang mendiami desa tersebut lebih banyak memeluk Budha. Menurut Kartono selaku Kepala Desa Ngadas,komposisi penduduk yang menganut Budha sekitar 60 persen, Islam 30 persen dan Hindu sendiri menjadi minoritas dengan dianut 10 persen penduduk Ngadas. “Hal inilah yang menjadi keunikan desa Ngadas,”terang pria asal Ponorogo tersebut.
Tidak hanya itu saja, keanekaragaman agama yang dianut Suku Tengger Ngadas juga berimbas dalam kehidupan bermasyarakat. Alih-alih terjadi permasalahan terkait agama justru yang tercipta adalah kerukunan umat beragama yang hidup berdampingan dengan baik.Bahkan bisa dibilang, Ngadas merupakan prototype bagaimana kehidupan masyarakat beragama yang sebenarnya. Hal tersebut diakui sendiri oleh Kartono yang mengaku tidak pernah ada masalah kehidupan beragama di Ngadas.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan beragama masyarakat Suku Tengger adalah tradisi yang sedari dulu dipegang teguh secara turun temurun. Berbagai ritual upacara masih dilaksanakan sampai sekarang oleh Suku Tengger Ngadas. Tidak peduli apakah orang itu Hindu,Budha ataupun Islam sekalipun. Bagi masyarakat Ngadas justru tradisi yang mereka jalankan tersebut memperkuat identitas ke-Tengger-an serta mempererat kehidupan beragama mereka.
Hal tersebutlah,yang membuat Suku Tengger Ngadas menjadi semakin unik. Masyarakat Ngadas pun secara konsisten untuk mempertahankan tradisi yang ada. Caranya,dengan memisahkan antara tradisi dan agama.Tidak mengherankan jika diadakan tradisi ritual seperti upacara Karo,Pujan dan Galunggan maka semua warga Desa Ngadas wajib mengikutinya baik itu beragama Budha,Islam maupun Hindu.
Faktor lain yang membuat kehidupan beragama Suku Tengger Ngadas adem ayem adalah ketokohan pemuka adat.Desa Ngadas sendiri dipimpin seorang dukun yang bertugas memimpin ritual upacara-upacara Tengger termasuk Kasodo Bromo.Tampuk kepemimpinan dukun Ngadas dilakukan secara turun temurun dan bukan melalui pemilihan.Untuk sekarang,jabatan pemuka adat Ngadas sendiri, dipegang oleh Ngatrulin atau yang akrab disapa Mbah Man yang beragama Budha.
“Sejak awal,,mayoritas penduduk Ngadas memang beragama Budha sehingga berbeda dengan desa-desa Tengger lainnya,’ujar sesepuh desa berusia 77 tahun tersebut ketika ditanya perihal agama Suku Tengger Ngadas.Mbah Man juga menjelaskan Suku Tengger sendiri merupakan keturunan dari pasangan Roro Anteng dan Joko Seger yang berasal dari Majapahit.Bahkan nama Tengger sendiri diambil dari pasangan tersebut (Anteng dan Seger).
Mayoritas agama Budha sendiri yang dianut warga Ngadas adalah Budha Jawa Sanyata yang mengacu pada ajaran Ki Semar.”Ki Semar merupakan sesepuh dan perintis Budha Jawa sedangkan agama Budha sendiri sudah ada sejak Ngadas berdiri termasuk Mbah Sedhek,”jelas Mistono, wakil ketua organisasi Budha Jawa Sanyata.Meski diakui Mistono meski ada beberapa aliran Budha tapi pada intinya semuanya menuju kepada Budha Gautama dan semuanya tetap berinduk pada Walubi.
Meski dipermukaan antara agama Budha dan Hindu berbeda namun sejatinya hal tersebut tidak berlaku di Desa Ngadas. Kedua agama tersebut setelah ditelisik lebih lanjut ternyata mempunyai banyak persamaan. Bahkan ritual-ritual ajaran Budha yang mayoritas dianut warga Ngadas terdapat dalam Hindu.Hal tersebut bahkan diakui sendiri oleh seorang pemuka Hindu Ngadas,Suliono.”Banyak ritual-ritual yang diadakan dalam Budha ternyata ada juga dalam kitab Wedha Hindu,”tutur bapak 3 anak tersebut.Bahkan karena hal itu pulalah yang membuat Suliono memutuskan untuk beralih menjadi pemeluk Hindu.
Keberadaan Hindu di Ngadas sendiri pada mulanya justru dibawa oleh orang Bali dan orang Tengger Pasuruan yang berkunjung ke Ngadas pada tahun 1990-an.Suliono pun menambahkan sampai sekarang terdapat 35 kepala keluarga Hindu yang menetap di Ngadas.Untuk pemilihan pemuka agama Hindu di Desa Ngadas ditentukan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kabupaten Malang.Dikalangan warga Hindu Ngadas sendiri tiap bulan mengadakan pertemuan Dharmatula untuk membahas persiapan upacara.
Selain agama Hindu dan Budha,Islam juga turut mewarnai kehidupan beragama di Desa Ngadas.Perkembangan Islam sendiri hampir sama dengan Hindu.Islam masuk pada tahun 1990-an yang dibawa para pendatang yang berjumlah 3 kepala keluarga.Menurut Tri Wibagio,salah seorang pemuka Islam Ngadas,Islam berkembang sedikit demi sedikit.”Sampai saat ini ada 115 orang yang beragama Islam,mulai dari yang kecil sampai tua,”jelas pria yang berprofesi sebagai petani tersebut.Selain itu,diadakan juga kegiatan rutin berupa Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ),pengajian ibu-ibu serta pembinaan agama dari ulama-ulama Poncokusumo sebulan sekali.
Dengan keanekaragaman agama yang dianut Suku Tengger Ngadas makin membuat kehidupan beragama disana makin dinamis.Dengan memisahkan identitas adat serta agama dalam kehidupan bermasyarakat,warga Tengger Ngadas masih dapat mempertahankan tradisi mereka sampai sekarang.””Kerukunan yang ada di Ngadas ini mengacu pada adat yang berlaku.Jadi siapapun yang masuk Ngadas harus ikut upacara,”ucap Buasan,tokoh agama Budha Ngadas. Hampir senada dengan Buasan,Suliono juga menambahkan jika ada perayaan agama tertentu maka biasanya orang-orang diundang untuk sekedar makan-makan serta saling membantu jika ada warga yang mempunyai hajatan.
Selain untuk mempererat kerukunan umat beragama di Ngadas,kewajiban untuk mengikuti tradisi upacara juga digunakan sebagai parameter untuk menentukan apakah orang yang bersangkutan masih Suku Tengger atau bukan.Salah satunya dengan wajib mengikuti upacara Kasodo di Gunung Bromo.Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kelestarian tradisi Tengger agar tidak hilang ditelan arus modernisasi sebagaimana yang terjadi di Gubug Klakah.
Tradisi menarik lainnya yang turut menghiasi kehidupan warga Ngadas adalah adanya pantangan untuk berpoligami.Poligami ini diberlakukan kepada seluruh warga asli tanpa pandang bulu termasuk yang beragama Islam.”Kalau ada yang melanggar,sanksinya dikeluarkan dari desa dan harus membayar denda 100 sak semen yang dibayar ke desa,”ucap Kartono yang telah menjabat sebagai kepala desa sejak 1999 lalu.
Tidak hanya hukum adat itu saja yang berlaku,pada malam hari warga tidak diperbolehkan utnk memasuki ladang termasuk milik sendiri.Hal tersebut diberlakukan untuk mencegah jika ada sesuatu yang hilang maka ditakutkan akan menjadi tertuduh.Selain itu,waktu bertamu ke rumah orang lain juga ikut dibatasi sampai jam 9 malam. (dewi sartika)

MIMPI MENUJU SCIENCE CENTER

Posted: Oktober 15, 2010 in Wisata

Museum Zoologi  Frater Vianney ,BHK

Berada di kompleks bangunan Yayasan Mardi Wiyata,museum zoologi Frater Vianney tidak begitu dikenal masyarakat. Padahal,tempat ini bisa menjadi rujukan utama bagi para pecinta wisata science (ilmu pengetahuan). Konon,museum ini memiliki koleksi molusca terlengkap di Indonesia. Kurangnya promosi disinyalir menjadi penyebab utama minimnya wisatawan yang berkunjung ke museum ini.

Berawal dari Hobi
Museum Frater Vianney didirikan oleh Johanes Djuang Keban (dikemudian berubah menjadi Frater Maria Clemens,BHK). Nama museum itu sendiri berasal dari tokoh Katolik Belanda yang bertugas di Belanda,Frater Maria Vianney. Selama bertugas di Indonesia,Frater Vianney menjadi guru biologi sekaligus peneliti ular. Hal tersebut membuat terpesona salah seorang muridnya yang tak lain adalah Frater Clemens.
Kegemarannya untuk mengkoleksi berbagai binatang reptil  sebagaimana gurunya semakin menjadi ketika ditugaskan di kota Karang, Kupang. Bahkan tidak hanya sekedar ular namun juga biawak (varanus). Selama bertugas di Kupang, frater yang lahir 25 Agustus 1937 tersebut juga menambah koleksi pribadinyanya dengan mengumpulkan cangkang siput serta kerang. Bahkan ketika di mutasi ke Malang tahun 1963, Frater Clemens menghibahkan koleksinya kepada Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana. Saat ditugaskan di Ende dan Larantuka pun tidak membuat Frater Clemens berpaling dari hobinya untuk meneruskan jejak gurunya,mengkoleksi berbagai macam satwa serta kerang dan siput.
Setelah sepuluh tahun berkarya di NTT, pada 1984, Frater Clemens dimutasi kembali ke Malang dan ditahun 1991 terpilih sebagai vikarius (provinsial) serta diangkat sebagai pemimpin Kongregasi Frater BHK Indonesia yang berkedudukan di Surabaya. Praktis, hobinya yang berkaitan dengan biologi terhenti total. Namun, ketika 1998, kantor Dewan Propinsi dipindahkan ke Malang, tepatnya di jalan Karangwidoro maka hobi lamanya muncul kembali.
Setelah mendapat persetujuan dari kongregasi maka Frater Clemens pun meneruskan hobi lamanya. Apalagi disekitar kompleks gedung juga ditemukan beberapa ekor ular. Selama 1998-2000, koleksi yang telah ada sebelumnya makin bertambah, sudah diklasifikasikan serta mulai ditempatkan dalam sebuah gedung kecil. Puncaknya, gedung kecil yang telah difungsikan sebagai museum zoologi “Frater Maria Vianney, BHK” tersebut diresmikan pada 27 Nopember 2004 oleh Direktur Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Widodo Sukohadi Ramono.

Koleksi Lengkap, Minim Promosi
Memasuki gedung museum zoologi yang memang tidak terlalu besar tersebut, salah satu hal menarik yang langsung menjadi perhatian pengunjung adalah tulisan dipapan  nama yang tergantung diatas pintu masuk. Tulisan “hendaklah kita tenggelam dalam Tuhan tanpa meninggalkan dunia” serta sebuah patung Yesus Kristus setinggi sekitar setengah meter yang berdiri kokoh seolah-olah sedang memberkati pengunjung yang datang.
Selanjutnya,pengunjung akan memasuki ruang utama yang menyimpan berbagai macam koleksi yang tergolong langka. Pengunjung akan dibuat berdecak kagum dengan berbagai macam satwa yang telah diawetkan. Koleksi yang telah diawetkan tersebut ditempatkan pada masing-masing lemari dengan kaca transparan untuk memudahkan pengunjung melihat lebih dekat.
Berbagai macam koleksi dipajang dilemari. Mulai dari ular yang telah diawetkan dan disimpan di toples, siput-siput laut, kerang raksasa, penyu raksasa, kupu-kupu dan serangga yang ditempel dikanvas dinding sampai kepala rusa yang terpasang didinding yang seakan-akan sedang mengawasi pengunjung . Tidak ketinggalan pula, sang raja hutan singa dengan taringnya yang siap menerkam pengunjung terpajang dengan baik disalah satu sudut ruangan.
Koleksi yang dimiliki museum zoologi Vianney sendiri, menurut Denise Resianini selaku pengelola museum, berdasarkan data terakhir tahun 2007 ada 748 spesies  dan 11972 spesimen. “Untuk koleksinya sendiri sudah dimulai sejak tahun 1965,” tambahnya. Sedangkan koleksi terbanyak yang dimiliki museum zoologi sendiri meliputi jenis reptil serta konkologi (ilmu tentang kulit siput dan kerang).
Mengenai koleksi museum zoologi yang beragam tersebut, Denise pun menambahkan bahwa semua koleksi yang ada merupakan aset museum yang berharga milyaran. Bahkan ada jenis molusca yang bernilai 1-3 juta rupiah. Tidak hanya itu, hal-hal unik pun menggiringi koleksi tersebut. Mulai dari mitos Yunani kuno tentang kerang raksasa (gimma) yang diyakini sabagai tempat lahir dewi venus serta siput aurum yang diabadikan sebagai tanda  penghargaan untuk pangkat jenderal Romawi.
Selain koleksi satwa mati yang telah diawetkan, museum zoologi Vianney tenyata juga memiliki sejumlah satwa hidup yang bisa disaksikan pengunjung secara langsung yakni ular, buaya, kura-kura dan ikan. Untuk koleksinya sendiri, pihak museum mendapatkan dengan cara membeli dari pihak lain maupun mengumpulkan sendiri. Sedangkan untuk identifikasi koleksi yang ada, dilakukan pihak museum sendiri.
Untuk biaya pengelolaan museum sendiri, masih bersifat swadaya serta  bantuan dari biarawan. Belum ada donatur maupun bantuan dari pihak terkait seperti Dinas Pendidikan (Diknas) Malang.
Meski museum zoologi Vianney sendiri memiliki koleksi yang tergolong langka dan lengkap namun promosi yang dilakukan masih terbatas untuk kalangan tertentu saja sehingga tidak mengejutkan jika banyak masyarakat Malang sendiri tidak mengetahui keberadaan museum zoologi. “Selama ini memang publikasi hanya ditempel ditempat tertentu saja seperti museum Brawijaya dan perpustakaan kota Malang,”ujar wanita asal Ambon tersebut.
Untuk ‘menjual’ museum zoologi Vianney sendiri, pihak museum telah melakukan promosi awal dengan mengadakan semiloka maupun seminar. Meski di Malang sendiri eksistensi museum zoologi Vianney tidak begitu dikenal, namun ‘prestasi’ museum wisata science itu sendiri tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan ‘gaungnya’ telah mencapai tingkat nasional yakni dengan menjadi narasumber disebuah acara stasiun televisi swasta di Jakarta

“Science Center”  untuk “Scientists”
 Minimnya promosi yang dilakukan pengelola museum memang terkait dengan orientasi yang memang sedari awal telah dicanangkan pihak pengelola yakni menjadikan museum zoologi Vianney sebagai museum science dan science center (pusat ilmu pengetahuan) di Indonesia. Akibatnya, hanya kalangan tertentu saja berkunjung ke museum tersebut. Bahkan ketika mulai dibuka pada tahun 1997, awalnya hanya sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Mardi Wiyata saja yang boleh berkunjung ke museum mulai dirintis sejak 1979 itu. Baru ditahun 2004, museum terbuka untuk umum.
Dengan orientasi sebagai science center tersebut, tidak mengherankan jika mayoritas  pengunjung lebih didominasi kalangan akademis seperti siswa sekolah dasar sampai menengah umum. “ Museum zoologi ini memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin belajar (scientists), tidak hanya sekedar untuk melihat-lihat saja,” tutur wanita yang juga seorang guru disebuah sekolah swasta di kota Malang tersebut.
Usaha untuk membangun reputasi museum zoologi sebagai science center pun dilakukan, salah satunya  dengan melakukan kerjasama dengan Universitas Malang dan Brawijaya yang mempunyai kepentingan bersama menyangkut hal-hal berbau biologi. Hebatnya lagi, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pun berhasil ‘digandeng’. Pihak Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip sendiri tak segan menjuluki museum zoologi Vianney sebagai museum Molusca karena koleksi spesimen konkologinya (siput dan kerang) yang lengkap.
Bahkan untuk mengukuhkan reputasi sebagai museum science dan  science center itu, pihak museum pun tak segan untuk menolak kunjungan sejumlah sekolah yang hanya ingin melihat-lihat koleksi museum tanpa disertai paket pembelajaran. Maka tidak mengherankan jika banyak sekolah dasar utamanya yang mengadakan kunjungan belajar ke museum zoologi.
”Semua info yang berkaitan dengan anak didik (siswa sekolah) ada di museum ini, sehingga museum ini tempat yang paling tepat untuk menyampaikan  hal-hal yang terkait dengan pembelajaran” ucap wanita ramah tersebut. Selain itu, keberadaan museum zoologi sendiri amat ’menolong’ Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyampaikan pesan terkait lingkungan.  Dengan keberadaan museum zoologi, Balai Konservasi dapat menghemat dana  karena tidak harus turun langsung ke lapangan untuk mengkampanyekan visi serta misi mereka. Biasanya, penyampaian visi dan misi BKSDA melalui pemberian poster bertemakan lingkungan kepada sekolah-sekolah yang melakukan kunjungan ke museum.
Langkah BKSDA untuk mendukung museum zoologi sebagai science center pun tidak berhenti sampai disitu saja. BKSDA bahkan langsung mempercayakan museum zoologi untuk menampung satwa-satwa yang telah disita dari masyarakat yang tidak memiliki izin legal untuk kemudian dihibahkan kepada museum zoologi. Umumnya, satwa-satwa yang telah disita tersebut masih berupa satwa hidup maupun yang telah diawetkan.
Sedangkan terkait dengan upaya menjadikan museum zoologi sebagai science center, pihak museum sendiri menyadari bahwa gedung yang ditempati sekarang kurang mendukung untuk . Selain letak museum yang kurang strategis, gedung yang ditempati sekarang pun terbilang kecil untuk ukuran museum. Pihak museum sendiri sudah menyiapakn gedung baru yang lebih besar dimana  sekarang masih dalam tahap pembangunan. Gedung baru yang sedang direncanakan tersebut terletak sekitar 300 meter dari museum sekarang berada.
Selain itu, upaya lain yang dilakukan museum zoologi Vianney untuk makin memperkuat reputasi science center untuk scientists yakni dengan berusaha membangun eksistensi ke arah penelitian agar mendapat pengakuan sebagai science center di Indonesia ”Untuk konsentrasi kami saat ini memang lebih diarahkan seberapa besar yang bisa diberikan kepada negeri ini,” terang Denise. (dewi sartika)