Belajar Politik Lewat Game

Posted: Desember 28, 2010 in Edukasi

Kemajuan teknologi yang melanda sendi-sendi kehidupan ternyata berimbas pula terhadap berbagai jenis permainan(game). Namun selama ini anggapan yang lebih berkembang jika game hanya akan membuat orang malas melakukan aktivitas lain. Bahkan tak jarang menyebabkan seseorang kecanduan. Anggapan ini tentu saja tidak berlaku pada setiap orang. Walaupun secara umum game memang memiliki efek buruk namun tak sedikit pula ada nilai positif yang dapat diambil ketika bermain game. Aneka jenis game yang ada saat ini pun tidak lebih dari hasil evolusi teknologi. Salah satu orang yang mencoba menyikapi keberadaan game secara bijak adalah Ahmad Subhan. Hal ini tentu tidak mengherankan karena lajang yang akrab disapa Subhan ini merupakan pecinta game. “Pertama kali aku mengenal game itu ketika kelas 3 SD. Saat itu lagi marak dingdong,”tuturnya mengawali pembicaraan.

Seiring dengan evolusi teknologi game, Subhan pun mulai melirik dan mencoba jenis-jenis permainan lain yang lebih canggih. Iapun tertarik dengan Playstation (PS) yang saat itu sedang booming. Pemuda asal Malang Selatan ini mengaku pada awalnya ia tidak bisa memainkan PS. Namun berkat jasa baik teman-teman yang mengajarinya, akhirnya Subhan menguasai teknik bremain PS. Untuk jenis PS sendiri, lakik-laki berzodiak capricorn ini lebih sering menjajal jenis PS 1 dan PS 2. “Kalau PS 3 nggak pernah karena harganya mahal,” jelasnya. Bahkan dengan terus terang, ia mengaku sempat menjadi pecandu PS ketika SMA kelas 3. Saking cinta matinya terhadap PS, jelang ujian nasional keesokan harinya, ia lebih memilih ber-PS-an rian ketimbang belajar.

Namun kecintaan Subhan terhadap PS pun akhirnya harus terbagi. Sejak mengais rupiah sehari-hari sebagai teknisi disebuah toko komputer, iapun mulai bersentuhan dengan game online. Tepatnya pada tahun 2005 silam. Meskipun begitu, ketika diminta untuk memilih antara PS dan game online, pemuda yang selalu merayakan ultah pada 5 Januari ini lebih menjatuhkan hatinya ke PS. Menurut lulusan D1 administrasi ini, bermain PS itu lebih mengasyikkan karena ada partner tanding. Sebenarnya hal ini tidakk jauh berbeda dengan game online. Hanya saja, Subhan menjelaskan bahwa untuk game online jauh lebih rumit karena harus ada jaringan komputer yang sama untuk mencari partner tanding.

“Kalau main game online sendiri nggak asyik karena kurang greget. Apalagi kalau pas menang. Ada gregetnya tapi ya itu datar-datar aja,” jelasnya lebih rinci tentang kekurangan game online. Walaupun game sudah menjadi bagian dari hidupnya, namun kegemarannya yang satu ini masih bisa diatur dengan baik. Jika dulu semasa masih menjadi pecandu PS ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membunuh kejenuhan. Namun saat ini Subhan hanya akan bermain PS kalau ada waktu luang. Ia pun sempat bercerita tentang rekor terlamanya bermain PS saat masih menggandrungi permainan itu. “Ketika itu aku bermain PS mulai dari jam 9 malam sampai jam 4 pagi,” ucapnya dengan senyum terkulum.

Ketika ditanya mengenai anggaran khusus yang dikeluarkan untuk bermain game, anak ke 3 dari 5 bersaudara ini tidak menjawab dengan pasti. “Yang jelas, kalau main PS biasanya di rumah dan game online pas lagi kerja di toko,” jawabnya. Bagi pemuda yang pernah menjadi juara 3 Wushu Sanshou 2009 tingkat propinsi Jatim ini, game yang paling menyenangkan untuk dimainkan adalah game strategi. Maka tidak mengherankan jika Subhan mempunyai banyak game strategi yang menjadi favoritnya, seperti Empire Earth, Age of Empire, Red Alert, Winning Eleven dan Need for Speed. “Aku lebih suka game yang lebih kearah berpikir alias pake otak,” katanya mengemukakan alasan memilih game strategi. Setidaknya dimata lelaki penyuka ayam goreng ini game strategi memliki nilai lebih dibandingkan jenis game lainnya. Hal ini pulalah yang secara tidak langsung mempengaruhi profesinya sebagai teknisi. Terkadang ketika sedang mengutak-atik komputer, ia lebih sering berpikir terlebih dulu sebelum memutuskan mmeperbaiki hardisk komputer.

Bahkan Subhan pun tak segan untuk menganalogikan bermain game strategi ibarat membangun sebuah negara. Menurut pemuda yang sempat menimba ilmu di VEDC Malang ini, jika ingin belajar tentang politik cukup lewat game strategi. “Di game strategi itu seperti mendirikan negara. Mulai dari membangun perekonomian negara dengan mendirikan pasar dulu sampai mendirikan benteng sebagai pertahanan,” tukasnya. “Untuk itu kita dituntut agar berhati-hati dalam bertindak dan berrpikir dahulu sebelum memutuskan sesuatu,” lanjut aktivis Pemuda Muhammadiyah cabang Klojen ini. (dewi sartika)

 

 

 

Iklan

Industri Rumah Tangga Garmen “Mazidah”

Memutuskan berwiraswasta justru ketika sudah mendapatkan pekerjaan mapan. Hanya bermodalkan dua juta rupiah iapun mulai membangun usahanya. Menjalankan bisnis tanpa keahlian bidang yang digelutinya. Kini,omzet usahanya telah mencapai ratusan juta rupiah perbulan. Kesuksesan yang diraihnya tidak membuatnya lupa untuk saling berbagi dengan sesama.

Berangkat dari keinginan untuk memiliki perusahaan sendiri dan tidak ingin menjadi karyawan seterusnya maka terbersitlah impian Aris Mazidah untuk berwiraswasta. Padahal saat itu ia telah berstatus karyawan pada sebuah BUMN ternama. Namun hal ini ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk membuka usaha. Maka ditahun 1996 mulailah ia menangkap peluang bisnis yang ada. Dengan modal awal dua juta rupiah,pinjaman dari tetangga iapun mulai berjualan busana muslim.

“Saat itu memang hanya punya keinginan dan keyakinan saja yang penting usaha jalan dulu,”jelas lulusan teknik elektro ini. Hebatnya lagi,langkah Aris ini tergolong berani sebab ia tidak memiliki keahlian dibidang usaha yang dijalaninya. Saat memutuskan berjualan busana muslim,Aris pun mulai menawarkan barang dagangannya ke pasar-pasar. Menurut ibu dua anak ini usaha yang dijalaninya dulu bukannya tanpa hambatan. Iapu harus bersusah payah menagih uang atau barang kepada rekan-rekan usahanya. “Kalau nggak punya keyakinan dan konsisten,bisa-bisa usaha ini nggak kan jalan,”jelasnya. Tak jarang iapun mengalami kerugian akibat uang dagangannya tidak kembali. “Sudah hukumnnya ya kalau mau bisnis ya tentu mengalami kerugian,”jawab perempuan asli Lamongan ini saat ditanya tentang usahanya yang pernah merugi.

Kini,setelah hampir 15 tahun menekuni usahanya,bisnisnya pun makin berkembang. Aris kini telah mampu memproduksi barang sendiri dengan mengusung merk Mazidah. Rumahnya pun menjadi tempat produksi sekaligus gerai showroom produk-produk Mazidah. Produk Mazidah sendiri meliputi jilbab,busana muslim,mukena dan seragam sekolah. Sedangkan dalam proses produksinya Aris mempekerjakan sekitar 50 karyawan. Jumlah karyawan tersebut termasuk pekerja yang berada diluar rumahnya. Arispun menjelaskan hal ini untuk menyiasati keterbatasan tempat produksi. Biasanya karyawan luar tersebut adalah penjahit yang sudah berpengalaman yang dibina Aris sebagai mitra usaha jika dirinya menerima banyak pesanan.

Pemasaran produk Mazidah sendiri sudah menjangkau wilayah Jawa Timur . Tak hanya saja,produknya pun telah menjangkau Balikpapan,Bengkulu dan Pulau Lombok. Selain itu usahanya ini juga telah memiliki sekitar 50 agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Meskipun produknya telah menjangkau wilayah di Indonesia namun Aris mengaku tidak tertarik lagi untuk mengekspor produknya ke luar negeri. “Dulu pemasarannya pernah ke Malaysia dan Jerman. Cuma melihat pasar Indonesia dimana mayoritas penduduknya muslim jadi prioritas pemasaran dalam negeri saja,”terangnya.

Melihat pangsa pasar produk Mazidah yang cukup besar di Indonesia tersebut maka tidak mengherankan jika omzet usaha Aris pun mencapai Rp.100-400 juta perbulan. Kesuksesan yang diraihnya pun tidak membuat wanita berjilbab ini lupa diri. Ia bahkan turut mendirikan koperasi “Kuncup Melati” untuk menunjang kesejateraan para karyawan Mazidah. Melalui koperasi ini karyawan Aris bisa melakukan usaha simpan pinjam. (dewi sartika)

 

Tawarkan Wisata Alam dan Petualangan

Posted: Desember 28, 2010 in Wisata

Bumi Perkemahan Bedengan

Obyek wisata ini tergolong baru. Terletak di dataran tinggi,pengunjung akan merasakan udara segar dan dingin. Sejuh mata memandang,pengunjung akan dimanjakan pemandangan alam nan hijau. Termasuk saat melewati kebun jeruk yang terhanpar sepanjang jalan. Inilah bumi perkemahan Bedengan yang mengkombinasikan pemandangan dan petualangan.

Obyek Wisata Baru

Bedengan bisa dikatakan sebagai obyek wisata yang masih berusia muda. Baru dibuka pada tahun 2007 silam. Obyek wisata ini terletak di Dusun Selo kerto Desa Selorejo,Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Awalnya,tempat ini menjadi lahan pembibitan tanaman pohon yang biasa disebut bedeng yang dikelola Perhutani. Dari sinilah maka obyek wisata baru ini dinamakan Bedengan.

Perjalanan menuju obyek wisata Bedengan sendiri memakan waktu sekitar 45 menit dari Kota Malang. Begitu melakukan perjalanan ke tempat ini,pengunjung akan mendapati hamparan pemandangan hijau baik disisi kanan maupun kiri. Tidak hanya itu saja,pengunjung pun akan merasakan hawa sejuk begitu memasuki Desa Selorejo yang terletak didataran tinggi ini. Para pengunjung yang akan mendatangi Bedengan disarankan untuk menggunakan transportasi roda dua karena akses jalan yang kecil.

Selain itu,jalan agak terjal pun siap menyambut pengunjung. Saat memasuki sebuah gang kecil yang menjadi pintu utama Bedengan,pengunjung harus hati-hati karena jalan yang akan dilalui belum beraspal dan penuh dengan bebatuan. Apalagi jika habis turun hujan. Pintu masuk Bedengan sendiri hanya bisa dilalui motor dan bagi pengunjung yang membawa mobil maka harus jalan kaki dengan rute jalur menurun.

Memasuki obyek wisata Bedengan,pengunjung segera disambut pepohonan pinus yang banyak terdapat ditempat ini. Pengunjung tidak perlu untuk mengeluarkan uang untuk tiket masuk. Namun bagi pengunjung yang membawa motor akan dikenakan biaya parkir sebesar dua ribu rupiah. Status kepemilikan Bedengan sendiri dimiliki dan dikelola oleh Perhutani. Sedangkan untuk pengelolaan secara harian dibawah tanggung jawab Waliadi selaku anggota Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan (LKDPH). LDKPH sendiri merupakan lembaga yang berada di bawah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kabupaten Malang.

Menurut Waliadi,obyek wisata ini meliputi dua fungsi tempat. Hal ini bisa dimaklumi karena pada awalnya Bedengan ini adalah hutan kosong yang kemudian digunakan untuk bedeng pohon mahoni. “Untuk area kemah sendiri luasnya 2,5 hektar sedangkan untuk tempat bedeng sekitar 13,7 hektar,”jelas lelaki yang juga bekerja sebagai petani ini. Selama bertugas mengelola Bedengan,Waliadi dibantu sekitar 15 orang namun yang aktif hanya enam orang karena faktor usia.

Tempat Kemah dan Outbond

Sejak dibuka beberapa tahun silam,Bedengan telah banyak dikunjungi masyarakat. Umumnya para pengunjung berdatangan ke tempat ini pada Sabtu dan Minggu serta hari libur. Pengunjung yang datang pun lebih banyak berasal dari daerah Malang sendiri meski tak sedikit yang datang dari luar kota Malang seperti Surabaya. “Kalau pengunjung pada Sabtu dan Minggu bisa mencapai 70 orang tapi kalau hari-hari biasa kosong,”terang Waliadi.

Kondisi alam Bedengan yang hijau dan banyak dipenuhi pohon pinus serta dekat dengan sungai membuat banyak pengunjung memanfaatkannya sebagai tempat kemah dan outbond. Waliadi pun menjelaskan bagi para pengunjung yang akan berkemah maka sebelumnya harus meminta ijin terlebih dahulu. Selain itu akan dikenakan biaya Rp.2500 per orang. Tidak hanya itu saja,pengunjung yang akan berkemah pun diharuskan menaati peraturan untuk tidak merusak tanaman serta menjaga lingkungan. Jika ada kegiatan kemah maka Waliadi pun harus berjaga dimalam hari.

Bedengan memang representatif berkemah. Selain terdapat tanah lapang untuk kemah,Bedengan juga tak jauh dari sumber air berupa sungai. Tempat ini juga menyediakan sarana MCK meski dengan sarana terbatas. Pemandangan sekitarnya pun tak kalah menarik karena selain dikelilingi pepohonan,diseberang sungai juga terdapat banyak kebun jeruk yang makin menambah suasana asri Bedengan. Disamping itu juga ada beberapa gazebo yang dilengkapi tempat duduk.

Terkait manfaat Bedengan sendiri sebagai tempah kemah,diutarakan pula oleh Agung Wahyu Setiadi,salah seorang pengunjung. Mahasiswa Psikologi UMM bersama rekan-rekannya ini kebetulan sedang mengadakan acara outbond. ”Kami memilih Bedengan karena letaknya strategis dan tidak jauh dari kampus UMM. Selain itu juga tempatnya cocok untuk kegiatan outbond dan kemah,”ucapnya. Namun,anggota tim Bimbingan Konseling UMM ini juga menyayangkan digunakannya Bedengan oleh oknum masyarakat untuk berbuat hal yang tidak baik.

Keberadaan Bedengan sebagai obyek wisata yang kerapkali didatangi orang ternyata dimanfaatkan pula oleh warga sekitar. Salah satunya Tuni,warga Dusun Selokerto. “Saya mulai berjualan di Bedengan setelah Lebaran lalu,”tutur perempuan paruh baya ini. Warung Tuni terbilang sederhana dan menyediakan berbagai makanan kecil seperti gorengan dan snack serta minuman. Tentu saja keberadaan warung milik Tuni ini amat membantu para pengunjung saat perut tidak bisa diajak berkompromi lagi. (dewi sartika)

Inilah buku yang wajib dibaca oleh para pengajar dan orangtua. Buku yang karya Tetsuko Kuroyanagi ini merupakan sebuah kisah nyata yang dialami penulis ketika masih kecil. Menceritakan pengalaman penulis saat belajar di sekolah dasar. Melalui tokoh yang bernama Totto-chan yang tak lain panggilan kecil Tetsuko Kuroyanagi,penulis seakan ingin menyampaikan pesan bagaimana seharusnya seorang anak diperlakukan dengan baik. Buku ini dibuka dengan kisah Totto-chan yang dikeluarkan dari sekolah formalnya gara-gara sering berdiri didekat jendela kelas saat pelajaran berlangsung.

Ibu guru yang tak tahan dengan ulah Totto-chan pun akhirnya mengeluarkannya dari sekolah. Hebatnya lagi,ibu Totto-chan tidak memarahi gadis kecilnya itu dan memasukkannya ke sebuah sekolah informal. Di tempat barunya inilah Totto-chan akhirnya menemukan dunianya. Ia tidak lagi merasa terpenjara dengan sistem pendidikan yang membelenggu keingintahuannya sebagai anak kecil. Uniknya,sekolah baru Totto-chan yang bernama Tomoe Gakuen ini hanya terdiri dari beberapa gerbong kereta bekas yang dijadikan kelas. Tomoe Gakuen juga mendekatkan Totto-chan dengan alam serta berbagai karakter manusia.

Buku yang menjadi best seller di Jepang pada tahun 1982 ini merupakan nostalgia Tetsuko Kuroyanagi terhadap masa sekolahnya. Kumpulan cerita yang ada dibuku ini diperuntukkan untuk mengenang Sosaku Kobayashi,pendiri sekaligus kepala sekolah Tomoe Gakuen. Bagi Totto-chan sosok Mr. Kobayashi adalah sosok yang berani tampil beda dalam dunia pendidikan Jepang pada saat itu. Hal ini tercermin dari salah satu kisah dimana Totto-chan mencedok kotoran kakus demi mencari dompetnya yang terjatuh. Melihat hal tersebut,Mr. Kobayashi bukannya menawarkan bantuan tapi hanya bertanya apakah Totto-chan akan mengembalikan semua kotoran itu jika sudah selesai?. Selain itu,banyak pula dialog cerdas yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh yang ada dibuku ini.

Sekolah Tomoe Gakuen merupakan salah satu dari sedikit sekolah informal yang ada di Jepang ketika itu. Sistem pengajaran sekolah itu memang bisa dikatakan ‘revolusioner’ untuk ukuran pada masanya. Bagaimana tidak,seting kisah ini terjadi pada tahun 1930-an jelang Perang Dunia II. Sekali lagi,sosok Sosaku Kobayashi-lah yang berada dibelakangnya. Inti pembelajaran yang ingin ditanamkan Mr. Kobayashi adalah bahwa anak dilahirka dengan watak baik dan lingkunganlah yang berpengaruh terhadap anak tersebut. Sama dengan teori tabularasa-nya John Locke. Selain itu ,Mr. Kobayashi juga menginginkan agar setiap anak tumbuh menjadi seseorang dengan kepribadian yang khas.

Banyak pelajaran moral dan budi pekerti yang tersaji dalam buku ini. Tidak mengherankan jika pada akhirnya buku ini menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah Jepang. Melalui isi buku ini pula seoah-olah kita diajarkan untuk melihat sisi lain dari seorang anak kecil. Keingintahuan yang biasa dimiliki seorang anak hendaklah dapat disikapi secara bijak. Tidak perlu menjustifikasi anak itu nakal hanya karena banyak bertanya dan melakukan hal-hal yang aneh menurut ukuran orang dewasa. Pada akhirnya buku Totto-chan ini bisa memberikan pencerahan terhadap pembacanya seputar dunia anak dan pendidikannya. (dewi sartika)

Keajaiban Sedekah

Posted: Desember 22, 2010 in Resensi Buku

Sedekah bagi sebagian orang bisa jadi merupakan hal remeh. Mudah namun sulit untuk dilakukan. Bagaimana tidak,sedekah umumnya berkaitan dengan uang yakni menyisihkan uang yang dimiliki atau melakukan suatu hal dengan ikhlas. Maka tidak mengherankan jika pada akhirnya sedekah menjadi suatu hal yang berat tak terkecuali bagi orang muslim sendiri. Padahal sedekah merupakan bagian dari ajaran agama Islam sebagai penyempurna amal ibadah seorang muslim.

Terkait hal ini pula terbitlah buku Dahsyatnya Sedekah 2. Buku ini adalah lanjutan dari buku yang sebelumnya diterbitkan dengan judul serupa. Bahkan sebagian cerita dari buku tersebut telah diangkat ke layar televisi. Apresiasi masyarakat pun sangat baik sehingga menginspirasi munculnya Dahsyatnya Sedekah 2. Serupa dengan buku pertama,buku Dahsyatnya Sedekah jilid 2 ini juga masih menampilkan testimoni banyak orang terkait dengan amalan sedekah mereka. Awalnya memangnya sulit untuk melacak keberadaan para donatur ini tetapi berkat berbagai pendekatan yang dilakukan maka keberadaan para dermawan ini pun berhasil diketahui untuk berbagi kisah.

Buku ini memaparkan kisah sedekah berbagai golongan masyarakat mulai dari cleaning service bernama Warlim yang sukses menjadi sekretaris direktur sampai kisah selebritis,Rina Gunawan. Setidaknya ada sekitar 50 kisah mengharukan seputar pengalaman para donatur ketika bersedekah. Seperti kisah Muhammad Taufik mulai rutin mengeluarkan zakat 2,5 persen dari gajinya setelah mendengarkan petuah sang bunda untuk memperbanyak sedekah jika ingin kaya. Begitu juga pengalaman Dessi Zailina yang diingatkan sang anak agar tidak pelit bersedekah setelah musibah beruntun menghampirinya maupun cerita Zaky Husein seorang penyiar radio yang kebanjiran job lantaran sedekah.

Testimoni para donatur yang termuat dalam buku ini terkait dengan sedekah pun tidak selalu identik dengan uang. Namun,sedekah bisa berupa senyum yang biasa diterapkan Warlim yang berbuah kuliah gratis atau sikap yang ditunjukkan mantan Menteri Pertanian,Anton Aprianto yang dengan ikhlas berbagi pengetahuannya serta menyediakan kantor kerjanya di IPB untuk mahasiswanya yang beragama Katolik. Atau kisah Yanto Abdillah yang dengan tulus ikhlas merawat adiknya yang mengidap penyakit asma bronchitis. Intinya,sedekah tidak hanya tentang bagaimana dengan ikhlas mengeluarkan uang namun hal-hal terkecil jika dilakukan dengan ikhlas pun bisa menjadi sedekah.

Buku ini sebaiknya dibaca karena kandungan isinya yang menggugah nurani. Selain itu isi buku Dahsyatnya Sedekah 2 ini juga ringan sehingga bisa menjadi hiburan alternatif. Namun yang tak kalah penting dari buku ini adalah ajakan untuk mulai belajar bersedekah terutama bagi orang Islam. Dahsyatnya Sedekah 2 ini mencoba memotivasi pembaca agar tidak ragu-ragu ataupun berat hati saat akan bersedekah karena melalui kisah-kisah yang ditampilkan sesungguhnya banyak keajaiban dibalik sedekah.  (dewi sartika)

Menjelang pergantian tahun,Rumah Zakat Indonesia (RZI) memiliki agenda kegiatan yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu. Acara yang direncanakan pada 25 Desember nanti bertepatan dengan perayaan Natal ini merupakan agenda tahunan yang diusung RZI Kota Malang. Mengusung tema Happy Family,kegiatan ini akan diprioritaskan kepada keluarga miskin yang ada di sekitar Kota Malang. Menurut salah seorang panitia,Rudeq Mochammad Yanuar,peserta yang akan mengikuti acara ini merupakan warga yang telah dibina oleh RZI Kota Malang.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menandingi acara Natal dimana pihak gereja kerap mengundang warga miskin untuk mengikuti perayaan Natal dengan iming-iming pemberian bingkisan sembako,”jelas pria yang akrab disapa Rudeq ini. Rudeq pun menambahkan hal ini tentu saja merupakan pendangkalan akidah sehingga perlu dibuat acara tandingan agar warga tidak mengikuti kegiatan Natal. Selain itu acara Happy Family ini sekaligus sebagai ajang silaturahin antara pihak RZI dengan warga binaan serta kalangan donatur.

Agenda kegiatan Happy Family ini sendiri pertama kali dilaksanakan tahun lalu dengan peserta sebanyak 30 orang dengan lokasi ditempat wisata Bedengan. Lelaki kelahiran Malang inipun mengakui jika acara tahun lalu serba mendadak sehingga persiapannya kurang optimal. “Untuk Happy Family 25 Desember nanti rencananya bertempat di Joglo Perpustakaan Universitas Malang (UM) dan berlangung dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore,”ucapnya. Sedangkan untuk target peserta sendiri,Rudeq menargetkan sekitar 150 orang yang berasal dari keluarga-keluarga binaan RZI Kota Malang.

Peserta kegiatan ini masih berasal dari daerah Kota Malang sendiri yang meliputi kelurahan Sukun,Bandulan dan Lowokwaru. Menurut Rudeq,nantinya para peserta tersebut akan dijemput oleh panitia yang memang menyediakan transportasi. Ketika ditanya mengenai konsep acara untuk 25 Desember nanti,Rudeq pun menjelaskan jika nantinya tiap peserta akan dibagi kedalam beberapa kelompok yaitu kelompok bapak,ibu dan anak. “Nantinya akan ada training motivasi dan perlombaan untuk para peserta,”jelas pria berkacamata ini. (dewi sartika)

Hidayah bisa menghampiri setiap orang tanpa pandang bulu. Setidaknya itupula yang terjadi pada Dyah Elyta Kristiani. Lahir dari pasangan orangtua berbeda keyakinan,ibu Kristen Protestan dan ayah Islam abangan,membuat gadis yang akrab disapa Dyah ini dibesarkan dalam tradisi Kristen. Apalagi ia hidup ditengah-tengah keluarga besar sang ibu sedangkan keluarganya sendiri tergolong broken home (berantakan). Selama hampir 17 tahun lamanya Dyah pun hidup dengan nilai-nilai kristiani meskipun saat menginjak kelas satu SMP ia telah memeluk Islam.

Ketertarikan gadis kelahiran Blitar ini sendiri cukup menarik. Ia mengaku tertarik dengan agama Islam justru karena faktor keluarga besarnya yang over protective terhadap dirinya. “Saat kecil,aku tidak diperbolehkan bermain dengan teman-teman sebayaku yang beragama Islam,”tuturnya. Padahal ketika itu,diakui oleh Dyah,ia sangat ingin seperti teman-temannya yanng pada saat Ramadhan sering mengenakan mukena dan melakukan takbiran menjelang Lebaran. Larangan bergaul oleh keluarga besarnya inilah yang menyebabkan Dyah makin tertarik kepada Islam.

Maka,begitu ia bersitegang dengan keluarganya karena tidak tahan dengan sikap kasar dan keras sang nenek Dyah pun melarikan diri. Ketika itu ia berumur kurang lebih 13 tahun. Begitu kabur dari rumah,gadis yang merayakan ulangtahunnya setiap 18 Oktober ini akhirnya bertemu dengan sang ayah dan tinggal di rumah neneknya (ibu dari sang ayah). Selama menetap bersama nenek dari pihak ayah inilah,Dyah mengambil keputusan untuk memeluk agama sang ayah,Islam. Meskipun demikian,bukan berarti hubungan Dyah dengan sang ibu terputus.

“Karena kondisi ekonomi ayahku yang tidak menentu,aku sempat menghubungi ibu untuk membiayai kehidupanku terutama untuk sekolah SMU-ku. Apalagi kedua adik kembarku juga diasuh oleh nenekku dari pihak ayah,”ucap putri pasangan Suyoto-Eny Suprihatin ini. Alhasil,ibunya pun bersedia membiayai Dyah namun dengan syarat ia kembali menjadi penganut Kristen Protestan. Tanpa pikir panjang gadis penyuka cokelat ini pun menyanggupi persyaratan tersebut. Akhirnya,Dyah pun menjadi seorang kristiani.

“Meski aku sudah menganut Islam tapi akupun tidak sholat dan mengaji makanya aku mengiyakan saja untuk kembali ke agama Kristen Protestan,”jelasnya mengemukakan alasan mengapa ia balik kucing ke agama sang ibu. Kembali menjadi kristiani buka berarti Dyah menjadi penganut yang taat,ia bahkan jarang ke gereja. Anehnya,meskipun sudah berpindah keyakinan,di sekolahnya sulung dari tiga bersaudara ini masih tercatat memeluk Islam. “Kalau disekolah agamaku Islam tapi saat di rumah aku Kristen. Pada saat itu agamaku memang nggak jelas,”tambahnya dengan mimik serius.

Meskipun demikian,di sekolah Dyah sering bergaul dengan teman-temannya yang berjilbab. Bahkan ia juga telah mengenal dan sering membaca majalah Islam remaja,Annida. Kakak dari Yenny dan Yessy Kornitasari inipun mengakui jika ia merasa nyaman jika berada diantara teman-teman perempuannya yang berjilbab besar. Pergaulan Dyah dengan perempuan berjilbab pun masih berlanjut ketika memasuki bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Uniknya,motivasinya untuk lolos PTN pun lebih didasari atas keengganannya untuk dikuliahkan di sekolah perawat Kristen di Jakarta.

“Waktu itu yang terbersit dibenakku adalah gimana agar aku bisa masuk PTN dan Alhamdulillah aku lolos,”kenang gadis yang hobi membaca ini. Saat kuliah inilah,Dyah bertemu dengan teman-teman barunya yang berjilbab besar sehingga ia pun kembali mempelajari Islam secara benar seperti sholat dan mengaji. Bahkan Dyah juga bergabung dengan organisasi rohis dikampusnya dan mulai mengenakan jilbab sejak 1 Oktober 2007 silam. Walaupun begitu,bukan berarti kehidupan Dyah yang baru ini tanpa hambatan. Tak jarang ia harus menggelabui ibu dan ayah tirinya untuk menyembunyikan keislamannya.

Puncaknya saat ia berlibur ke Jakarta ketika liburan semester. “Waktu di Jakarta,aku terpaksa melepas jilbabku padahal saat itu aku sudah berjilbab besar dan aku juga ke gereja,”ujar gadis yang memiliki adik tiri ini. Hatinya pun berkecamuk,iapun sering menangis karena tidak mampu membela keyakinan barunya. Bahkan diakui juga oleh diakui juga oleh Dyah kalau dirinya akan dibaptis. Namun,semua itu dapat dilalui Dyah sampai akhirnya ia mengikrarkan keislamannya kepada kedua orangtuanya.

Momen itu bertepatan ketika ia menjalani puasa Ramadhan ditahun 2008. Dyah pun bercerita saat itu ia sedang ditelpon ayah tirinya dan sang ayah menanyakan apakah dirinya sudah makan siang atau belum. “Nggak tahu kenapa tapi yang jelas pas itu aku mempunyai keberanian untuk menjawab sedang berpuasa. Seketika itu jugaayah tiriku marah besar,”tegas mantan aktivis kampus ini. Akibat dari pengakuannya tersebut,kedua orangtuanya pun tidak mau membiayai kehidupannya lagi.

“Aku sempat stress dan sakit hati karena ibuku tidak mau mengakuiku sebagai anaknya,”tambahnya. Tak hanya itu saja,akibat dibiayai lagi Dyahpun mau tak mau harus menghidupi dirinya sendirinya. Iapun bekerja serabutan sekedar untuk menyambung hidup. Selain itu,ia juga berusaha mencari beasiswa agar tetap bisa berkuliah. “Aku pernah jualan kue pia dan bekerja di laundry,kadang-kadang juga jaga stan di pameran,”ucap perempuan yang pernah menjadi relawan sosial ini.

Berbagai kejadian dan cobaan berat yang pernah menimpanya pun tidak pernah disesali oleh Dyah. Ia tidak pernah menyesal dengan keputusannya untuk menjadi seorang muslimah karena ia termasuk tipe orang yang berani ambil resiko. Kini,Dyah juga mulai membangun lagi komunikasi dengan sang ibu. “Aku tidak mau jadi anak durhaka,”tegas gadis yang mengaku telah memiliki nama Islam,Husni Zakiah ini. Iapun berharap dikemudian hari sang ibu bisa mendapat hidayah dengan memeluk Islam seperti dirinya saat ini.(dewi sartika)